Telur Tokek Rasa Cicak

5 Desember 2021, 11:15:04 WIB

Dukun pesugihan itu seperti virus. Dari dulu sudah ada. Mereka juga bermutasi menjadi varian-varian baru. Dulu dukun berambut pirang ini namanya Sugih Arto. Kaya uang. Sekarang namanya bermutasi seperti BPKB kalau pindah kepemilikan. Varian baru dari Sugih Arto ini sekarang bernama Omicron.

DUKUN Omicron sudah sangat kondang, terutama di kalangan orang-orang yang selalu terlilit utang. Sastro tak selalu terlilit utang. Ia hanya kadang-kadang terlilit. Seharusnya suami Jendro ini juga mengenal Dukun Omicron.

Sayangnya, walau sudah tak asing lagi dengan nama Omicron, Sastro belum pernah tahu rupa Omicron. Pirangkah rambutnya? Benarkah kalau dia sedang ngomong Indonesia kecampur-campur Jawa atau sebaliknya? Bahwa di setiap omongan Jawa atau Indonesia-nya kecampur-campur juga dengan bahasa orang-orang Eropa, itu sudah pasti. Namanya saja Omicron.

Omicron berakar atas dua kata. Omi dan Cron. Omi singkatan dari slank ”Oh, My, God”, yaitu ”Omigod” alias ”Oh, Tuhan”. ”Cron” dari ”Corona” atau ”Crown”. Artinya mahkota. Bisa ditafsirkan, Omicron adalah rasa keterpesonaan kita terhadap Tuhan atas munculnya virus korona yang lebih dikenal dengan Covid-19.

***

”Jadi, Sampean datang ke rumah saya ini diutus Dukun Omicron. Amanahnya menjual tiga telur seperti telur cicak, padahal ini semua telur tokek?” tanya Sastro kepada utusan Omicron yang sejatinya adalah Omicron itu sendiri.

”Betul, Pak Sastro. Dan tokek yang bertelur cicak ini bukan sembarang tokek. Beliau peramal jitu. Hidupnya di pohon-pohon belakang rumah Dukun Omicron. Semua yang diramal jadi gubernur, jadi. Semua yang diramal jadi ketua umum ormas, lewat ganjil genap suaranya, mendapat suara terbesar tanpa serangan fajar,” kata ”utusan” Dukun Omicron.

Sastro berdecak-decak seperti cicak, ”Ck ck ck ck….”

”Dan tokek ini makannya tak sembarangan, Pak Sastro,” bertambah semangat ”utusan” Dukun Omicron dalam bertutur kata. ”Tokek merah jambon ini, warnanya merah jambon, hanya berkenan makan martabak!”

”Hah? Hanya berkenan ’dahar’ martabak!?”

”Betul. Itu pun tak sembarang martabak, Pak Sastro.”

”Harus martabak Markobar?”

”Tidak harus demikian, Pak Sastro. Martabak apa saja monggo, asalkan tidak dibeli dengan uang hasil korupsi.”

”Dan tiga telur seperti telur cicak ini adalah telur-telurnya?”

”Betul, Pak Sastro. Menurut Dukun Omicron, siapa pun yang beruntung memiliki telur-telur ini hartanya akan berlipat tiga kali.”

”Ck ck ck ck…. Terus, wani piro?”

”Seratus ribu saja, Pak Sastro….”

”Waduh. Maaf. Kalau sembilan puluh ribu saya sanggup… Apa bisa telur-telur ini saya beli kurang sepuluh ribu?”

”Waduh, Pak Sastro. Saya sowan ke rumah Bapak ini cuma menjalani amanah Dukun Omicron. Jadi, soal boleh tidaknya mahar sembilan puluh ribu itu saya harus pulang dulu. Saya harus minta palilah dari Mbah Dukun.”

”Lha, mbok ditelepon saja…”

”Saya tidak punya HP, Pak Sastro.”

Tuan rumah akan meminjami ”utusan” Dukun Omicron itu, namun sang ”utusan” menolak. ”Mbah Dukun tidak punya telepon… Pak Sastro kayak pura-pura tidak tahu saja. Orang itu semakin penting semakin tidak punya telepon. Hanya ketua-ketua umum ormas yang masih butuh HP.”

”Ck ck ck ck… Hmmm. Ya, sudah. Sampean pulang dulu kalau begitu. Nanti saya tunggu kabar baiknya.”

Sang ”utusan” terdiam. Lama. Burung perkutut Pak Sastro bersuara hingga entah sudah berapa putaran, sang ”utusan” tak kunjung beranjak.

Pak Sastro mulai tidak sabar. ”Maaf, ini bukannya saya mengusir, tapi sebaiknya Sampean cepat pulang agar kita bisa cepat dapat keputusan.”

Sang ”utusan” tersenyum kecut, ”Bukannya saya tidak mau segera pulang, Pak Sastro. Tapi saya betul-betul tidak punya ongkos untuk pulang.”

”Ck ck ck…. Berapa ongkos pulang Sampean?”

”Lima ribu, Pak Sastro. Pulang pergi, ya, sepuluh ribu.”

Sastro masuk ke ruang tengah rumahnya. Keluar lagi sudah membawa duit lima ribuan dua. Sang ”utusan” segera pulang.

***

Sejatinya sang ”utusan” itu tidak pulang. Ia hanya berjalan kaki sejauh kurang lebih 99 meter dari rumah Pak Sastro, yaitu rumah temannya dahulu waktu sama-sama berguru menjadi dukun. Esok harinya dia sowan lagi ke rumah Pak Sastro. Habis beruluk salam, ia langsung ke inti keperluannya.

”Kabar baik itu sungguh ada, Pak Sastro. Mbah Dukun Omicron setuju harga dari Pak Sastro.”

Pak Sastro manggut-manggut senang. Masuk ia ke ruang tengah rumahnya. Keluar lagi sudah membawa duit 90 ribu. Sang ”utusan” pulang, meninggalkan tiga telur tokek yang mirip telur cicak.

Entah karena telur itu membawa berkah atau tidak, dan entah karena dekat-dekat dengan muktamar NU, suatu hari Sastro atas saran pria sepuh mirip KH Bisri Musthofa, penulis kitab kondang Tafsir Al Ibriz, yakni ayah Gus Mus, mendatangi rumah praktik Dukun Omicron.

”Saya kemari ingin bertemu langsung dengan Dukun Omicron,” ujarnya kepada lelaki pirang yang berdiri di ambang pintu: sang ”utusan”. (*)


SUJIWO TEJO

Tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads