alexametrics

Raja Singa, Kancil, dan Ratunya

4 Agustus 2019, 18:19:15 WIB

SASTRO-Jendro pasangan raja dan ratu singa yang ikut sedih saat mendengar kebakaran hutan di Riau. Pun ikut kaget mendengar Bu Risma kaget. Kagetnya, kok fulus pengelolaan sampah Jakarta sampai Rp 3,7 triliun. Padahal, Surabaya yang di-walkot-inya cuma Rp 30 miliar. Hiks hiks hiks…

Mereka membaca berita? No! Mereka terasing dari huruf-huruf latin manusia. Terus? Adakah manusia yang menjadi rektor asing di kampus para binatang, yang membacakan berita manusia untuk raja dan ratu?

Tidak ada. Semua kampus di kawasan itu rektornya asli bangsa mereka sendiri. Misalnya, kampus jerapah, rektornya ya yang berleher amat panjang. Kampus ular, rektornya ya yang seluruh tubuh isinya leheeeeeer semua. Kampus bekicot, rektornya tak berleher jenjang. Namun, ya, ia menggotong rumahnya ke mana-mana, persis para mahasiswanya.

Sastro-Jendro ketat aturannya bahwa asing, yaitu kalangan manusia, tak boleh disewa untuk jadi mandor perguruan tinggi di rimba. ’’Universitas bukanlah Persija maupun Persebaya,’’ tandasnya suatu fajar. Ia lalu mengaum panjang di puncak bukit, di seputar jutaan hewan dari yang segede gajah sampai seimut bakteri, yang mengepung seluruh kaki bukit.

Yang membacakan berita huruf latin kepada Raja-Ratu Sastro-Jendro adalah kancil.

Suatu hari, saat sedang inspeksi di perbatasan, Ibu Ratu memergoki kancil mengendap-endap di kebun manusia.

’’Cil, sedang apa, sedang apa sekarang?’’

’’Nyolong timun, sekarang,’’ senandung kancil, gemetar.

’’Ya ampun, Cing, eh, Cil, nyolong timun itu jadul banget. Sekarang sudah zaman digital.’’

’’Ampun, Gusti Ratu…’’

’’Kamu ta’ ampuni. Syaratnya, tetaplah tinggal di wilayah manusia ini. Colonglah ilmu manusia. Colong kemampuan mereka membaca. Kelak, kamu akan kulantik jadi menteri informasi.’’

’’Nyolong kemampuan membaca hanacaraka?’’

’’Noooo… Huruf latin saja. Warisan budaya leluhur Nusantara itu sudah mereka jadikan sampah, sudah mereka bakar seperti hutan.’’

Tujuh purnama kemudian, kancil menjadi menteri informasi. Hari ini, di depan raja-ratu, kancil membacakan berita manusia soal sampah dan kebakaran hutan.

’’Bagaimana kalau kemampuan membaca huruf latin itu kamu ajarkan ke seluruh rakyatku?’’ pinta Raja Singa Sastro.

’’Ide yang bagus, Tuan Raja. Tapi, hamba terikat kutukan dalam mimpi. Kalau sampai mengajarkannya ke seisi hutan, hamba dan seluruh kancil akan balik ke tradisi lama, yaitu nyolong timun, bukan nyolong informasi.’’

Mendengar itu, Bu Ratu langsung tidak setuju kancil mengajarkan ilmunya. Raja pun menurut. Kedua pasangan itu saling memandang, lalu menunduk.

Setelah hening beberapa saat, kancil bicara, ’’Tuan Raja dan Puan Ratu, yang maksimal bisa saya lakukan dengan huruf-huruf adalah membuat KTP untuk seluruh warga di rimba ini.’’

Raja Singa setuju, asalkan data kependudukan itu tidak disebar untuk bisnis kalangan swasta.

Sebelum kancil pamit, Raja Singa berkata, ’’Apakah KTP ini dapat mencegah timbulnya kebakaran hutan dan penumpukan sampah?’’

Kancil terdiam. Ratu Jendro menyela, ’’Untuk mencegah itu, kita juga harus mengangkat menteri keuangan dari kelelawar vampir.’’

’’Kok?’’

’’Begini, Raja Singa. Walau mukanya jelek, kelelawar jenis penyeruput darah itu tak mengenal riba. Kalau malam nanti dia tak dapat darah, dan utang darah hasil buruan temannya misalnya 30 miliar nanoliter, besok atau lusa dia membayarnya ya cuma pas 30 miliar nanoliter itu. Bukan 3,7 triliun nanoliter.’’

’’Ck ck ck, thanks infomu. Besok kupanggil dia,’’ Raja Singa mendongak. ’’Selama ini aku baru belajar pada lebah dan semut.’’

*Sujiwo Tejo tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Editor : Dhimas Ginanjar

Close Ads