alexametrics

Kupu-Kupu Gagal Paham

Oleh SUJIWO TEJO
5 Juni 2022, 06:58:37 WIB

Mending berkelakuan yang tidak-tidak daripada yang bukan-bukan. Kenapa? Ya, ndak tahu.

INI tulisan, Bung. Bukan makanan. Yang katanya serbatahu seperti tahu tek atau tahu gunting saja isinya ndak melulu tahu. Ada lontongnya. Ada telurnya. Tapi, konon kata Gus Dur, Indonesia adalah negara yang bukan-bukan. Bukan negara agama. Bukan negara sekuler.

Ada istri yang ngidam nyium ban truk. Itu masuknya ke ngidam yang tidak-tidak apa yang bukan-bukan?

”Oh, itu masih normal. Bumil ngidam. Wajar, to. Itu maunya bayi. Dalam laut dapat diduga. Dalam bayi siapa tahu? Makanya warga negara yang masih bayi belum boleh jadi pejabat. Nanti pas bangsanya sendiri sudah bisa bikin ini-itu, ia maunya malah ngimpor…modyar!”

Pasangan Sastro-Jendro menjawab pertanyaan suami muda.

”Masalahnya, Pak, Bu, istri saya bukan ngidam mencium ban truk yang parkir atau minimal sedang berhenti di lampu merah. Dia penginnya ngambung ban truk yang sedang berjalan.”

Sastro tidak kaget, tapi juga tidak nonkaget. Sedangkan Jendro bukannya terkejut, tapi juga bukan non terkejut. Tetiba istri Sastro itu teringat Lebaran kemarin. Mereka ke Sumatera Barat. ”Kalian pergi saja ke tanjakan Sitinjau Lauik. Pemandangannya bagus. Di sana truk-truk berjalan, tapi sangat lambat nyaris seperti berhenti di lampu bangjo. Kemiringannya 45 derajat.”

”Sudah. Pekan lalu… Tapi kengidaman istri saya itu seperti talenta anak-anak muda tanah air.”

Jendro tidak paham maksud suami muda itu, tapi juga tidak gagal paham. Sedangkan Sastro bukan gagal paham, tapi juga bukannya paham.

***

Pasangan kupu-kupu di kedai mereka ngobrol malah bisa memahami sang pemuda. Kedua ekor kupu-kupu itu sayapnya bergambar seluruh parpol tanah air yang lolos ke Senayan. Warna-warninya pun warna-warni parpol. Menurut pemilik kedai yang leluhurnya asli Tiongkok, keduanya malihan dari pasangan legendaris Sampek Engtay.

Ingat, kan? Sampek sakit hati lantaran akan dinikahkan dengan Non-Engtay. Sakitnya hingga membawa mati. Engtay menyusulnya. Lompatlah ia ke liang kubur. Keduanya menjelma kembali ke dunia sebagai pasangan kupu-kupu. Ada kepercayaan, sejoli pengunjung kedai yang dihinggapi keduanya akan menjadi belahan abadi.

Hampir semua orang bikin pre wedding di kedai tepi danau itu. Yang beruntung dihinggapi kupu-kupu ”Sampek-Engtay” akan tak bosan-bosan memajangnya di medsos mereka. Yang bosan mungkin followers-nya.

Calon-calon pengantin akan pulang dengan murung bila tak beruntung dihinggapi kupu-kupu. Barangkali lagi ngumpet entah di mana di tepi danau. Kedai berangsur-angsur sepi pengunjung. Tak kurang akal, pemilik kedai menyalurkan talenta anak-anak muda tanah air yang selama ini kurang tersalur. Mereka ditantangnya bikin robot kupu-kupu yang sangat persis dengan aslinya. Malah bisa bergurau. Gambar sayapnya bisa diubah-ubah.

Untuk pasangan pre wedding yang dinilai oleh pemilik kedai terlalu maniak Golkar, sayap-sayap kupu-kupu robotnya diguraukan secara digital menjadi gambar nonberingin dan warna-warni nonkuning. Untuk pasangan pre wedding yang dinilai terlalu ke-Banteng-Banteng-an, diguraukan dengan gambar dan corak-corak non-Banteng. Begitu juga untuk pasangan yang dinilai terlalu Demokrat, PAN, PKB, PPP, PKS, Gerindra, dan Nasdem.

”Bravo persatuan! Bravo persatuan….!”

Begitu biasanya komentar followers atas unggahan foto-foto pre wedding temannya sekader partai. Mereka keplok-keplok melihat teman sekadernya itu dihinggapi pasangan kupu-kupu dengan sayap berlogo dan bersemarak warna partai-partai lain.

Kedai kembali laris manis.

***

Bagaimana pemahaman pasangan kupu-kupu ”Sampek-Engtay” yang masing-masing menclok di pasangan non-pre wedding Sastro-Jendro bahwa kengidaman istri pemuda itu seperti talenta anak-anak muda tanah air?

Pemahamannya, kengidaman itu belum tersalurkan. Banyak anak muda tanah air. Talentanya tinggi di bidang teknologi, tapi tidak tersalurkan. Bangsa ini lebih suka impor. Kabar kupu-kupu, eh, kabar burung, impor lebih ada cipratan-cipratan rezekinya, baik dari produsennya di manca, agen-agennya, maupun dalam perjalanan barang-barang impor itu masuk ke tanah air. Kalah sama nasionalisme pemilik kedai.

”Jadi, ngidamnya istrimu di jalur Sitinjau Lauik belum terlampiaskan?” Sastro bertanya.

”Mustahil tak ada truk berlalu lintas di Padang–Solok itu,” Jendro menimpal.

Sang pemuda berdehem-dehem. ”Betul, Bu. Jalur itu ramai. Banyak truk berlalu. Lalunya juga sangat pelan nyaris seperti mangkal di lampu merah. Kami nunggu di mobil dekat lapak jagung bakar….”

”Ya, kenapa sebelahmu itu nggak langsung saja nyium bannya? Jauh-jauh dari Kertosono ke Sumbar, mbolos ngantor, sudah ada truk merayap, kenapa nggak keluar dari mobil, ngambung!!!???” Jendro mangkel tidak, tidak mangkel juga tidak.

”Jangan meremehkan saya sebagai istri, ya. Jelek-jelek begini saya dulu juga pernah ngidam. Ngidam itu nyiksa suami. Memang. Tapi mbok ya jangan nyiksa-nyiksa amat.”

”Pak, Bu, istri saya ngidam nyium ban truk berjalan, tapi yang muatannya adalah baliho-baliho seluruh partai. Di bak truknya juga harus ada tulisan ’NKRI Harga Mati’…”

”Ndasmu, Cuuuuuk….!” pasangan kupu-kupu pada Sastro-Jendro membatin, tidak sambil ketawa, tapi juga tidak sambil tak ketawa. (*)

 

*) SUJIWO TEJO, Tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:

Close Ads