alexametrics

Semut Ireng Anak-Anak Singa

9 Februari 2020, 20:46:00 WIB

MEREKA menyerupai semut. Pagi itu singa-singa berarak-arakan satu lini. Menyerupai umumnya makhluk yang kerja samanya dijadikan suri teladan dalam Kitab Suci ini, begitu pun perilaku raja singa beserta segenap jajarannya itu. Mereka juga salam-salaman saban ketemu iring-iringan singa lain yang dibikin contraflow oleh polisi lalu lintas rimba raya.

’’Mengapa engkau selalu membalas jabatan mereka?” Ratu Singa Jendro kepo ke yayangnya, Raja Singa Sastro.

”Ooo, Diajeng.. Bukan saja kubalas. Bahkan, setelahnya aku berkenan berdiri. Kulekapkan kedua tanganku ke hati, seperti orang-orang Nusantara zaman baheula.. Heuhueheu..”

”Iya, iya. Sudah kusaksikannya sendiri, Kakanda. Cuma, koreksi: itu bukan tangan… itu kaki depan, Kakanda… Dan Kakanda belum menjawab pertanyaanku tadi.”

Raja singa tak menggubris. Matanya cuma berkaca-kaca. Menteri Informasi Rimba Raya Kancil yang turut dalam pawai itu membisiki ratu, ”Tadi malam saya menginfokan kepada Yang Mulia. Info tentang Ketua DPR Amrik Nancy Pelosi. Emak-emak ini geregetan menyobek-nyobek salinan pidato Donald Trump setelah presiden Amrik itu tak menyambut uluran tangannya untuk berjabatan.”

Bibir ratu singa membentuk tanda ”Ooooo”. Ekspresi matanya plong. ”Kakanda,” sapanya sambil menjawil perut sang raja. ”Singa-singa barisan contraflow itu bukan wakil rakyat seperti Nancy. Mereka cuma rakyat biasa.”

”Justru itu, Diajeng. Nancy itu cuma wakil rakyat. Wakil rakyat saja perlu kita hormati. Apalagi ketuanya, yaitu rakyat biasa…”

”Ndak gitu juga kaleee, wahai Lion King!” teriak katak dalam tempurung. ”Goblok amat, sih, elu! Pantesan di dunia tak pernah ada film Lion King! Adanya cuma film Tiger King!”

Dalam iring-iringan singa di padang sabana yang bagai karnaval semut di tembok raksasa itu, terjadi tarik-ulur percakapan Raja-Ratu Singa Sastro-Jendro. Bagi Jendro, semua pihak harus mempunyai jati diri. Semut jadilah semut. Singa jadilah singa. Semut yang tampak melakukan salam-salaman itu sesungguhnya bertukar informasi tentang tempat adanya makanan, tempat mara bahaya, dan lain-lain.

”Mereka bisa dibilang buta, Kakanda. Mereka dalam kegelapan. Bahkan, mereka yang tampak bersalam-salaman sebenarnya juga untuk mengendus siapa teman siapa musuh.”

”Ah, Diajeng. Orang melek seperti kita saja masih terkecoh mana sejatinya koalisi, mana sejatinya oposisi. Tak ada jeleknya mengambil apa-apa yang baik dari pihak lain. Jati diri tidak mandek. Jati diri itu proses yang tak henti-henti dalam pertukaran budaya dari berbagai penghuni bumi.”

Raja melanjutkan, ”Diajeng, gajah itu daya ingatnya tinggi. Setelah bertahun-tahun meninggalkan tempat sahabatnya wafat, lewat lagi di tempat yang jenazah sahabatnya itu sudah tak ada, masih juga si gajah ingat dan berhenti seperti berdoa.”

”Maksudmu?”

”Tanyalah gajah. Ingatkah dia, di hadapannya dan semut, aku pernah bertukar kebudayaan dengan tikus? Tikus memberiku kearifan cara mengirim sinyal bahaya. Timbal baliknya, kuberi dia nasihat.”

Ya, pagi itu tikus mengadu. Manusia mengembangkan pembasmi tikus yang tak membunuh tikus seketika. Nasihat raja singa: bukan cuma tikus yang sekarang dibikin tak sadar kalau sedang dibunuh pelan-pelan, agar tak sempat mencicit ngasih sinyal ”di sini ada pembunuhan” kepada kaumnya.

”Maksudmu?”

”Diajeng, kini lagi ramai-ramai apakah eks militan ISIS akan ditolak atau diterima kepulangannya. Apabila ISIS melakukan teror, ingat, teroris itu membuat kematian mendadak. Tapi, ada yang membuat kematian pelan-pelan. Itulah koruptor. Koruptor membuat rakyat mati pelan-pelan, tanpa sadar bahwa mereka sedang dibunuh.”

Katak dalam tempurung gagal paham. (*)

*Sujiwo Tejo tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Editor : Ilham Safutra


Close Ads