alexametrics

Lain Hati, Lain Kekasih

6 Juni 2021, 16:11:43 WIB

Segunung apa pun diamku merenung, tak mungkin aku sampai pada pemahaman mengapa aku mencintaimu.

PENDEKAR Sastrajendra sudah undur diri dari dunia persilatan. Orang nomor wahid dunia rawan tersebut sudah tak guna lagi ditantang tarung oleh sesiapa yang bermimpi jadi suksesornya, baik kelak 2024 maupun di era ketika peristiwa ini terjadi, yaitu masa sebelum ada Candi Borobudur, bahkan Gunung Merapi pun tampak belum eksis. Impian Pendekar Bra pun kandas pada usianya yang masih ”batipul”, bawah tiga puluh tahun.

Namun, benarkah ayah angkat Tingting Bocah itu mundur lantaran ini: Selalu dia terngiangi tembang sindiran perempuan manis seberang sungai. Buat apa dibangun banyak perguruan tinggi persilatan bila darma lulusannya cuma jadi stempel penguasa tanpa sejengkal pun kuda-kuda buat mengontrolnya?

***

Seorang pengemis di tikungan dekat orang-orangan sawah membawakan madah, sejenis puisi puji-pujian yang ditembangkan. Ditembangkannya bersama kecapi purba, pendekar bertopi koboi itu mundur bersilat bukan lantaran ingin bertani, menghitung hari, mengeja musim. Bertani, mengolah hasil bumi bersama bangau-bangau, diakuinya lebih bermanfaat. Yang kelaparan bisa menjadi kenyang dan berdendang. Dunia persilatan? Huh! Mereka yang lapar akan keadilan tetap saja tinggal kulit dan belulang. Hanya, alasan mundur sang pendekar tak sebab itu.

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads