alexametrics

Korupsi ala Kadal dan Buaya

Oleh: Sujiwo Tejo *)
15 September 2019, 16:48:37 WIB

BERKAT ketegasan Raja Singa Sastro beserta ratu singanya, Jendro, korupsi di rimba raya terdefinisi dengan pasti menjadi dua bilahan. Bilah pertama, memangsa yang bukan haknya. Itu! Apa yang tak berhak dimangsa? Seluruh flora dan fauna yang sedang berduaan memadu kasih. Bilah kedua, memangsa melebihi kebutuhan sesaat pemangsaan.

Mari kita balik dengan terlebih dahulu membahas bilah kedua. Nanti di pengujung baru kita bahas bilah pertama. Melanggar aturan? Tidak! Ini malah sesuai dengan aturan dan perundang-undangan zaman sekarang yang serba kebolak-balik.

Tentang bilah kedua, raja dan ratu singa tegas menandaskan, hanya yang secara natural dibekali kemampuan untuk menyimpan makananlah yang diperkenankan memangsa melebihi kebutuhan sesaat pemangsaan. Buaya dan onta contohnya.

Buaya bebas mencaplok badogan apa saja secara jor-joran. Mereka tak akan dikenai pasal korupsi yang sudah direvisi. Pasalnya, kelebihan makanan toh buaya simpan sebagai lemak di ekornya. Onta sami mawon. Beliau bisa menyimpan kelebihan makanan itu sebagai lemak di punuknya, yang nanti akan diubahnya menjadi air guna menghindari dehidrasi di padang pasir.

’’Bagaimana dengan beruang?’’ tanya seorang kadal kepada kancil, menteri informasi alam rimba.

’’O iya. Beruang juga diizinkan melahap biji-bijian melampaui kebutuhannya sesaat ia makan. Raja singa bersabda, di musim gugur beruang bisa menyimpan kelebihan kacang pinus sebagai gajih. Ini demi energi bagi tidur panjangnya di musim berikutnya, musim dingin.’’

Sebelum kadal menampangkan wajah iri hati, kancil cepat-cepat mengimbuhkan bahwa raja singa menetapkan syarat ekstra. Beruang boleh berlebih-lebihan ngemil asal jangan mentang-mentang punya uang. Umpamanya si empunya uang, beruang itu, main suap manusia agar dapat surplus biji-bijian. Ini sudah masuk ranah korupsi.

’’Kalau macan pigimane? Butuhnya cuma jeroan. Tapi, yang dia bunuh kerbau utuh. Sisanya, waduh, melimpah sekali. Padahal mama selalu berwanti-wanti, awas, makan jangan tak dihabiskan, nanti ayamnya mati,’’ seorang kupu-kupu merah-putih berkomentar. ’’Kita akan segera memasuki masa akhir zaman jika ayam-ayam pada wafat.’’

Menurut kancil, kupu-kupu merah-putih tak usah khawatir. Daging segar kerbau sisa-sisa macan itu toh akan dikais-kais oleh klub hiena. Bilapun masih tersisa dan menjadi bangkai, burung nasar dari komisi pemberantasan kebangkaian akan mengurusnya.

Ah, bukan raja dan ratu singa bila merancang aturan tanpa peduli umpan balik dari rakyatnya. Aturan soal korupsi di antaranya. Revisi undang-undang korupsi yang terkesan dibikin kejar tayang bagai sinetron pun, masih dibentangnya bagi aspirasi rakyat untuk dikoreksi.

Masukan dari kupu-kupu merah-putih yang dibisikkan oleh kancil membuat raja dan ratu singa berpikir ulang. Keduanya teringat ajaran bahwa bagi pembuat hukum, hukum harus lebih keras dibanding bagi pihak lain. Demi tak menimbulkan sangkaan tebang pilih, Raja Singa Sastro bersabda, ’’Untuk fraksi harimau, santapan boleh tersisa. Tapi untuk fraksiku sendiri, singa, makan bersisa adalah tindak pidana korupsi!’’

Di tengah-tengah sidang kabinet terbatas itu berlompatan masuklah tupai-tupai pembawa warta. Dari pucuk-pucuk pohon kelapa raksasa yang setinggi menara pemancar televisi, mereka menyaksikan alam manusia mengibarkan bendera setengah tiang.

’’Manusia sedang berkabung karena korupsi, Sang Raja. Para pemimpin memakan hati rakyat yang sedang jatuh cinta. Bukankah ini korupsi bilah pertama?’’

Raja singa sungkan menyakiti tupai-tupai. Tak beliau koreksi laporan itu walau tahu dari investigasi kadal bahwa bendera setengah tiang selama tiga hari kemarin bukanlah perkabungan merah-putih terhadap korupsi.


*) Sujiwo Tejo tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Editor : Dhimas Ginanjar


Close Ads