alexametrics

Selaput Dara Hutan Perawan

1 Desember 2019, 20:52:29 WIB

HUTAN perawan mendendangkan duka. Gesekan pohon-pohon. Bau humus daun-daun gugur yang melembap di tanah. Rembulan lengser di balik mendung. Semua menjadi syair lagu dukacita rimba malam ini.

’’Kenapa keperawanan menjadi ukuran atlet? Malang sekali atlet betina. Apakah tes keperjakaan juga dikenakan pada atlet-atlet jantan?” sepasang serigala melenguh panjang. Mereka mendongak pada rembulan sebelum lengser berselimut mendung.

Besok monyet-monyet akan keluar hutan. Mereka bakal menghibur para koruptor. Tak bisa memberi grasi berupa potongan masa hukuman atau malah membebaskan warga binaan penggarong uang negara, pemuja-pemuja pisang itu ingin memberi grasi berupa hiburan. Hiburannya, mempertontonkan lomba senam lantai di lembaga-lembaga pemasyarakatan.

Malang, beberapa monyet didiskualifikasi. Besok pagi mereka tidak akan bisa mulet-mulet, jumpalitan, dan lain-lain secara indah di lantai-lantai para koruptor.

”Karena setelah dites, selaput dara mereka sudah… maaf.. sudah robek,” jelas king kobra di kiri-kanan pohon cemara.

Penjelasan itu segera dibantah king kobra lainnya yang sedang naik-naik ke puncak gunung. Menurutnya, keluarga ular berbisa janganlah cawe-cawe perkara non-bidangnya. ’’Bidang kita bidang pengobatan. Bisa kita, binatang beracun ini, bisa diolah oleh binatang berakal menjadi obat. Karena itu, lambang apotek dahulu adalah mangkuk higienis yang dililit ular,” jelasnya.

Tapi, warga hutan telah macak warganet. Mereka sudah tak ubahnya netizen yang ”maha benar’’. Terhadap kesan pertama yang dianggap buruk, mereka langsung nyolot. Segala isi got dan peceren telah menjadi amunisi kata-kata umpatannya. Klarifikasi apa pun tentang kesan pertama tersebut tak akan mereka gubris lagi. Bahkan jika klarifikasi itu dibungkus kata-kata yang sewangi nasi bungkusan daun jati.

Iya, kan? Agnez Mo tetap mereka tuduh sebagai kacang yang lupa lanjaran. Ia tak sudi mengakui dirinya berbangsa Indonesia walaupun lahir, makan, dan minum di Bumi Pertiwi. Padahal, dalam klarifikasi, ia cuma jujur mengaku tak punya darah Indonesia. Darahnya cuma Jerman, Jepang, dan Cina. Mengaku ’’aku bukan bangsa Indonesia”? Tidak!

Toh klarifikasi itu gak direken warganet. Persis warga rimba yang tak mau mendengar klarifikasi soal keperawanan atlet senam lantai. Di puncak gunung, king kobra yang sedang naik-naik ke puncak gunung tadi menjelaskan bahwa si atlet didiskualifikasi lantaran pelanggaran disiplin. Bukan perkara keperawanan.

”Konsisten lah, jangan cawe-cawe urusan atlet. Situ tuh ular. Mau king atau bukan, situ cuma king kobra. Ular. Bukan Lion King. Urusi saja soal apotek,” teriak bekicot, lintah, kupu-kupu, dan seisi hutan lainnya.

”Baiklah,” gerutu king kobra itu sembari menggelesar turun dari kawasan kawah gunung. ’’Tapi, kalau memang kalian memberi kami wewenang hanya mengurus obat-obatan, kenapa kalian mendengarkan cawe-cawe sejawat kami bahwa atlet itu didiskualifikasi gegara tidak perawan?”

Besar harapannya, gerutuan tersebut bakal membuat seisi hutan bingung karena baru tersadar bahwa mereka sendiri telah menjadi makhluk yang tidak konsisten. Sama dengan bingungnya akun Twitter @withrif: ”Agnez Mo sebut numpang lahir di Ind. Mau dukung dia, takut dibilang gak nasionalis. Miyabi nonton tim sepak bola Ind di Sea Games Philippine. Mau dukung dia, takut dibilang tak bermoral”.

Harapan tinggal harapan. Kebingungan itu ternyata pepesan kosong. Yang bingung malah pasangan Raja-Ratu Singa Sastro-Jendro. Kok bisa-bisanya isu raja-ratu singa tak lagi akan dipilih langsung oleh rakyat, kalah dibanding isu tentang Agnez dan Miyabi?

*Sujiwo Tejo tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers

Editor : Ilham Safutra



Close Ads