alexametrics

Satu Jam: Stasiun dan Restoran

Oleh Bandung Mawardi
21 Juli 2019, 17:17:51 WIB

PADA 1989, orang-orang kasmaran terlena mendengar lirik lagu: Jangan berakhir/ aku tak ingin berakhir/ satu jam saja/ kuingin diam berdua/ mengenang yang pernah ada// Jangan berakhir/ Karena esok tak akan lagi/ satu jam saja/ hingga kurasa bahagia/ mengakhiri segalanya.

Pengharapan itu dilantunkan Asti Asmodiwati. Orang-orang kasmaran mengingat lagu itu berjudul Satu Jam Saja. Lagu belum jemu didengar dan mengenang masa lalu meski situasi masa sekarang terlalu berubah. Abad XXI seperti menampik hasrat orang bernostalgia. Ingatan gampang berjatuhan dan tercecer.

Kini ”satu jam saja” tak harus mengingatkan lagu bertema asmara. Kita mulai ingin membuat ingatan untuk peristiwa pertemuan Joko Widodo (Jokowi) dengan Prabowo Subianto 13 Juli 2019.

Pertemuan dimulai di Stasiun MRT Lebak Bulus (Jakarta) berlanjut ke Stasiun Senayan. Mereka berjalan berdua diiringi puluhan orang dan ditonton ratusan orang menuju restoran di pusat perbelanjaan. Dua tokoh tenar yang ingin makan bersama. Di restoran, mereka bersantap dan bercakap.

Peristiwa demi peristiwa menjadi ”tontonan” politik bagi publik gara-gara disiarkan langsung oleh televisi. Para pembaca berita dalam bentuk kata-kata dan foto tercetak bersabar menunggu untuk mengerti peristiwa dan tokoh.

Kita tak pernah membaca ada ”satu jam saja”. Berita ingin mengajak kita berpikir makna waktu di hitungan satu jam sanggup meredakan keriuhan politik dan mengumumkan pengharapan bersama demi Indonesia.

Satu jam itu sudah berakhir, tak seperti keinginan Asti Asmodiwati. Jokowi dan Prabowo sudah bersalaman, bercakap, dan makan bareng mengartikan ”kemesraan” politik. Berdua sedang mencipta kenangan bagi anak-cucu di masa depan. Mereka pernah bertarung di hajatan demokrasi, memiliki hak untuk bersua dan bergandengan memuliakan Indonesia dengan pelbagai sangsi dan ramalan.

Satu jam ”saja” mungkin berpamrih membuat Indonesia ”bahagia”, meniru keinginan dalam lagu Asti Asmodiwati. Hajatan demokrasi berakhir, satu jam pertemuan pun berakhir. Peristiwa-peristiwa itu menandai bakal ada gubahan ”lagu merdu” dilantunkan bersama oleh para elite politik, menempuhi rel waktu 2019–2024.

Pertemuan di stasiun. Mereka berada di Jakarta. Beruntung mereka tak menjadwalkan pertemuan di Stasiun Balapan (Solo). Mereka bisa menangis jika bertemu dan bercakap di stasiun yang telanjur terasosiasikan dengan ”kecengengan”. Stasiun yang menguak asmara picisan di lagu Didi Kempot. Lagu berjudul Stasiun Balapan masih terus dilantunkan dan menjadi lagu cengeng sepanjang masa.

Di Stasiun Lebak Bulus dan Stasiun Senayan, Jokowi dan Prabowo tak memesan lagu untuk didengarkan bersama. Lagu belum perlu pada kehangatan pertemuan yang dikepung keramaian. Lagu-lagu asmara cengeng biarlah milik kaum kasmaran memilih cuti dari politik mutakhir.

Kaum keranjingan sastra mungkin berlagak ingin mengenang peristiwa di stasiun mengacu ke novel gubahan Putu Wijaya. Pada 1979 terbit novel berjudul Stasiun. Putu Wijaya tak pernah meniatkan itu novel di peristiwa politik bakal tergelar di Indonesia abad XXI.

Dulu Stasiun menang dalam Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta (1975). Pada masa 1970-an, stasiun menjadi tempat puitis. Para pengarang menggubah puisi, cerita pendek, dan novel berlatar atau mengenai stasiun. Keranjingan itu sampai sekarang belum dikalahkan oleh terminal bus atau bandara. Stasiun terus menggerakkan sastra Indonesia, belum mau berhenti. Para pengisah stasiun adalah Putu Wijaya, Mira W., Seno Gumira Ajidarma, Joko Pinurbo, dan lain-lain.

Jokowi dan Prabowo belum mau mengaku sebagai pembaca fanatik sastra Indonesia. Mereka tak sempat memikirkan stasiun berkaitan kesusastraan. Urusan mereka adalah pertemuan berdalih demokrasi dan ”imajinasi” Indonesia masa depan. Mereka bukan pembaca novel Stasiun (Putu Wijaya) atau Masih Ada Kereta yang Akan Lewat (Mira W.).

Dulu Putu Wijaya bercerita keterasingan dan sepi. Novel berkaitan filsafat. Mira W. (1982) memilih mengisahkan jalinan asmara menegangkan dan menakjubkan. Pembaca boleh menangis.

Joko Pinurbo memilih menulis puisi berjudul Di Stasiun. Puisi jarang terbaca gara-gara tak terlalu digemari. Puisi pendek ditulis pada Maret 1985. Kita membaca: kan lebih lama lagikah kita menunggu?/ bulan (lihat!) teronggok di bangku-bangku// kereta sudah lama lalu (kata seseorang di sampingmu)/ suaranya (dengar!) gemuruh di kota impian itu. Puisi ditulis saat Joko Pinurbo berusia 23 tahun.

Prabowo datang dulu ke Stasiun Lebak Bulus menunggu kedatangan Jokowi. Di situ, para wartawan pun menunggu untuk memotret dua tokoh berbaju putih salaman. Prabowo menunggu tak seperti dalam puisi gubahan Joko Pinurbo.

Gerak kedua tokoh terus disorot kamera para wartawan. Kita belum bisa memastikan ada sastrawan turut di peristiwa mendebarkan, dari stasiun ke stasiun, berakhir di restoran. Di situ, peristiwa makan mirip pentas teater. Jokowi dan Prabowo menjadi ”aktor”. Kita belum mendapat judul untuk pentas yang berlangsung sekian menit. Di situ, ”dua aktor” besar makan berbeda menu. Makan itu teater! Para seniman teater kelak bisa mengalihkan pentas di restoran ke Taman Ismail Marzuki atau Gedung Kesenian Jakarta.

Prabowo memilih menu sate kambing. Jokowi memesan pecel. Selera berbeda, tapi ditaruh di atas meja mengesahkan makan bersama. Restoran menjadi ruang politik.

Sejak awal abad XX, kaum elite terpelajar dan kaum pergerakan mulai masuk ke restoran-restoran untuk percakapan politik atau bergosip. Di tanah jajahan, pilihan duduk bersama makan-minum di restoran mengartikan kemodernan atau ”kemadjoean”. Restoran jadi tempat idaman dan lazim dalam arus pergerakan politik dan intelektual. Kita saja masih kesulitan membuat daftar nama restoran, alamat, menu, pemilik, dan peristiwa penting di situ di album sejarah Indonesia.

Pengisahan restoran secara tragis justru disampaikan Afrizal Malna. Pada 1991, ia menggubah puisi berjudul Restoran dari Bahasa Asing. Puisi unik dan merepotkan bagi pembaca yang ingin wajar-wajar saja. Afrizal Malna menanggapi lakon mutakhir di perkotaan pada masa Orde Baru. Kita membaca: ”Ah, ada tamu yang lain, bikin restoran dari bahasa asing. Mereka saling gosok sepatu di tiang listrik.”

Di restoran Jokowi dan Prabowo beradegan duduk di kursi. Di depan ada meja makan. Mereka tak lesehan. Afrizal Malna (1990) pernah menulis puisi berjudul Biografi di Atas Meja Makan. Kita sajikan penggalan: ”Meja makan telah disusun lagi, di antara taplak, piring, dan sendok. Riwayat hidupmu dibaca lagi, penuh kawat berduri.” Kita masih belum mengerti.

Restoran mengingatkan pada rezim Orde Baru. Afrizal Malna (2005) dalam memoar mengungkapkan nasib diri dan keluarga: ”Orde Baru kemudian mengubah semuanya. Restoran kami digusur. Ayah lalu banyak ditipu oleh teman-teman dagangnya sendiri. Dan kehidupan restoran yang sebelumnya tidak menggunakan sistem gaji, melainkan bagi hasil, mulai berubah.” Restoran teringat kekuasaan. Pada abad XXI, restoran pun kekuasaan dalam adegan makan bersama disorot kamera. Begitu. (*)

Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi

Editor : Dhimas Ginanjar

Close Ads