alexametrics

Banteng, Garuda, dan Kekunangnya

11 Agustus 2019, 13:12:22 WIB

PEKAN itu para banteng berduyun-duyun ke Bali. Di pucuk pohon cempaka kutilang bernyanyi. Liriknya, banteng-banteng pergi ke Pulau Dewata demi kongres.

Kongres apaan? Bukan urusan kita. Urusan kita kali ini tentang kelelawar vampir yang tak bersedia dipanggil Sastro, raja singa. Berani-beraninya dia menolak keinginan Lion King? Kancil, utusan Sastro, sampai cuma plonga-plongo.

Alasan vampir masuk akal, jauh lebih masuk akal ketimbang alasan impor ayam Brasil. ”Lion King itu hanya menguasai wilayah yang tersentuh cahaya. Kami hidup di wilayah tanpa cahaya. Kami melihat dengan pantulan gelombang suara,” dasar pikiran vampir. ”Pencerahan mazhab mana bahwa kami harus memenuhi panggilan si Sastro ke istananya?”

Apalagi, pas mati listrik seperti yang dunia alami saat itu, menurut vampir, wilayah kegelapan lebih mengglobal ketimbang wilayah yang tersinari. Teritorial vampir dengan begitu lebih luas pula dibanding teritorial kaum singa.

”Masak bupati memanggil presiden?” tambah nokturnal peminum darah itu. Masih ingin ditambahkannya tawa. Urung. Tahu dirilah si vampir bahwa style giginya mengerikan. Beliau tak ingin kancil ketakutan, terbirit-birit pulang lalu baper ini-itu ke raja singa.

Iya kalau laporan kancil masih mencerminkan fakta bak muka telaga. Misalnya, gigi kelelawar vampir yang depan-atasnya cuma dua bagai cepot itu mengerikan. Apalagi ditambah taring di bagian gerahamnya. Hiiiiiii…. Bayangkan bila laporan itu kancil hoakskan, piye jal: Vampir tidak saja menolak panggilan ke istana. Dia bahkan memamerkan ”burung kakaktua, hinggap di jendela, nenek sudah tua, giginya tinggal dua”.

Sastro si raja singa pasti menduga betapa vampir, sudah menolak undangan, masih juga sempat-sempatnya bergembira dengan unjuk gigi kemampuannya menyanyi. Ini penistaan kuadrat.

Apalagi, undangan ini bukan seperti kalau KPK memanggil calon tersangka lain korupsi impor bawang putih. Mangkir dari jenis undangan ndak enak begitu masih wajar.

Lho! Undangan raja singa ini bukan untuk pemidanaan. Justru untuk memuliakan vampir. Sastro ingin mengangkatnya sebagai menteri keuangan. Menurut laporan, walau buruk rupa, vampir adalah binatang yang tak kenal riba. Hari ini pinjam darah 2 mililiter ke temennya, kelak bayarnya ya pas 2 mililiter itu.

”Raja, bagaimana kalau vampir ini kita kerjain saja,” usul Jendro, ratu singa.

”Kita makan?”

”No! Ideologi kita ideologi nonrakus. Kita tak memakan apa-apa. Kita hanya memutar siklus. Seperti Lion King pernah bersabda. Kambing makan rumput. Kita makan kambing. Kita mati, menyatu dengan tanah, menumbuhkan rumput. Vampir ini tak makan rumput.”

”Jadi, Ratu, sebaiknya vampir ini kita kerjain dengan cara apa?”

”Kita perintahkan belut listrik untuk menyengatnya, Paduka!”

Kancil keceplosan tanpa permisi. Menurutnya, ide puan ratu bisa saja tak efektif. Tak ada jaminan listrik akan menyala saat belut listrik bekerja untuk menyengat vampir.

”Bagaimana kalau listrik mati lagi seperti sebelum ini?” Kancil sembari mengendus-endus. ”Belut listrik akan malu. Iya kalau cuma malu. Kalau sampai mengundurkan diri seperti menteri energi di luar Nusantara? Kita akan kehilangan belut listrik, Paduka.”

Usul Kancil, vampir dari dunia kegelapan itu dibikin lumpuh saja. Caranya, satu ruangkan dengan 1.000 kunang-kunang. Mampus dia! Siang kena cahaya matahari. Malam kena cahaya kunang-kunang. Kapokmu!

Ratu menyela kancil, ”Bagaimana kalau listrik padam?”

”Tak masalah, Puan. Kunang-kunang punya genset sendiri. Pertemuan banteng-banteng di Bali, yang juga disambangi garuda, pasti juga pakai cahaya kunang-kunang, Puan.”

*Sujiwo Tejo tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads