alexametrics

Lebah Tentara, Lembah Harapan?

17 Mei 2020, 23:41:02 WIB

”SEKARANG celengan rumputmu sudah berapa, Mbing?”

”Lahannya sudah seratus tumbak, Su.”

Setiap pekan, kambing yang sedang diajak asu jagongan itu celengan pakannya naik seratus tumbak.

”Wah, celenganmu banyak, Mbing. Untuk apa?”

”Untuk masa depan, Su, agar sesuai dengan koridor hukum dan sistem perundang-undangan yang berlaku.”

Hal serupa selalu dinyatakan kambing kepada asu, sebagaimana juga selalu ditanyakan oleh bahan tongseng yang menggonggong itu kepada bahan tongseng yang mengembik ini.

Asu girang bukan kepalang. Ekornya megal-megol setiap didengarnya quote ”koridor hukum dan sistem perundang-undangan yang berlaku”. Setiap mendengar kambing bergaya pejabat, tentu setelah intro mengembik panjang dahulu, membuat asu nyaman. Ia serasa sudah bertatap muka langsung dengan banyak pejabat.

Itulah cita-cita asu sejak balita: Bertemu banyak pejabat. Pasangan Raja-Ratu Singa Sastro-Jendro pernah bermimpi. Mereka akan memiliki rakyat yang cita-citanya bukan menormalkan harga cabai sehingga petani cabai berhenti menjerit. Bukan pula membatalkan kenaikan iuran asuransi kesehatan. Cita-citanya cuma bertemu seabrek pejabat. Titik. Sekarang impian Sastro-Jendro nyata sudah.

Suatu sore, semasih sang asu lagi balita-balitanya, ratu singa mengepuk-puknya, ”Su, Su. Nanti kalau sudah gede, coba kamu rayu bunglon-bunglon. Kamu rayu burung-burung beo. Bikin konsumsi cabai mereka meningkat. Harga cabai pasti terkatrol lagi. Petani semringah.”

Oooo… Asu kira cuma burung beo yang makan cabai dan nggak pernah kepedasan karena ndak punya sensor kritikan pedas di otaknya. Bunglon doyan juga?

”Rayulah mereka, Su. Janganlah bunglon-bunglon dan burung-burung beo itu cuma makan di resto-resto mahal yang pedasnya bukan dari cabai, tapi dari wasabi, dari paprika… Pakai duit negara pula.”

Ah, tidak mempan. Imbauan agar asu punya cita-cita lain juga tak membuahkan hasil. Raja singa meminta asu untuk melakukan pendekatan persuasif terhadap unta, kelelawar, sapi, babi, dan simpanse. Jangan sampai mereka tak sengaja menularkan penyakit. Hanya dengan mengurangi jumlah makhluk yang sakit, premi asuransi kesehatan bisa ditekan.

Menghindarkan makhluk dari berbuat tidak sengaja? Yok opo carane, Cuuuk? Bercita-cita jadi penganjur banyak pihak agar menghindari perbuatan tak sengaja? Itu sama mustahilnya dengan membiarkan kafilah menggonggong agar asu tetap berlalu.

Maka, asu tetap berkukuh pada cita-citanya semenjak balita. Anehnya, siang itu, ketika biru langit di atas mereka dimeriahkan oleh merah-putih gantole dan paralayang, asu bukan saja tertarik mendengar gaya omongan pejabat yang dilontarkan oleh kambing. Perhatiannya tersedot ke matanya. Mata hewan korban ini sungguh-sungguh tak sadar bahwa ia sedang berbohong dengan ucapannya.

Biasanya, renung asu, setiap mendengar kalimat ”sesuai dengan koridor hukum dan sistem perundang-undangan yang berlaku” terkesan bahwa penuturnya sadar kalau dirinya sedang berbohong. Siang ini, kambing menyangka dirinya sungguh-sungguh, total tak sadar bahwa sungguhan ”tapi bo’ooooooong”!

Asu tak sendirian. Lama-lama para lebah juga mulai mencermati kambing itu. Makhluk yang tidak sadar bahwa sedang berbohong lebih berbahaya daripada yang sadar. Yang sadar akan kepalsuan dirinya ketika ngomong ndakik-ndakik bisa diinsafkan. Kalau yang tak sadar?

Untuk itu, lebah-lebah merajut sarang-sarang pengintaian di seputar lahan rumput kambing yang kini sudah makin meluas dengan merobohkan pohon-pohon hutan atas bantuan gajah-gajah bayaran, luasnya melebihi lapangan golf terbesar.

Yang paling proaktif lebah Jatai. Lebah ini dikenal memiliki andalan lebah tentara.

Asu lega, ”Pemilik lahan ini biar diinsafkan oleh tentara…eh, lebah tentara.” (*)

*) Sujiwo Tejo tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Editor : Ilham Safutra



Close Ads