alexametrics

Pedang Haru Nikahan

Oleh SUJIWO TEJO
8 November 2020, 14:54:11 WIB

”Pada suatu ketiak, orang miskin dan anak-anak pengantar dihuru-hara oleh neraka.” Mestinya prasasti batu merah delima yang diarak-arak warga dengan ragam wewangian setanggi itu bertitah, ”Pada suatu ketika, orang miskin dan anak-anak telantar dipelihara oleh negara.”

 

KAWULA suatu kadatuan balik bukit itu baru ngeh akan khilafnya tatah huruf-huruf setelah prasasti dicokolkan di gerbang banjar kadatuan. Sudah diarak-arak pula dan ditandatangani pula. Penandatangannya tetua kadatuan, suatu sistem perwilayahan yang pada masamu disebut negara.

Di zaman hidupku sebelum ada Candi Borobudur, bahkan Gunung Merapi tampaknya juga belum eksis, tanda tangan itu tetesan air mata di batu. Permukaan batu basah yang melembek lantaran air tangis kemudian ditekan dengan sidik jempol. Sah? Sah! Sah!

Haruskah prasasti diralat? Hmmm… Tak sederhana. Sidik jempol tetua tersedia setiap saat. Air matanya bagaimana?

Sudah berbulan-bulan tak ada air mata di kadatuan itu. Bayi-bayi baru lahir pun bahkan menolak tangis. Puluhan kali paraji menepuk-nepuk pantat bayi yang baru ditolong kelahirannya tetap saja upik-upik dan buyung-buyung itu males nangis. Matanya malah seperti angkat bicara, ”Sori, kami sama sekali tidak kaget menatap penderitaan dunia sembrojol dari perut bunda. Sejak di kandung bunda, kami sudah saban hari menderita seturut penderitaan ayah-bunda kami.”

Betul. Di sana seluruh kawula sudah punya tradisi menderita akibat dibohongi. Akan dibuat merana atau dilukai seberapa pedih lagi percuma. Rakyat sudah kebal tangis.

Para pemimpin juga sudah kebal tangis. Pemimpin generasi dulu-dulu biasanya masih bisa menangis kalau harus mengadali rakyat. Sekarang tak lagi. Lantas, dari mana tangis bagi penetesan prasasti versi ralat itu untuk kemudian ditekan dengan sidik jempol tetua kadatuan?

Dari suatu kebetulan!

*

Pembuatan prasasti dikebut ugal-ugalan. Bukan oleh para ahli pahat. Kelamaan. Dibonlah Pendekar Menulis Itu Gampang. Pemuda sepi tato ini moncer berkat gerakan kilat ujung-ujung pedang kembarnya yang menggambar lintas-lintas aksara. Jurus pemungkasnya ialah lintasan ujung-ujung pedangnya bila telah menoreh tulisan di udara, ”Menikah adalah nasib. Mencintai adalah takdir. Kau bisa berencana menikah dengan siapa. Tapi tak bisa kau rencanakan cintamu untuk siapa.”

Torehan di udara itu dijamin sudah menjadi goresan di perut lawan. Rata-rata para penantangnya sudah tewas saat huruf-huruf lintasan pedangnya baru sampai ”nasib”. Paling banter, setinggi apa pun ilmu silat penantangnya, mereka gugur sudah saat lintasan ujung-ujung dua pedangnya yang bermotif batik itu baru sampai ”takdir”.

Hanya mereka yang nasib dan takdirnya menikah dengan orang yang memang dicintainya yang bisa berjaya. Kok ndilalah, setelah sebulanan pendekar tersebut menyelesaikan prasasti dan belum pergi, ada pendekar lokal yang menantangnya bertarung. Ia yakin sekali di kadatuan itu, bahkan hingga kadatuan tetangga-tetangga seputarnya, dialah satu-satunya lelaki beruntung yang menikah dengan perempuan yang memang dicintainya.

Pendekar Menulis Itu Gampang matilah. Sebelum tewas ia menangis. Ia terharu menyaksikan sendiri, ternyata memang ada satu-satunya manusia yang menikahi manusia kecintaannya, bukan menikah apa boleh buat lantaran yang dicintainya tak mencintainya atau sudah menikah dengan lain hati.

Air mata itu ditampung di pincuk daun sirih. Dikucurkan kemudian ke prasasti batu merah delima yang sudah sebulanan teronggok belum ditandatangani.

*

Esok, atau paling telat lusa, diperkirakan ada kawula yang menangis. Lelaki itu cukup lama hidup di pengasingan. Menginjakkan kembali kakinya di bumi kelahirannya bisa saja ia tak terbiasa lagi dengan penderitaan yang dulu dialaminya sebelum mengasingkan diri. Ketika itulah orang-orang meramalkan air mata lelaki ini jatuh. Tinggal dibuat pincuk daun sirih, menuangkan air mata itu ke prasasti pengganti yang kalimatnya sudah dikoreksi.

Problemnya ada di ketersediaan batu merah delima.

Baca juga:

Batu merah delima untuk pembuatan prasasti yang salah huruf itu saja sudah hasil rebutan dengan kelelawar biru benhur. Kelelawar dari Negara Aphi itu membutuhkan batu merah delima untuk menyembuhkan penyakit jagabaya di sana. Jagabaya Negara Aphi bisa memeras petinggi berkali-kali.

Misalnya, ada petinggi yang membangun taman. Setitik pun tanpa korupsi. Taman terbangun sudah atas sumbangan warga berupa bunga-bunga, batu-batu, dan lain-lain. Itu pun si petinggi masih bisa diperas jagabaya. Pasalnya, menarik sumbangan adalah ilegal. Untuk membayar pemerasan, si petinggi memungut sumbangan lagi. Nah, jagabaya memerasnya lagi dengan alasan yang sama.

Negara Aphi yakin, batu merah delima bisa mengurangi pemerasan-pemerasan oleh jagabaya untuk kesalahan yang dicari-cari model begitu.

Bagaimana merebut sisa batu merah delima dari kelelawar benhur yang masih dalam perjalanan pulang ke Negara Aphi, tapi negeri itu tetap bisa dipulihkan?

Ah, bagian itu bisa saja kukisahkan. Cuma, ndak enak. Kalian pasti menilaiku sok berjasa. Atau, ”Halah, Pendekar Sastrajendra ini sok bang jago.” Cukuplah bagian tadi saja yang kukenangkan padamu di puncak Gunung Salju ini sembari kujaga tidur bocah angkatku, Perawan Tingting Bakul Kedai. (*)


SUJIWO TEJO, tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Ilham Safutra



Close Ads