alexametrics

Kura-Kura dalam Harimau

1 Maret 2020, 19:43:26 WIB

Sa’ gala’ gala’e sardulo ora bakal kolu mangan gogore dewe.

SEGALAK-GALAKNYA macan tak bakalan tega mencaplok anaknya sendiri. Quote kuno tentang manusia yang meminjam karakter macan ini betul-betul cuma berlaku di dunia permacanan. Di dunia permanusiaan? Manusia kini banyak yang, maaf, memerkosa putri kandungnya sendiri. Mereka bahkan membunuhnya. Menyusupkannya ke gorong-gorong.

”Barangkali, itu karena tak ada manusia yang namanya mengandung macan atau harimau,” gumam bahan favorit obat-obatan di Tiongkok: Trenggiling. ”Harimau dijadikan nama jurus silat, itu ada. Jurus harimau! Sayangnya, tak pernah dijadikan nama manusia.”

Ngengat-ngengat yang kedua bentang sayapnya membentuk segi tiga sayap pesawat tempur menyetujuinya. Mereka terngiang nama-nama manusia ahli tempur. Sebut Hayam (ayam) Wuruk, Kebo (kerbau) Anabrang, dan lain-lain nama yang mengandung hewan sampai Singo (singa) Menggolo dan Singodimedjo.

”Yak ’tul,” celetuk dodo, burung yang tak bisa terbang lantaran sayapnya relatif cuma seupil dibanding badannya. Eh, tapi burung tanpa pemangsa alami ini kan sudah punah? Hadeuuh. Yang nyeletuk itu arwahnya. Memang arwah nggak bisa ngomong?

O iya, ya …

Arwah dodo melanjutkan, ”Putri Solo itu kondang kecantikannya. Tapi, ’Sardulo Lupo’ alias ’Macan Luwe’ atau ’Harimau Lapar’ hanya sebutan untuk luwesnya lenggang mereka. Langkahnya gemulai bagai harimau lapar. Begitu perumpamaan buat mereka. Cuma, tak ada putri Solo yang bernama, misalnya, Retno Sardulo Lupo-wati. Kecuali ortunya gendeng.”

Semua obrolan ngalor-ngidul di Hari Raya Kuningan itu stop demi terdengar dehem Sastro. Setelah ehem-ehem di tepi kali, raja singa ini masih terus menerawang sungai. Di sana baru saja gugur kucing-kucing dalam outbound susur sungai.

Simpang-siuran kawanan kalong yang berkepak di atas sungai meriak-riakkan sungai, merangsang raja singa di samping Ratu Singa Jendro bersabda:

”Kucing itu nenek moyang penampakan seperti macan. Dari yang belang, tutul, hitam sampai putih, dan sejenisnya. Maka, mereka sering disebut kucing besar. Anehnya, segala cucu-cucu kucing berani air. Eh, nenek moyang mereka sendiri malah takut air. Maka, program susur sungai guru-guru untuk meong-meong ini elok.”

”Wah, kebalikan dari hewan yang nenek moyangnya pelaut, tapi anak cucunya tak punya jiwa pelaut? Punyanya jiwasraya?” usil tokek. Tentu hanya dalam hatinya. Tak satu pun berani berucap apa-apa saat raja mereka sedang bersabda.

”Betul. Aku pernah melihat macan nyebur sungai. Makhluk darat, tapi ia mangsa makhluk yang jadi penguasa sungai: buaya! Menang!” komentar tarantula. Tentu hanya dalam hati laba-laba besar berbulu itu. Tak satu pun berani berucap apa-apa saat suami Jendro ini bersabda.

”Ini sabdaku: hukum guru-guru meong itu seadil-adilnya. Tetap timbang empati pada keluarga yang ditinggalkan korban. Tapi, harkatnya sebagai guru harus tetap dijunjung tinggi. Jangan digunduli. Mungkin ini kelalaian. Bukan niat jahat sejak awal bikin program. Apalagi, guru itu seperti orang tua dan anak. Tak ada bekas orang tua maupun bekas anak. Begitu juga, tak ada bekas guru. Sekali dia gurumu, selamanya dia gurumu.”

Panda Po meneteskan air matanya demi mendengar sabda itu. Teringat ia pada gurunya dalam Kungfu Panda, Oogway, seorang kura-kura.

”Kenapa menangis, Panda?”

”Karena paduka betul, Raja. Guru saya itu selamanya akan kuanggap guru saya. Saya belajar dari kesabaran kura-kura itu menghadapi macan.”

”Hmmm…Semoga mereka yang batal umrah juga sempat mengingat kesabaran gurumu. Terutama mereka yang kecewa berat. Apalagi sampai nge-gas.”


*) Sujiwo Tejo tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @presidentjancukers

Editor : Ilham Safutra



Close Ads