alexametrics

Tak Sengaja di Mata Hukum Rimba

14 Juni 2020, 22:03:14 WIB

SEISI rimba menertawai komodo. Gegaranya, siraman air liurnya membutakan antelop. Kok cuma dituntut setahun bui? Komodo itu menjulur-julurkan lidah panjangnya. Pertanda sedang dicari-carinya jawaban, di mana kejanggalan tuntutannya? Andai tuntutan ini rok, masyarakat rimba terpingkal-pingkal lantaran menganggap rok itu terlalu mini.

Serigala bergulung-gulung. Ketawanya tak henti-henti. Katanya, ”Di masyarakat manusia, bila tuntutan jaksa sangat rendah dan netizen menertawakannya, hakim akan mengimbau terdakwa menuntut dirinya sendiri.”

”Heuheuheu …. Lama tuntutan buinya seberapa, Gal?” tanya para trenggiling yang ujuk-ujuk hadir merubung gulungan serigala itu. ”Gal” panggilan mereka untuk serigala, sohib yang memanggil trenggiling ”Gil”.

”Hmmm… Jumlah tahun tuntutan buinya minimal sejumlah netizen yang menertawakan jaksa tersebut, Gil….”

”Heuheuheu ….Lucu, Gal! Terus?”

”Terus, sepanjang tahun-tahun itu pula jaksa tersebut dihukum tertawa 24 per hari…”

”Heuheuheu… Di mana, Gal?”

”Di etalase mal. Break hanya pas tidur. Saat tidur di etalase itu si jaksa boleh tidak tertawa, tetapi wajib memasang masker tertawa.”

”Heuheuheu….”

”Heuheuheu….”

Serigala makin ngakak guling-guling disertai kawanannya yang tetiba nimbrung untuk turut berpesta guling-guling. Para trenggiling hanya terkekeh-kekeh. Hewan bersisik pemakan semut itu tak ikutan bergulung-gulung. Kenapa? Bagi mereka, menggulung diri menjadi bola untuk berlindung dari pemangsa itu normal. Kini eranya sudah new normal, Cuk!

Pada era sebelum kenormalan baru, awal kemarau itu, komodo sebenarnya cuma mau main-main menggigit antelop. Tiktokan. Antelop juga awalnya kegelian bahagia bersama angin timur laut. Lalu, modyar, TAK SENGAJA air liur komodo nyiperat ke mata antelop.

Tuntutan jerapah sebagai penuntut umum sudah terukur dan tertakar. Rekam jejak kehati-hatiannya pun teruji sudah. Dengan lehernya yang panjang, suara dari dalam tubuhnya menempuh perjalanan panjang saringan dan kehati-hatian sebelum akhirnya bablas dari mulutnya. Itu kenapa peribahasa memilih ”mulutmu harimaumu”, bukan ”mulutmu jerapahmu”.

”Air liur komodo … mengandung banyak bakteri … mematikan … Itu memang sudah bawaan komodo,” alasan jerapah penuh kehati-hatian. ”Air liurnya… bukan …dipersiapkan …untuk membutakan mata antelop. Lain halnya kalau … kalau komodo membawa… membawa air … air keras. Berarti, sudah ada perencanaan. Perbuatannya … membutakan antelop .. tak bisa dikategorikan sebagai … perbuatan … TAK SENGAJA… Percayalah, bahwa di mata hukum rimba, semua hewan sama.”

Seluruh rakyat pasangan Raja-Ratu Singa Sastro-Jendro itu manggut-manggut. Hanya kelinci yang melakukan percobaan untuk tak sependapat.

”Hukum rimba, yang di matanya tampak semua hewan sama, itu melihat dengan mata siapa, ya?’ renung kelinci sambil melompat-lompat. Telinganya bergerak selalu.

Coba direnungnya, kalau penglihatan hukum rimba itu menggunakan mata elang, seluruh hewan tampak mendua. Menggunakan mata ular yang oval dan tak bisa berkedip, lain lagi. Seluruh hewan baru tampak jelas kalau sudah bergerak. Di mata anjing, hewan-hewan tampak suram. Di mata burung hantu yang mampu menangkap cahaya ultraviolet, hewan-hewan bengkong-bengkong. Di mata ikan …

Ah, soal ikan dan matanya biar diurus oleh Bu Susi saja, yang pekan ini memohon-mohon kepada Pak Jokowi agar mencegah kembalinya kapal-kapal asing pencuri ikan di perairan kita.

”Hati-hati …diteliti dulu kapal-kapal …asing …itu,” wewanti jerapah. ”…siapa tahu ..mereka kembali lagi …disebabkan …TAK SENGAJA.”

”Setuju banget, Cuuuk!” komodo menulis TAK SENGAJA dengan lidah bercabangnya di udara. Huruf-hurufnya tampak dobel dan tampak lipat dobel di mata hukum, eh, di mata elang. (*)


*) Sujiwo Tejo tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Ilham Safutra



Close Ads