alexametrics

Gajah Laut Menagih Janji

*) Sujiwo Tejo
13 Oktober 2019, 18:48:24 WIB

BERKURANGNYA sampah plastik menuai buah. Para hewan pada hepi. Saking hepinya, jarang-jarang gajah laut tertatih-tatih hingga ke pelosok belantara. Biasanya, hewan berbelalai yang jalannya tertatih-tatih dengan siripnya itu cuma thunak-thunuk seputar pesisir.

”Sampah sedotan dan bungkus plastik berkurang. Laut kami jadi lebih segar. Kami jadi sehat,” lapornya sesampai di singgasana Raja Singa Sastro. Raja mengaum tanda bahagia.

Permaisuri, Ratu Singa Jendro, bertanya tentang jenis-jenis plastik apakah yang masih menyampah. Gajah laut menyebut sampah bekas operasi plastik. Ratu yang sekujur tubuhnya masih alami tak tersentuh operasi plastik itu bingung dengan maksud gajah laut.

”Apakah bedah plastik benar-benar menggunakan plastik dan menghasilkan sampah plastik?”

Ratu dengan bangga memandangi tubuh alaminya sendiri. Pandangan ini kemudian diiringi pandangan suaminya. Dari ujung cakar, payudara, hingga ujung hidung. ”Barangkali gajah laut cuma ingin berkelakar,” bisik raja.

Ratu pun cekikikan. Gantian gajah laut yang kebingungan. Adakah yang lucu dari laporannya barusan?

Tak ingin mengulur-ulur suasana kikuk, gajah laut langsung ke pokok masalah mengapa dia datang menghadap raja. Ia menagih janji agar populasinya diatur dengan semacam peraturan pemerintah pengganti undang-undang alias perppu. Selama ini perkembangbiakan gajah laut terlalu liberal, terlalu bebas, terlalu diserahkan kepada kuasa alam.

”Kalian menghendaki perkembangan yang tidak alami? Kalian menghendaki semacam operasi plastik dalam berkembang biak?” raja membuat gado-gado antara bertanya dan bergurau.

Gajah laut tak menangkap ajakan bergurau. Wajahnya tetap kenceng terhadap inti masalah. Cuma sesekali ia belai-belai wajah kenceng-nya dengan belalainya sehingga tampak sedikit woles.

”Keluarga kami hanya mengutamakan anak laki-laki, Raja,” keluhnya. ”Kenapa begitu? Begini, Ratu: Satu lelaki bisa mengawini berapa pun perempuan. Dengan satu anak lelaki, kami bisa bikin dinasti. Kami bisa dapat banyak cucu dari seabrek perempuan. Dengan satu anak perempuan, cucu kami cuma sedikit. Ya, garis keturunan kami cuma dari satu anak perempuan itu.”

”Terus?” raja penasaran.

”Terus ya, setiap rumah tangga hanya peduli untuk membesarkan anak lelaki. Anak perempuan mati. Masa bodoh. Lama-lama terjadi surplus lelaki. Kami hanya berserah diri pada proses alam. Pasrah agar jumlah laki-perempuan tidak jomplang lagi, agar menjadi seimbang lagi.”

Sang ratu cepat tanggap, ”Jadi, kalian menginginkan kami membuat peraturan agar kaum ibu kalian sama sayangnya, ya ke anak laki, ya ke anak .”

Gajah laut mengangguk. ”Tolong keluarkanlah perppu, please. Tolong aturlah agar kalau kami punya makanan, kaum ibu membaginya adil, ya ke anak laki, ya ke anak cewek. Jangan sampai gadis-gadis kami kurang nutrisi, lalu mati.”

Raja singa dan ratu singa tercenung. Sementara jamur-jamur yang menjadi ragam hias sekitar istana tersenyum menguping keluh kesah gajah laut itu yang disebarkan oleh jamur kuping. Makhluk yang lebih primitif ini merasa bersyukur tak kenal jenis kelamin. Mereka tak kenal jantan dan betina. Semua sama.

Hingga menjelang senja, perppu yang dijanjikan tak kunjung dikeluarkan oleh raja singa. Gajah laut menyangka raja singa takut. Takut nanti hukum alam akan marah bila ia intervensi dengan aturan-aturan bikinan manusia. Sebagaimana, konon, badan alami manusia akan jadi aneh kalau dioperasi plastik.

Gajah laut tak tahu, sejatinya raja singa tak takut. Raja hanya masih berpikir keras bagaimana meningkatkan pengamanan para pejabat negara yang akhir-akhir ini terancam, tanpa mengurangi keakraban punggawa dengan rakyatnya. (*)


*) Sujiwo Tejo tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Editor : Dhimas Ginanjar


Close Ads