alexametrics

Jurus Ikhlas dalam Berpolitik

Oleh: Candra Malik *)
27 Oktober 2019, 15:25:41 WIB

SEHARI sebelum pengumuman susunan Kabinet Indonesia Maju oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), saya membagi tautan artikel saya tentang siapa kalangan santri yang bakal ditunjuk sebagai menteri agama dan jadi atau tidaknya pembentukan kementerian pesantren. Gus Mus memberikan tanggapan yang membuat saya mati kutu. ”Santri kok mbahas jabatan. Saru,” tulis kiai khos itu.

Sebagai santri, yang juga memosisikan diri selayaknya anak kepada bapak, saya yang turut menggelari Kiai Ahmad Mustofa Bisri dengan panggilan ”abah” pun seketika tidak berani berargumen lagi. Satu jurus paling ampuh, mau tidak mau, harus segera saya keluarkan. ”Sendika dawuh, Abah,” tulisku. Percakapan melalui aplikasi obral-obrol itu langsung tuntas. Tapi, saya belum lega.

Dalam politik, apakah betul-betul saru atau tabu membahas jabatan? Mengapa itu berlaku hanya di kalangan santri? Tetapi, dengan segala hormat, jangan sampai apa yang saya tanyakan dan Sampean baca ini diketahui Gus Mus ya. Saya bisa dua kali mati kutu. Saya sudah telanjur bilang sendika dawuh atau dalam bahasa santri sering diucapkan, ”Sami’na wa atha’na.”

Tapi, saya merasa sedikit lega setelah tahu betapa perasaan kecewa juga ditunjukkan Gus Mus. Dalam unggahan di akun-akun media sosial yang dikelolanya sendiri tanpa admin, mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu menuliskan, ”Akhirnya Bu Susi ’ditenggelamkan’…” Blak-blakan, beliau mengungkapkan kekecewaan meski mengingatkan soal hak prerogatif presiden.

”Seperti juga yang mengangkat Pak Jokowi jadi presiden, Kiai Ma’ruf Amin jadi wakil presiden, Pak Prabowo jadi menteri pertahanan, Pak Fachrul Razi jadi menteri agama, Pak Nadiem jadi menteri pendidikan dan kebudayaan, dll dst, pada hakikatnya yang mengangkat Pak Edhy Prabowo menggantikan Bu Susi adalah Tuhan Yang Maha Berkehendak dan Mahakuasa,” sambungnya.

Aha, berarti rasa kecewa itu manusiawi ya. Tapi, perasaan itu harus segera dikendalikan dengan berserah diri kepada Allah agar yang pada mulanya insaniah pada akhirnya bisa menjadi ilahiah. Sebagaimana pemasangan Kiai Ma’ruf Amin dengan Jokowi, itu adalah ikhtiar manusia. Jumlah suara hanya perkara syariat. Hakikatnya, Allah-lah yang menentukan siapa menang dan siapa kalah.

Saya sudah agak ikhlas setelah merunut logika spiritual Gus Mus. Namun, dua hari setelah pelantikan para menteri baru, Gus Mus mengunggah petuah berikutnya ke media sosial. ”Kekecewaan adalah ujian dan sekaligus tolok ukur keikhlasan niat,” tulis guru bangsa tersebut. Saya menjadi berpikir ulang: betulkah saya sudah ikhlas? Jangan-jangan, saya sudah keliru sejak dari niat.

Mendefinisikan ikhlas itu memang seperti mengukur kedalaman hati. Siapa yang tahu? Saya memuji karib saya, Habib Abu Bakar, yang tidak terpilih sebagai anggota DPRD Sukoharjo dalam pemilu tahun ini. ”Sudah ikhlas?” tanya saya. Dengan bahasa Arab percakapan, dia menjawab ”khalash” yang maksudnya: sudah, sudah beres, selesai. Saya tersentak menyadari akar kata ikhlas.

Dalam QS Al Ikhlash pun, tidak ditemukan kata ”ikhlas” di seluruh ayatnya. ”Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah, Tuhan yang segala sesuatu bergantung pada-Nya. Dia tidak beranak, tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada satu pun yang setara dengan Dia.” Demikian surat nomor 112 itu berbunyi. Secara maknawiah, bicara ikhlas itu berarti tidak bicara lagi selain bicara tentang Allah.

Jika segala sesuatu perbuatan bergantung pada niatnya, sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad saw, dan Gus Mus menegur kita untuk ikhlas sejak dari niat, alangkah berat sekaligus mulia meniatkan segala sesuatu perbuatan untuk Allah semata, lillahi ta’ala. Ikhlas berasal dari kata akhlasha, yukhlishu, ikhlash. Artinya membersihkan, memurnikan, sesuatu dari anasir-anasir yang menodainya.

Saya tidak sedang sok-sokan fasih tasrifan. Tentang akar kata ikhlas itu, saya bertanya kepada salah satu guru nahwu shorof saya, Habib Muhammad Taufik. Tapi, dasar santri belagu, saya sodorkan teori sendiri untuk memahami ikhlas. ”Mudahnya begini, orang yang ikhlash adalah orang yang sudah bisa berkata khalash. Orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.” Guru saya tertawa. (*)


*) Candra Malik, budayawan

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads