alexametrics

Diplomasi Tingkat Kobra

15 Desember 2019, 20:26:51 WIB

SETELAH menyeberangi sungai sangat lebar itu, ia menjadi pribadi yang berbeda. Sebelumnya, ia termasuk ular yang ditakuti. Sudah banyak komunitas pencinta hewan yang membujuk kita agar tak gentar ular. Mata ular itu rabun, kok, saudara-saudara. Ular tak nampak kita dengan jelas, saudara-saudara. Masih saja setiap melihatnya bulu roma para saudara itu lebih tegak ketimbang harga diri mereka sebagai bangsa Indonesia.

’’Tak melihat kita dengan jelas? O, itu malah berbahaya,” seru seorang warga. Andai saja penguasa melihat rakyat dengan jelas, bahwa adanya rakyat merupakan salah satu syarat mutlak berdirinya negara, mereka tidak akan sewenang-wenang kepada wong cilik.

”Andai-andaimu itu kurang pas, luuuur…” sela yang lain. ”Ular tak jelas melihat kita, tapi tak semena-mena. Mereka tak menyerang manusia kalau manusia tak menyerangnya duluan.”

Akhirnya, baik yang pro maupun kontra, semua menjadi sama saja ketika sudah benar-benar face-to-face dengan ular tersebut. Ketika sudah bertatap muka dengan uang dan kekuasaan, eh, dengan ular dan bisanya, kubu satu maupun kubu dua sama-sama berdiri bulu romanya. Menjadi ’’Koalisi Berdiri Bulu Romaku” kalau dalam istilah Raja-Ratu Singa Sastro-Jendro.

Sepurna penyeberangan bersejarah, orang-orang dewasa bukan saja tak takut kepada ular itu. Anak-anak kecil mereka bahkan bermain melilit-lilitkannya ke lengan, paha, dan badan mereka seraya mengelus-elus kepalanya.

Pak RT mewawancarai ular, kenapa teman-temannya kini banyak yang merebut permukiman penduduk di berbagai kota. Ada yang di dalam kardus, di bawah tumpukan genting, ada pula yang di paralon-paralon.

Beuuuh! Melalui penerjemah anak-anak kecil yang menari-nari riang gembira, ular menjelaskan bahwa kobra-kobra itu tidak merebut permukiman manusia.

”Kami ini jenis makhluk yang tak pernah tinggal dan bermukim di wilayah manusia. Kami selalu hanya mampir seperti Si Buta dari Gua Hantu maupun Panji Tengkorak. Asal suhunya cocok, kami mampir di situ. Berkembang biak, terus mengembara lagi.”

Seketika kobra mengangkat kepala tinggi-tinggi. Kepalanya memipih, pertanda bahagia dan cocok sekali dengan isi terjemahan itu. Walau sedikit protes, ”Tadi di sela-sela terjemahan itu, kenapa kalian menari-nari sambil menyanyikan ular naga panjangnya bukan kepalang, menjalar-jalar selalu kian kemari, umpan yang lezat, itu yang dicari, kini dianya yang di belakang… Waktu menjelaskan ke Pak RT tadi, aku kan tidak sambil menyanyi apa-apa..?”

Anak-anak kecil cekikikan. ”Masa improvisasi saja tidak boleh, Lar, Lar…” mereka masih terus menari, cekikikan, dan mengitik-itik bagianleher ular… Yaitu seluruh tubuh suatu hewan yang sosoknya leher semua itu.

”Kami tak akan mengganggu permukiman manusia. Kami tahu diri. Kedatangan kami hanya untuk dimengerti anak-anak. Bukan untuk dihafalkan. Di buku-buku sekolah, eksistensi kami hanya untuk dihafalkan agar dapat sepeda,” lanjut anak-anak menerjemahkan bahasa ular.

”Hmmm… Begini, Pak RT. Kencing manusia barangkali seperti kencing anjing yang menjadi penanda batas wilayah kekuasaan anjing tersebut. Kami akui, mata dan telinga kami sangat terbatas. Kami menandai sekitar dengan detektor lidah. Juluran lidah kami, yang bertugas mendeteksi apa-apa melalui suhunya, tak kuasa mendeteksi kencing manusia. Tapi, lidah kami sanggup mendeteksi wilayah yang sudah tercemar oleh suhu duit. Begitu kami rasakan panasnya, kami tahu itu wilayah manusia. Tenang, kami tak akan mengganggu.”

Tenang? Walau penyeberangan telah mengubah kepribadian ular itu, Pak RT masih bertanya-tanya, beliau sedang bijak atau sedang mengancam?

*Sujiwo Tejo tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Editor : Ilham Safutra


Close Ads