alexametrics

Jaka Sembung Mulut & Mata

Oleh SUJIWO TEJO
13 September 2020, 19:10:07 WIB

Ya. Orang-orang murahan ibaratnya akan langsung mengambil ikannya. Mereka akan sekonyong koder mendongkel berlian di mata relief besar wajah ayu tebing kapur itu.

HARGA berlian Your Eyes alias Permata Muaaaatamu itu konon bakal sanggup membereskan kian menumpuknya utang-utang suatu negara.

Pendekar Sastrajendra tidak. Pendekar itu, aku, hanya akan peduli kailnya. Akan kusesap rahasia ilmu di baliknya. Tetap akan kuabadikan berlian itu di sana, bersinggasana di wajah ayu yang mengenangkanku pada perawan tingting bakul kedai.

Wah, ceileeee…narsis banget diriku ini.

Ancene!

Keledai berambut keemasan bernama Parthai yang bersemedi dan membimbingku itu merapal mantra. Menjelmalah huruf-huruf dari bulu mata lentik relief tersebut. Diketahui bernama huruf-huruf Wah-Thah-Thih-Thah. Aksara yang sedang berlaku saat itu, saat sebelum ada Hanacaraka, Candi Borobudur belum ada, Gunung Merapi pun tampaknya belum eksis.

”Wahai, Kisanak, Pendekar Sastrajendra, benarlah engkau lahir dari masa depan ke masa lampau. Tapi bukan dari masa ketika Pak Jokowi sudah digantikan berkali-kali sampai presiden Nusantara ke-99. Masamu lahir jauh di depannya lagi. Kasak-kusuk di kedai perawan tingting itu kurang akurat.”

Demikian antara lain huruf-huruf Wah-Thah-Thih-Thah merangkai diri membentuk kalimat-kalimat dalam bahasa yang hanya dimengerti oleh huruf-huruf itu sendiri. Keledai berpanggilan Thai terus berkomat-kamit. Ia menambahkan rapalan mantranya agar aku melenyap dan menjelma huruf-huruf itu sendiri. Kini pahamlah aku dengan bahasa rahasia intern antarhuruf-huruf itu sendiri.

”Sejak saat ini bicaralah dengan mata, Kisanak. Jangan melulu dengan mulut,” demikian berulang-ulang wasiat huruf-huruf itu dalam bahasa aneh hasil persekongkolan rahasia antarhuruf-huruf itu sendiri. Di sana aku sudah menjadi bagian yang sah di dalamnya. Peranku menjadi huruf terakhir ke-99.

”Kisanak, di bumi ini kau sudah dan sedang menyaksikan hancurnya kedatuan-kedatuan alias kedaton yang kelak bakal disebut negara. Kalau negara itu tidak hancur, minimal sedang menunjukkan tanda-tanda ke arah sana. Kenapa? Karena para pemimpinnya hanya berbicara dengan mulut. Kandungan matanya ’Jaka Sembung Bawa Golok’ dengan kandungan mulutnya. Gak sinkron blas! Matanya ngomong Z, padahal mulutnya ngomong A. Sebut saja itu ngomyang tanpa tanda mata!”

Tentu, siang itu kami tidak menyebut A dan Z. Siang ketika daun-daun kering beterbangan itu 26 alfabet Latin dari A sampai Z belum lahir. Yang kami isyaratkan aksara awal dan akhir Wah-Thah-Thih-Thah.

”Matanya ngomong Jan, padahal mulutnya ngomong Cuk,” begitu persisnya sinyalan kami secara rahasia. Tapi, kalian pasti ndlahom, Jan dan Cuk ini huruf apaan? Aksaranya jelangkung? Maklum, kalian sudah hidup di zaman A sampai Z, Alif sampai huruf yang ke-30 Ya, dan sebagainya.

***

Di bawah tebing berelief perempuan ayu, aku terbangun di pangkuan keledai yang bersila dalam sikap semedi ketika ia mengepuk-pukku. ”Mengapa kamu menggugahku, Thai?”

”Maaf, Pendekar. Aku tahu, tidak baik membangunkan orang mimpi. Tapi, aku merasa lebih baik membuatmu terbangun dan tetap punya mimpi.”

”Gitu, dong,” jawabku. Eh, waktu sebelum ada Merapi itu belum ada ”dong”, ding. Kujawab, ”Bagus, Thai.”

Aku bukan saja terbangun. Pas dengan berakhirnya kalimat Thai, aku sudah melenting ke pulau lain sembari berpekik ”Bagus, Thai!”. Seluruh mimpi tak kuimpikan lagi. Seluruh mimpi kubuat menjadi nyata. Aku ajak orang-orang di pulau baru itu, yang terlalu terpana melihat sumur kering dan hutan-hutan meranggas, untuk juga melihat para pemimpinnya. Apakah mata para pemimpin mereka sudah berbicara?

Di pulau lain lagi yang kuhinggapi, aku persuasi warga untuk tak cuma mengelus dada melihat lumbung-lumbung pangan beringsut kosong. Mereka juga kumohon mulai melihat mata para pemimpinnya. Apakah mata para pemimpin mereka sudah berbicara?

Banyak nusa yang penghuninya langsung sepakat denganku. Mereka serta-merta mengalihkan perhatiannya pada mata para pemimpin. Sudahkah mata para petinggi mereka berkata? Atau sudah, tapi mata itu bertandas tentang bangkai, padahal mulutnya berbusa-busa tentang ikan segar dan gula-gula.

***

Pendekar sebagaimana pengamat di masa yang akan datang. Mereka terbagi-bagi menjadi tiga gerombolan. Ada gerombolan pendekar pemihak penguasa. Ada komplotan pendekar pemihak rakyat. Ada juga satu–dua pendekar yang memihak kebenaran. Menurut perawan tingting bakul kedai, aku termasuk yang segelintir terakhir itu.

Ciyeeeeee….

Adatnya, hanya satu–dua nusa yang sebagian pendekarnya menolak mimpi-mimpiku. Nah, di nusa terakhir ini malah seluruh pendekar menolakku. Baik pendekar dari golongan putih, golongan hitam, maupun golongan netral pemihak kebenaran. Mereka membonyokkan, bahkan mencabut nyawa wong cilik yang nekat mengecek apakah mata para pemimpinnya sudah tak ”Jaka Sembung” lagi dengan omongannya.

Cacah mereka 1.000 jiwa. Serentak menantangku semua bertarung. Seluruhnya! Serentak pula kuladeni jiwa-jiwa itu dengan Jurus Berlian Your Eyes. Aku meliuk-liuk menyerupai 99 huruf rahasia Wah-Thah-Thih-Thah dari Jan sampai Cuk. Esoknya, rakyat belum sempat mencermati mata para pemimpinnya. Maklum, mereka masih banyak job, bergotong royong memakamkan 1.000 bangkai para pendekar. (*)

*Sujiwo Tejo tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra




Close Ads