alexametrics

KPK dan Ujung Tanduk Banteng

8 September 2019, 19:16:57 WIB

ADA kabar heboh. Penabur kabarnya menteri informasi alam rimba, kancil: nasib KPK sudah terletak di ujung tanduk. Peletaknya adalah suara bulat para wakil rakyat.

”Ooooooooooooo,” bukan bunyi Tarzan. Itu lenguhan panjang kawanan banteng.

Paduan lenguhan yang merontokkan sisa-sisa embun rimba raya itu terjemahannya begini: Ah, ojo guyon, Rek… Nasib KPK ditaruh di ujung tanduk kami secara aklamatif?

Banteng-banteng keheranan. Satu per satu sampai berjuang keras melirik ke atas, memandang ujung tanduk masing-masing. Ada yang sampai tak terlihat lagi hitam matanya. Seluruh bola matanya jadi putih-putih melati, Alibaba.

”Tak ada apa-apa di ujung tanduk beta, termasuk nasib KPK. Cuma ada lalat sialan!” salah seorang banteng memastikan.

Banteng yang disepuhkan mengimbau kawanannya agar jangan terburu nafsu menarik kesimpulan. Mereka bukan anak-anak medsos. Tinjau diri lagi ujung tanduk masing-masing. Lagi dan lagi. Jangan sampai terulang lagi peristiwa yang membuat malu aku malu, pada semut merah. Gara-garanya, kemarin sore semut merah di seberang ibu kota baru tampak, telur di ujung tanduk sendiri tak tampak.

Setelah saling memastikan tiadanya nasib KPK di ujung tanduk masing-masing, mereka melenguh, tapi tak seaklamatif lenguhan tadi. Bervariasi, seperti pendapat para petinggi sebelum ini tentang Papua.

Terjemahan lenguhan itu, bahwa…

”Sebentar! Akan diterjemahkan dengan mazhab apa?” teriak anggrek sandal di pohon-pohon raksasa, para anggrek yang warnanya merah-merah delima, Pinokio.

”Mazhab hati nurani!” teriak yang ditanya, pekikannya menyeruak dari humus-humus.

Dalam terjemahan mazhab hati nurani, lenguhan itu menyimpulkan, ujung tanduk maksud kancil tentu bukan ujung tanduk banteng. Bisa jadi nasib KPK bertengger di ujung tanduk kijang, menjangan, kerbau, ibu-ibu…

”Emang ibu-ibu bertanduk?” anggrek sandal kepo.

”Tergantung! Percayalah pada tafsir mazhab hati nurani. Tafsir mazhab lain bisa salah. Tapi, tafsir hati nurani? Lihatlah, kalau ditilang polisi atau direcoki ormas-ormas provokator, biasanya ibu-ibu keluar tanduknya,” tandas suara dari humus.

Anggrek sandal manggut-manggut diangguk-anggukkan angin belantara, ”Baiklah. Sampaikan sungkemku pada Raja Singa Sastro dan Ratu Singa Jendro.”

Beruntung kijang dan menjangan tak mendengar syak wasangka para banteng. Mereka sedang sibuk sendiri memikirkan hilangnya sebagian areal rumput lantaran dijadikan kawasan ibu kota baru. Ibu-ibu apalagi. Alih-alih sempat mendengar tudingan para banteng, mereka sibuk full memikirkan naiknya iuran BPJS.

Yang sempat-sempatnya mengurus tudingan pihak lain bahwa nasib KPK sudah berada di ujung tanduknya cuma kerbau-kerbau. Mungkin karena mereka kini punya banyak waktu luang. Banyak yang di-PHK gegara pembajakan sawah-sawah diambil alih oleh modal-modal mancanegara.

Sebenarnya yang menganggur bukan cuma kerbau-kerbau. Burung camar kepala hitam juga banyak yang nganggur. Burung-burung yang tinggal dalam koloni-koloni besar dengan jarak antarsarang berdekatan itu banyak yang menganggur di sarang masing-masing. Mereka saling menunggu tetangganya pergi mencari ikan. Saat itulah mereka terkam secara kanibalistis bayi-bayi tentangganya daripada capek-capek mencuri ikan di laut dan ditenggelamkan Bu Susi.

Eh, tapi burung camar tak bertanduk, ya? Jadi, walau menganggur dan membuat makhluk seberiman apa pun akan lekas tersinggung, burung camar kepala hitam tak punya alasan untuk ”tersungging”.

Jadi, bila tak terbukti nasib KPK berada di ujung tanduk kerbau, akankah nasib lembaga antirasuah itu sejatinya memang berada di tangan kanibalis lain, di tangan Alibaba, di ujung hidung Pinokio, atau malah di ujung tanduk banteng itu sendiri?


* Tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads