alexametrics

Monyet, Kisah dan Datanya

10 Mei 2020, 17:33:56 WIB

ADA yang bersedia menerka seperti apa saat penyu penggigit berjumpa dengan penyu lain yang ukuran tubuhnya cuma sepertiga dirinya itu, penyu berperut busuk?

’’Mereka akan saling membenarkan tradisi pihak lain,” monyet tak menerka-nerka lagi. Ia memastikan. Mulutnya yang tetap yakin memamah kacang curian menambah kesan yakin di matanya.

’’Penyu penggigit akan meniru polah tingkah penyu berperut busuk yang mainstream. Muncul musuh, tenggelamkan kepalanya ke cangkang. Penyu berperut busuk sebaliknya. Susah sekarang menangkap penyu berbau keparat itu.”

’’Tak tahan baunya ya kamu, Nyet. Hmm.. Iya, sih, aku setuju,” rusa terkekeh-kekeh. Tanduk panjangnya yang bercabang-cabang seperti bank tampak manggut-manggut. ’’Lendir yang ngeces dari perut penyu itu baunya memang keparat.”

’’Bukan soal baunya, Kisanak. Aku tahan. Kalau tidak, mending kutangkep saja penyu berperut busuk piaraan. Soal manusia pemiliknya mah gampang diatasi. Yang dipiara kalau ketangkep perutnya nggak macem-macem. Beda dengan yang masih berkeliaran di alam. Kalau ketangkep, perutnya pakai meler lendir segala. Duh, baunya ampun-ampunan.”

Menurut monyet, ia tak bisa menangkap penyu berperut busuk gegara sekarang kalau ditangkap malah menjulurkan kepalanya dan menggigit. Persis penyu penggigit.

Rusa menginterupsi cerita monyet. Ia mendongak. Tanduk panjangnya yang tadi mantuk-mantuk kini unjungnya bertahan nyaris menyentuh tanah, ’’Tadi kamu bilang, manusia gampang diatasi. Maksudmu?”

’’Ya, maksudku, manusia gampang diakali. Jelas-jelas pandemi wabah ini soal darurat kesehatan, ternyata bisa dijadikan darurat ekonomi. Makanya, pergerakan mereka mulai dilonggarkan lagi. Ini supaya dengkur ekonomi menggeliat lagi untuk mengatasi darurat ekonomi.”

’’Lho, katanya tadi darurat kesehatan. Kok jadi darurat ekonomi? Akibat pelonggaran pergerakan, ekonomi membaik. Tapi, pandemi wabah jadi makin hebat, bagaimana dengan kesehatan mereka?”

’’Mereka akan tetap sehat karena darurat ekonomi teratasi. Sehat atau tidaknya makhluk bergantung pada senyum. Senyum bergantung pada duit. Inilah akal-akalan manusia. Dan inilah kenapa aku tadi bilang bahwa manusia gampang diakali.”

Monyet meneruskan kisah yang barusan terpenggal oleh pertanyaan rusa…Dikisahkan, para nelayan memergoki begitu banyak penyu penggigit. Tindak tanduknya sudah seperti penyu berperut busuk. Setiap kepergok nelayan, kepala penyu dengan moncong seperti kait pancing itu malah nyungsep ke dalam cangkangnya.

Ada mahasiswi KKN yang sampai tak percaya bahwa itu benar-benar penyu penggigit atau yang juga kondang sebagai penyu penyambar. Matanya yang cantik dan beralis alami itu bertanya-tanya kepada cowok yang dicintainya di lokasi, anak kepala kampung nelayan, ’’Kenapa penyu-penyu penggigit tak menyambarku ketika kujulurkan tanganku ke mereka, Ronaldo?”

’’Jadi, menurut kalian, penyu begitu jenazahnya dibuang saja ke laut atau dilarung dengan izin keluarga?” tanya Raja Singa Sastro di balairung. Mereka mumet.

ILUSTRASI (BUDIONO/JAWA POS)

’’Asalkan kalau ketemu musuh konsisten menggigit, sih, tidak apa-apa. Atau konsisten mengangslupkan kepala,” Ratu Singa Jendro nyeletuk. ’’Yang aku cenut-cenut kalau pagi mereka terbawa tabiat orang lain, lalu sorenya balik ke aslinya. Bilang berperang melawan virus, lalu bilang berdamai … ini yang bikin mules. Bawa penyu-penyu itu kemari!!!”

Tak lama kemudian, monyet sudah muncul kembali membawa penyu-penyu. ’’Silakan, Puan Ratu,” hatur monyet bangga.

’’Hmm … ruwet, ruwet, ruwet! Ini bukan penyu, Nyet. Ini kura-kura!” ketus ratu. Pantesan bantuan sosialku ke kura-kura dulu nggak nyampe ke kura-kura. Pikir ratu.

Raja singa menetralkan suasana. ’’Dinda, jangan marah. Masih untung monyet ini tak membawa bungkusan nasi yang isinya sampah.” (*)


*) Sujiwo Tejo tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

 

Editor : Ilham Safutra



Close Ads