alexametrics

Bambang Paningron dan Asia Tri

Oleh: Whani Darmawan
22 September 2019, 18:03:22 WIB

BAMBANG Paningron Astiaji dan Asia Tri adalah dua nama yang tak terpisahkan. Yang pertama adalah sosok organizer tangguh di dunia kesenian dengan basis kegiatan di Yogyakarta. Asia Tri adalah festival seni pertunjukan tiga negara tahunan yang sudah berlangsung sejak tahun 2006 hingga kini.

Paningron, demikian panggilan sehari-hari laki-laki yang meniti kerja kebudayaan sejak tahun 1986 ini, adalah pribadi dengan talenta yang rangkap. Asia Tri adalah salah satu event ”karya cipta” Paningron bersama dengan penari Bimo Wiwohatmo, Yang He Jin (Korea), serta Soga Masaru dan Izumi Nagano (Jepang) yang muncul pada tahun 2005 seusai acara Jogja Art Fest.

Waktu itu muncul untuk membangun kolaborasi antarnegara. Tiga negara itulah inisiatornya. Sejak saat itulah Asia Tri bergulir tergelar setahun sekali, setidaknya pentas di Indonesia dan Jepang.

Pada tanggal 24-25 September 2019 nanti Asia Tri akan kembali digelar di Karangklethak, Kaliurang, Yogyakarta, menyusul pergelaran yang sudah dilewatinya pada tanggal 31 Agustus dan 1 September 2019 di Kota Akita, Jepang. Edisi Asia Tri Yogya kali ini diikuti seniman pertunjukan dari beberapa negara: Indonesia, Jepang, selain Jepang Korea, Malaysia, Filipina, Kamboja, dan Singapura. Sementara dari Indonesia sendiri hadir seniman pertunjukan dari Lampung, Indramayu, Solo, Toraja, dan Jogja. Kurang lebih 20 peserta.

Demikian keukeuh dan betah mengelola kesenian segmented yang notabene selalu melahirkan pameo ”kurang dicukupkan” alias tombok? Visi apa yang melatarbelakangi gerakan itu?

Menurut pria kelahiran Yogyakarta 50 tahunan silam dengan zodiak Gemini itu, Asia Tri bukan sekadar pergelaran seni, tapi juga suatu usaha untuk mengedepankan solidaritas, keragaman, dan toleransi. ”Pertemuan” adalah ruang bersama, untuk saling belajar, mengalami dan menghargai melalui ”intercultural experiential learning”.

Sebab, menurut aktor pendukung film Sultan Agung karya Hanung Bramantyo tersebut, salah satu syarat kemajuan seni pertunjukan Indonesia adalah luasnya ruang pergaulan seniman-senimannya. Asia Tri memberi ruang itu dalam keterbatasannya.

Apakah itu berarti Paningron ingin mendudukkan seni sebagai alat diplomasi budaya?

”Tidak,” jawab tegas Paningron yang beribu seorang penari bedhaya dari keraton. ”Dalam konteks formal, dalam hub G-to-G, diplomasi budaya sangat tidak menarik karena kesenian dijadikan alat. Tapi, dalam konteks C-to-C, kesenian menjadi ruang ekspresi yang membangun pemahaman dan solidaritas. Asia Tri tidak dimaksudkan sebagai alat untuk diplomasi budaya. Kami ingin lebih dari itu. Kami ingin memberi makna yang lebih luas tentang kesenian yang borderless (lintas batas yang tidak terbatas). Dunia politik luar negeri bisa gaduh, tapi kami tetap berjabat dan berpelukan.

Contohnya pada saat Malaysia dan Indonesia tegang karena isu pengakuan sepihak atas karya tradisi Indonesia, kami justru mengundang mereka, bercanda dan berkesenian bersama. Kami juga sangat tertarik untuk mengembangkan Asia Tri sebagai Global Citizen Fest.”

Lalu bagaimana alumnus SMA Kolese De Britto (lulus 1983) dan UGM Fakultas Sosial Politik Jurusan Komunikasi (tidak lanjut) itu membiayai program tahunan tersebut? ”Para inisiator di sini bukan bos. Kami menyangga pelaksanaan ini dengan cara berbagi. Penyelenggaraan festival di masing-masing negara setiap tahunnya, menjadi tanggung jawab seniman masing-masing negara,” jawab Paningron tanpa menyebut detail keterlibatan pihak swasta maupun pemerintah.

Tercatat dalam perjalanan sejarah kegiatan sosial budaya, Paningron tidak saja menginisiasi hadirnya Asia Tri, tetapi juga deretan event prestisius lainnya. Pada 2002 ia memimpin produksi pertunjukan Wayang Ukur dalam acara International Puppet Festival, di Magdeburg, Germany. Tahun 2016 menjabat Art Director, World Cultural Forum, Bali. Dan yang teraktual pada 2019 ini, dia terpilih sebagai ketua Parfi (Persatuan Artis Film Indonesia) Yogyakarta.

Paningron adalah pribadi pemimpin yang menarik, humble dan cool. Ia tampak selalu bergembira dalam bekerja. Apakah sejak kecil ia merasa punya bakat memimpin? Ia tertawa kemudian menjawab, ”Biasa saja, cuma kadang risi ketika melihat sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya.”

Dengan kesederhanaan itu tahun depan (2020) ia merencanakan membuat selebrasi Asia Tri ke-15, dengan mengundang semua ”alumni” Asia Tri. Semacam reunifikasi ”The Big Family of Asia Tri”.

Sebagaimana orang yang sudah berjalan jauh, sebenarnya ia ingin ada regenerasi. Bukan karena ia lelah, tetapi karena menurutnya sudah saatnya muncul anak-anak muda yang berani mengambil alih inisiatif ini.

Jangan lupa pergelaran Asia Tri, 24-25 September 2019. Di Karangklethak, Kaliurang, Yogyakarta. (*)


Whani Darmawan, seniman teater, dramawan, aktor, dan sutradara

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads