alexametrics

Pertapaan Kaum Demonstran

Oleh SUJIWO TEJO
11 Oktober 2020, 17:14:58 WIB

Puncak gunung salju. Masih menunggu kepulangan Pendekar Langlang Jagad sembari kurawat dan kubesarkan putri ajaibnya, Perawan Tingting Bakul Kedai.

BOCAH ini masih pulas dengan kepala di haribaanku. Angan-anganku sendiri melayang jauh ke suatu kadatuan yang kelak akan disebut negara.

Pernah kutemu di cikal negara itu seorang perawan tingting bakul kedai. Senyumnya. Lenggang dan lambai lengannya saat melangkah. Oooooh… Belum lagi caranya menyibak helai-helai rambut yang jatuh di keningnya. Dialah yang pertama memanggil lelaki bangkotan yaitu aku dengan julukan ”Pendekar Sastrajendra”.

Ia menggelung rambut panjangnya dan menyisakan anak-anak rambut menjurai-jurai di leher jenjangnya warna pualam, saat memanggilku begitu. Kejadiannya setelah gerombolan jagabaya gadungan yang merangkap pemungut pajak semi pemeras pada jungkir balik dan kutumpas.

Pantaskah aku menikahi perawan dengan usia terpaut lebih dari 30 tahunan di bawahku? Pantaskah ia dipinang lelaki yang, selain uzur, pasti juga akan bablas mengembara selepas malam pertama, sebelum matahari ketinggalan pagi. O, apa kabar dia malam ini, malam saat hanya mampu kurasakan kepala bocah Tingting yang menggigil kedinginan di pangkuanku sembari tengadah kusaksikan bintang-bintang berekor menari-nari di angkasa dengan hangatnya?

*

Tingting lain, selain Tingting yang kepalanya sedang kupangku itu, pernah terlibat dalam topo pepe berjamaah. Itu unjuk rasa zaman baheula, berjemur matahari dengan cara telentang bagai deretan ikan-ikan pindang. Tubuhnya nyaris hitam legam gegara Batara Surya. Sudah hitam legam, punggungnya belang-belang merah pula seperti purna kerokan gegara dirotan dalam pembubaran oleh jagabaya.

Tingting menyatu dengan duyunan para pertapa pepe yang keberatan atas peresmian arca baru oleh penguasa. Bercokol di antara pohon beringin dan lapangan banteng, arca baru terakota tentang sosok buruh itu murung wajahnya. Murungnya 1.000 kali lipat kemurungan arca buruh versi lama. Sudah murung, muram pula!

Anehnya, setelah penguasa meresmikan arca teratoka buruh berwajah melas itu, badan dan anggota tubuh si arca belum bisa diungkap, masih ditabiri anyaman daun kelapa.

”Arca ini belum final, maaf,” ujar salah seorang pematung. ”Arca tentang mahasiswa demonstran ini masih kami rapikan dulu bagian perutnya, pikirannya, cita-citanya …dan selangkangannya.”

”Lha? Kalau memang belum rampung, kenapa penguasa buru-buru meresmikan arca baru buruh ini?” para pertapa pepe seperti lantang meneriakkannya justru dalam bisu tafakur pertapaannya.

Dalam hening pertapaan pepe berjamaah siang itu, salah seorang pertapa justru seperti keras-keras bertanya, ”Hai! Para pematung. Kamu yang bercaping jerami bilang, ini patung mahasiswa demonstran. Kamu yang bercaping anyaman bambu berkata, ini patung demonstran pelajar. Kamu yang berkain kawung yakin sekali, ini patung buruh demonstran. Kamu yang berkalung sarung ngotot bahwa ini patung seorang demonstran Kpopers (kadatuan opo-opo enaknya rasah ngurus, fandom yang berubah rupa jadi kekuatan politik)!!!”

Para pematung celingukan. Pertanda mereka sebenarnya tidak paham sama sekali tentang patung apa yang sejatinya sedang mereka garap maraton dan tergesa-gesa itu.

Hanya penguasa dan kawula yang tahu itu arca buruh. Bedanya, bagi penguasa, patung kemerahan terakota itu menunjukkan wajah buruh pekerja keras dan penuh optimisme. Bagi kawula, wajah buruh pada arca itu wajah yang lebih menyedihkan dibanding pengangguran.

Penguasakah atau kawulakah yang benar? Susah menilai karya seni. Setiap pihak mempunyai perasaan sendiri-sendiri buat menilai. Dan dua-duanya sah.

Hmmm… Bagaimana kalau kita stop dulu bahasan ihwal kesenian yang susah dinilai itu? Di tanah yang selalu didengung dan didongengkan dalam ninabobo masa kanakku, lebih asyik kita ngobrol saja ilmu pengetahuan yang lebih bisa diukur dengan bilangan-bilangan.

*

Kelak, di zamanmu, akan ada Bu Guru fisika. Beliau akan bilang, kecepatan cahaya yang berlambang C itu 300-an ribu km/detik. Artinya, kalau jarakmu kepadaku sejauh 300-an kali Anyer–Panarukan, jurusku detik ini baru akan dapat kaulihat sedetik berikutnya.

Zamanku di pra-Gunung Merapi itu 700 ribuan tahun lalu sebelum zamanmu. Artinya, dengan setahun sekitar 32 juta detik, bila saat itu kau sedang ngopi sambil meneleskop bumi dari suatu kecamatan di galaksi yang jaraknya 6,7-an juta triliun km, kau sedang melihat secara live perbuatanku saat ini. Angka yang jauh lebih besar dari utang negaramu itu berasal dari taksiran 300-an ribu km/detik dikalikan 700-an ribu dikalikan 32-an juta detik.

Yang sampai kepadamu via teleskop itu baru gambar jurus-jurusku dengan jurus-jurus ribuan jagabaya di antara hening para pertapa pepe lho ya. Belum suara kami. Sebab, kecepatan suara jauh di bawah C, cuma 343 meter/detik. Apa sejatinya suara yang kami lontar-lontarkan di antara simpang siur jurus-jurus silatku dan ribuan jagabaya pembubar demonstran pepe, kamu belum dengar.

Nggak papa. Toh yang butuh suara cuma penyelenggara pilkada dan konco-konconya. Aku yakin kau tak butuh suara kami. Kau hanya butuh hati kami. (*)


SUJIWO TEJO,tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra




Close Ads