alexametrics

Semut Cap Gajah Terbang

8 Maret 2020, 19:38:37 WIB

”Hampir sepuluh tahun lalu, dalam rimba ini, di antara dua pohon ulin ini, kami kaum gajah menyelenggarakan pertandingan yang luar biasa dengan semut, yang tupai-tupai menyebutnya sebagai pertarungan tersengit dalam risalah. Dalam peristiwa yang disela-selai gerimis itu, kami juara.”

Raja Singa Sastro menunggu cukup lama kelanjutan kalimat gajah itu. Saking lamanya, sampai koala-koala dan lemur pada ketiduran. Ah, tapi mereka memang hewan-hewan tukang tidur seperti ular sanca. Lho, nggak juga. Bahkan, rusa yang dikenal sebagai hewan yang susah tidur pun sampai ngorok.

Singa sebenarnya juga hewan tukang molor. Salah sendiri kenapa Sastro jadi raja. Nggak enak, masa’ raja rebahan di tengah rapat. Akhirnya sang permaisuri, Ratu Singa Jendro, memepet kuping suaminya. ”Gajah itu menunggu keputusan kakanda,” bisiknya.

”Hadeuuuh, Adinda, keputusan aapaaakhhh…. ?” Sastro tak kuasa menahan angopnya.

”Keputusan agar kakanda melalui Menteri Informasi Rimba Raya Kancil kirim nota protes kepada manusia. Isinya, tinjau ulang permainan pingsut yang membuat gajah kalah telak oleh semut. Gajah itu menunggu-nunggu kakanda mengabsahkan jempol lebih unggul dibanding kelingking.”

”Setuju, Ratu!” seru gajah. ”Itulah yang sejak tadi kami nantikan. Bahkan sejak sepuluh tahun lalu. Paduka ingat, kan? Di sela-sela gerimis itu, kami mampu mengibas-ngibaskan semut yang masuk kuping kami. Mereka terpelanting! Mereka pada terlontar semua dari kuping. Tersungkur di tanah, lalu kami injak-injak!”

Bisa saja hari ini juga raja singa membuat nota protes ke manusia dengan kancil selaku kurirnya. Tapi, raja punya pertimbangan lain. Mengubah peraturan manusia dalam pingsut atau suwit berarti mengubah kurikulum pendidikan. Padahal, menurut info yang diterima raja singa, manusia saat ini sedang sibuk-sibuknya. Sibuk yang berkabut panik.

”Mereka sedang giat-giatnya menimbun masker korona dan memborong kebutuhan pokok di supermarket-supermarket. Tidak etis kalau pada saat bersamaan kutambahi beban mereka dengan nota protes untuk perubahan kurikulum,” tandas raja singa sambil melompat ke batu. Kini kepalanya lebih tinggi dari jerapah biru, jerapah terjangkung di antara seluruh jerapah yang hadir.

Gajah-gajah murung.

”Lagi pula …” raja singa melanjutkan. ”Lagi pula pingsut atau suten itu urusan manusia. Kenapa kita para hewan ini turut campur?”

Gajah yang berdiri paling belakang mengangkat kedua kaki depannya. Belalainya mendongak tegak lurus dengan langit. Kaki belakangnya kini terangkat pula sehingga menggambarkan gajah terbang.

Suara gajah terbang itu lantang laksana terompet, ”Preeet… Kalau jempol dalam pingsut atau sut itu tidak melambangkan gajah dan kelingking tidak melambangkan semut, kami memang tidak ada alasan untuk turut campur. Tapi, manusia sudah membawa-bawa kami dalam pingsutnya. Adil kalau kita juga turut campur ketika lambang bikinan manusia, yaitu gajah kalah oleh semut, ternyata cuma hoax. Faktanya kami menang!”

Sambil bertopang dagu, diam-diam kancil membenarkan gajah. Apalagi di zaman medsos ini jempol sebagai lambang gajah juga tambah digdaya. Manusia main Twitter dan Instagram pakai jempol. Bukan pakai kelingking.

Raja singa terpaksa bisa memahami aspirasi gajah. Ia mendiktekan nota protes ke sang kancil. Isinya:

”Pingsut adalah permainan manusia. Jangan bawa-bawa hewan dalam permainan itu. Sudah betul telunjuk melambangkan manusia. Manusia suka tunjuk-menunjuk, tuding-menuding, termasuk dalam kasus korona. Hmm … Jangan protes saja? Protes harus disertai solusi? Baiklah, ini solusi kami: Jadikan jempol simbol pengusaha. Kelingking simbol kaum buruh. Wassalam!”

*Sujiwo Tejo tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Editor : Ilham Safutra



Close Ads