alexametrics

Kura-Kura Tidak Tahu Tempe

Oleh SUJIWO TEJO
10 Januari 2021, 22:06:25 WIB

Setiap manusia membayangkan menikahi jodohnya. Begitulah manusia selalu punya bayangan. Tapi, Tuhan punya kenyataan.

TINGTING Jahe tadinya tak punya bayangan menikahi Pendekar Sastrajendra. Perawan tingting bakul kedai yang ditemukan sang pendekar saat tak sengaja melindunginya dari palakan pajak tahu tempe oknum-oknum jagabaya itu sudah kandas bayangannya. Kandas sudah sejak sang pendekar pamit melanjutkan pengembaraannya. Pamitannya persis di sebelah rumpun bambu kuning pusara Pendekar Perempuan Paling Dikagumi, perempuan bersenjata seruling batang kangkung di stagen yang dikalahkan Pendekar Sastrajendra, pencemburu hubungan Tingting-Sastra yang sesuai wasiatnya sebelum duel dikubur di pekarangan depan gubuk Tingting Jahe.

Kandaslah bertahun-tahun bayangan pernikahan itu hingga seekor bebek misterius yang bisa tertatih-tatih membebek di atas awan membuatnya berjumpa kembali dengan sang pendekar entah di Tibet atau bukan ini.

Apa yang membuat Tingting Jahe mencintainya? Karena tenaga dalam sang pendekar yang sanggup membuat buraian kedelai-kedelai tempe oleh pedang para oknum jagabaya jadi sekeras baja, lalu menebar bagai mata jala-jala, lalu menancapi mata serta seluruh tubuh para oknum jagabaya sehingga mereka bergelimpangan?

Tidak!

Cinta bukanlah pengadilan. Di dalam cinta, engkau tak perlu membuktikan apa-apa. Hanya dibutuhkan saling percaya. Tingting tak perlu bukti bahwa Sastrajendra sanggup mengalahkan puluhan oknum jagabaya pemeras pajak tahu tempe Tingting Jahe yang berpedang dan berperisai lengkap itu hanya dengan butiran-butiran kedelai yang memelor baja.

Para pemburu-pengumpul yang hidup jauh sebelum zaman mereka kaum lelakinya berburu singa, badak, ular, dan lain-lain semata-mata demi kewajiban mengupayakan makan bagi koloninya. Sama sekali tak untuk membuktikan kejantanan dan sejenisnya bagi para perempuan atau inang anak-anak mereka. Pun tak bagi gadis-gadis calon induk anak-anak mereka. Begitu juga Sastrajendra saat menghadapi pedang dan perisai yang mengepungnya dan hendak menyergapnya dengan tandas dan serentak.

Bila ada lelaki yang tak mau turut berburu lantaran masih takut hal-hal buas rimba raya, lelaki-lelaki pemburu-pengumpul seniornya tak mencemoohnya. Mereka tak mengompori adrenalin lelaki jelang akil balig itu buat memaksakan diri turut berburu agar para perawan basah dan ingin dilamar. Mereka membiarkan calon pejantan tangguh ini sampai secara alami suatu hari punya inisiatif diri turut mengadu nasib berburu banteng, termasuk antelop yang tanduknya bisa setajam pisau itu.

***

Pertarungan Pendekar Sastrajendra dengan keroyokan puluhan oknum jagabaya pemeras wong cilik dahulu disaksikan Tingting Jahe secara terperangah. Tak henti-henti bibirnya, yang ranum dan penuh dan berwarna daging bawah kulit manggis, melongo. Terus menganga ia sembari dilindunginya tahu tempenya di nampan dengan tangkup anyaman rotan. Tapi, tak setetes liur pun ia merasa bahwa pendekar tua bertopi koboi ala masa depan yaitu zaman sekarang ini punya niat membuktikan buat hatinya betapa ia sakti dan layak dipersuami.

”Rasanya saat ini seperti hidup kembali di depan mata dan telingaku cerita nenek tentang pemuda baru akil balig yang tiba-tiba berani berburu beruang kutub setelah lama jadi penakut dalam tempurung,” getar hati Tingting Jahe di kedainya yang amburadul, koyak moyak lantaran jurus-jurus silat para oknum jagabaya meleset dari Sastrajendra.

”Duh, Pendekar Tua, kulihat dan kudengar engkau bagai anak muda itu. Ia bergulat dengan beruang di atas lempengan es, lalu lempeng itu pecah hanyut ke samudra dan mencair… Dia tak ingin membuktikan keberaniannya kepada para perempuan. Dia hanya bergulat, lalu gugur tenggelam. Bedanya, duh, Pendekar Tua, engkau bertarung dan tak tenggelam. Engkau unggul.”

***

Ini sudah satu setengah purnama Tingting Jahe bobok sendirian di entah Tibet entah bukan ini. Beberapa depa di sisinya Pendekar Sastrajendra pulas dalam-dalam, memeluk putri angkatnya yang masih kanak-kanak, Tingting Bocah. Tingting Jahe tidur memeluk semacam yarsagumba, tanaman yang tumbuh di Tibet, flora yang dipercaya berasal dari tanah dan ulat serta diyakini sebagai obat kuat mujarab.

Menatap langit malam pegunungan berhalimun, mencuat lagi stori perempuan berpinggang aduhai ini dengan Pendekar Sastrajendra. Beberapa pekan setelah itu warga kalut dengan selentingan bahwa di puncak gunung sebelah ada Sembilan Dewa. Peran mereka bagai wabah. Rakyat panik bukan kepalang. Tak ada yang berani membuktikannya. Pendekar Sastrajendra berani. Ia daki gunung itu 40 hari 40 malam.

Ternyata di pucuk gunung hanya ada mutan. Tubuhnya kura-kura. Mukanya Petruk sekali. Ia terbang dengan sekerat tahu di tapak kaki-kaki kirinya, sekerat tempe di tapak-tapak yang kanan.

”Pendekar, aku hanya mohon harga kedelai jangan naik-naik lagi. Nanti ukuran tahu dan tempe makin mengecil. Nanti aku tidak bisa terbang lagi untuk melindungi seantero jagat dari serangan pandemi,” ujar si ”Petruk”.

Tingting Jahe masih membayangkan stori itu sembari kadang menerawang kenyataan dari Tuhan: pendekar tua tidur mendekap Tingting Bocah, putri angkatnya yang sudah disusupi arwah Pendekar Perempuan Paling Dikagumi. (*)

SUJIWO TEJO, tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra


Close Ads