alexametrics

Kupu-Kupu dan Riak Telaga

12 Januari 2020, 20:03:10 WIB

RAJA Singa Sastro tak habis pikir. Kupu-kupu ini lama sekali bermukim di ekornya. Sejak lembaga antirasuah versi baru melakukan OTT dengan nilai korupsi triliunan … eh, cuma di bawah semiliar ding … sampai hari ini, kupu-kupu yang sayapnya mencakup seluruh warna partai itu masih bermukim.

”Ia baru akan terbang kalau harapan alam semesta sudah terkabul …” seorang kelelawar yang kesiangan terbang memecah kesunyian telaga.

Seluruh hewan pembantu penyerbukan bunga meresponsnya, ibarat sunrise merespons para penunggunya yang ngebela-belain bangun pagi untuk penantian itu. ”Harapan alam semesta? ” respons serangga, kadal, monyet, lemur, burung kolibri, dan lain-lain termasuk hewan berpikir bersebutan manusia.

Kelelawar kesiangan itu buru-buru melenyapkan diri ke gua, tapi sempat menjawab, ”Harapan agar lembaga antirasuah bernyali menangani korupsi yang nilainya triliunan. Korupsi ecek-ecek biar ditangani anak-anak PAUD saja.”

Telaga cekikikan. Ia meriak-riakkan permukaan airnya bagai pundak orang yang kegelian menonton ragam reaksi para pemimpin bangsa atas masuknya nelayan-nelayan Tiongkok ke Natuna.

Bukan kupu-kupu kalau bisa diterka, termasuk oleh kelelawar. Hanya satu yang bisa dipastikan darinya. Rumah yang dikunjungi kupu-kupu pertanda akan disambangi tamu pembawa berkah.

Ia sudah terbang mengitari raja singa, walau lembaga antirasuah belum menangani korupsi besar.

”Daulat Sang Raja. Sudah lama saya ingin mengungkapkan ini. Saya menderita atas pandangan negatif warga rimba. Kata mereka, kami para kekupu tak pernah berniat berbuat jasa dalam penyerbukan bunga. Kami mendatangi bunga hanya demi ego kami sendiri, yaitu mengisap nektarnya ..”

”Hmmm … Terus?” Raja Singa Sastro kini mulai paham mengapa kupu-kupu berwarna seluruh partai ini betah bertengger di ekornya. Ia menunggu saat yang tepat untuk curhat. Itulah saat Ratu Singa Jendro sudah habis rasa cemburunya.

”Terus, yaaa .. Kata mereka, dengan kami datang demi ego sendiri untuk menyesap nektar bunga, banyak serbuk sari bunga yang menempel di kaki-kaki kami. Ketika kami hinggap lagi ke bunga lain untuk menyeruput nektar atau sari bunganya, sperma berupa serbuk-serbuk sari di kaki-kaki kami masuk ke putik sari bunga itu…”

”Putik sari?” Ratu Singa Jendro nyeletuk.

”Putik sari itu alat kelamin betina, maaf, seperti anunya sang ratu.”

Ratu singa tersipu-sipu. Kupu-kupu melanjutkan, ”Serbuk sari atau benang sari itu kemudian dari putik sari masuk ke bakal biji. Terjadilah pembuahan…dan kelak menjadi buah-buah makanan manusia.”

Hmmm … Raja dan ratu singa menyuruh kupu-kupu itu duduk. Kupu-kupu bingung. Seumur-umur dia tidak tahu caranya duduk. Ketika bertapa menjadi kepompong, keinginan mereka hanya hijrah dari ulat rakus pemakan daun dan berjalan lamban menjadi makhluk yang tidak merusak lingkungan dan ”berjalan” secara terbang. Oleh ajaran nenek moyangnya, pertapaan kupu-kupu tak dimaksud untuk hijrah dari ulat menjadi bisa duduk seperti anggota DPR dan lain-lain.

”Gini, lho, ya, hai kupu-kupu,” sabda raja singa setelah berdehem. ”Semua makhluk penyerbuk termasuk kelelawar mendatangi bunga tidak berniat tulus. Semua juga datang untuk egonya masing-masing. Manusia membantu penyerbukan buah naga dan vanili juga demi bisnis udelnya sendiri. Kok kamu pusing?”

”Dan benarkah kamu seorang kupu-kupu sejati?” celetuk ratu singa. ”Kalau sejati, kenapa yang kemudian datang ke negeri ini bukan tamu pembawa B3 (berkah, bantuan, dan bisyaroh), tapi tamu berupa sampah-sampah B3 (bahan beracun dan berbahaya) dari negara-negara makmur?”

*) Sujiwo Tejo tinggal di Twitter

@sudjiwotedjo dan Instagram

@president_jancukers

Editor : Ilham Safutra


Close Ads