alexametrics

Berlayar di Samudra Dongeng

Oleh: Ahmadul Faqih Mahfudz
20 Oktober 2019, 18:48:12 WIB

’’AYAH, aku tidak pernah paham buku-bukumu,’’ ucap Zafar kepada ayahnya, ’’bikinlah dongeng untukku.’’

Mendengar gugatan sekaligus bujukan anaknya, sang ayah kemudian menulis sebuah buku untuknya. Buku yang dia beri judul Haroun and the Sea of Stories itu terbit pada 1990. Belasan tahun kemudian, lelaki itu juga menulis Luka and the Fire of Life. Buku lanjutan yang diterbitkan pada 2010 ini dia persembahkan untuk Milan, anak keduanya.

Zafar dan Milan adalah dua anak Salman Rushdie, sastrawan yang lahir di Mumbai, India, yang mengguncang dunia dengan dua novelnya: Midnight’s Children dan The Satanic Verses. Bersama tokoh Harun, Luka, juga Rasyid Khalifa si pendongeng, Rushdie membawa anaknya bertualang menyusuri fantasi, mitologi, permainan kata, juga simbolisme dalam dongeng Haroun and the Sea of Stories dan Luka and the Fire of Life.

Kalau Anda bukan sastrawan seperti Salman Rushdie, dan jika anak Anda tidak pernah menggugat atau membujuk sebagaimana Zafar, alangkah mengesankan bila Anda membacakan buku dongeng untuknya. Tapi, mungkin ada yang bertanya, apa manfaat dongeng bagi anak-anak? Dan mengapa orang tua perlu membacakan buku-buku dongeng untuk anaknya?

Bila sebuah dongeng adalah sebuah dunia, membacakan dongeng untuk anak adalah menemani mereka tamasya ke dunia itu. Membacakan dongeng kepada anak tidak hanya memiliki efek personal, tapi juga sosial. Membacakan dongeng tidak pula hanya mematangkan diri anak dalam aspek intelektual, tapi juga emosional, bahkan spiritual.

Ada banyak manfaat membacakan dongeng kepada anak. Di antaranya, pertama, menumbuhkan minat baca. Setelah dongeng-dongeng itu dibacakan orang tuanya, anak akan dihunjam rasa penasaran kepada tokoh, latar, atau alur cerita yang baru saja disimaknya. Rasa penasaran itu merupakan modal kreatif yang bagus bagi anak. Karena penasaran, dia akan berburu buku sekaligus keranjingan membaca demi menuntaskan dahaga keingintahuan akibat guyuran cerita yang pernah diteguknya.

Kedua, meluaskan imajinasi. Menyimak pembacaan dongeng akan membawa anak bertualang dari satu manusia ke manusia lain; dari satu karakter ke karakter lain; dari satu kota ke kota lain; dari satu jazirah ke jazirah lain; dari satu pulau ke pulau lain; dari satu negeri ke negeri lain; dari satu benua ke benua lain; dari satu peradaban ke peradaban lain; dari satu planet ke planet lain; bahkan dari satu dunia ke dunia lain. Sebuah petualangan imajiner yang seru dan mendebarkan bersama kata-kata dan metafora. Petualangan ini akan membuatnya tumbuh menjadi anak yang kaya imajinasi sehingga kelak dia memiliki kecerdasan yang tidak dimiliki teman-temannya.

Ketiga, memperkaya dan mengalami kata. Ketika orang tua membacakan dongeng, anak akan mengamati kata per kata yang dilafalkan. Anak juga akan mengamati intonasi serta mimik orang tuanya saat membaca. Dalam proses ini, anak tidak hanya merekam kata, tapi juga mengenali makna dan mengalami getarannya, melalui ekspresi orang tuanya. Dengan begitu, bagi anak, pengalaman berbahasa kemudian tidak hanya menjadi pengalaman rohani, tapi juga pengalaman jasmani.

Saat menyimak orang tuanya membacakan kata per kata dalam cerita, anak juga sedang melatih dirinya menjadi pendengar, bukan hanya pembicara. Latihan semacam ini sangat bermanfaat bagi anak karena dia akan memiliki empati yang besar terhadap orang lain. Anak akan menjadi pribadi yang indah karena mendahulukan kepentingan orang lain ketimbang kepentingan sendiri.

Keempat, mengembangkan karakter. Ketika dongeng dibacakan, anak sedang membayangkan dirinya sebagai tokoh dalam cerita. Dongeng-dongeng bagus memiliki tokoh-tokoh dengan karakter yang kaya. Di momen ini, anak akan menempatkan diri, bahkan mempertanyakan eksistensinya, di antara karakter-karakter yang kompleks itu. Saat orang tua membacakan dongeng di hadapannya, sebenarnya anak juga sedang membangun dan mengembangkan karakternya.

Kelima, mencerdaskan emosi. Tanpa diminta, anak akan belajar dari tokoh-tokoh dalam dongeng yang disimaknya. Kejujuran, keberanian, atau keteguhan memegang prinsip kebenaran sebagai karakter tokoh-tokoh dongeng akan dia teladani dalam keseharian. Misalnya, anak akan semakin cinta kepada ibunya dan tidak ingin menjadi anak durhaka setelah menyimak dongeng Malin Kundang yang begitu kondang.

Keenam, media penyampai pesan. Menasihati anak secara langsung sering kali gagal, bahkan bisa membuat anak marah. Kalau ini terjadi, orang tua perlu menyisipkan nasihat melalui pembacaan dongeng untuknya. Dongeng yang dipilih bisa disesuaikan dengan kebaikan apa yang ingin orang tua tanamkan ke dalam jiwa anaknya. Kalau anak suka berbohong, bacakanlah kepadanya dongeng tentang Pinokio karya Carlo Collodi. Atau, bacakanlah dongeng tentang raja yang bodoh karya Hans Cristian Andersen kalau Anda tidak ingin memiliki anak yang tamak dan sombong.

Manfaat ketujuh, membacakan dongeng adalah sarana terbaik untuk berkomunikasi dengan anak. Ketika menyimak orang tuanya membacakan dongeng, anak merasakan kedekatan yang lebih dari biasanya. Anak akan merasa percaya diri saat diperkenalkan kepada tokoh-tokoh di dalam cerita, merasa aman saat diajak masuk ke sebuah dunia tak berhingga, tempat keindahan dan kebijaksanaan berada. Inilah keintiman puitis antara anak dan orang tua yang sulit didapatkan dalam momen interaksi lainnya.

Berdasar tujuh manfaat itu, bacakanlah untuk anak-anak Anda, misalnya, dongeng-dongeng dalam Kisah 1001 Malam. Kisah-kisah epik sepanjang zaman dalam buku itu berkisah tentang malam-malam Syahrayar dan Syahrazad, tentang petualangan Sindbad dan Aladdin, juga tentang romantika keluarga Ali Baba dan Qamaruzzaman yang diramu dari abad pertengahan. Dongeng-dongeng penuh kearifan dari dunia binatang seperti Kalilah dan Dimnah karangan Al-Farasi, atau dongeng Hayy bin Yaqdzon tentang manusia dalam asuhan rusa karya Ibn Thufail, juga terlalu lezat bila tidak disajikan ke dalam jiwa mereka.

Senada dengan dongeng-dongeng itu, hikayat tentang para nabi, mesias, santo, atau kehidupan para sufi juga bagus dihidangkan ke hadapan mereka. Dengan menyimak hikayat manusia-manusia agung itu, anak akan mengenal lalu meneladani perangai agung mereka dalam menjalani kehidupan yang agung ini.

Kalau bacaan-bacaan tersebut sulit didapatkan, Anda bisa membuka kumpulan dongeng di laman sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id yang dikelola Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Anda juga bisa mengunduh buku-buku dongeng atau buku cerita dalam bentuk virtual di laman badanbahasa.kemdikbud.go.id yang dikelola Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan.

Jika pembacaan dongeng semacam ini telah menjadi budaya dalam keluarga, anak akan otomatis memiliki tradisi membaca. Budaya literasi keluarga ini juga akan menumbuhkan sikap kritis dan skeptis dalam dirinya. Kritis dan skeptis diperlukan agar anak memiliki karakter yang kuat, tidak mudah terpengaruh oleh ucapan atau tindakan dari luar dirinya yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Dengan begitu, budaya literasi dalam keluarga tidak hanya tumbuh, tapi juga berbunga.

Sebegitu pentingnya membacakan dongeng untuk anak, Albert Einstein, fisikawan genius itu, sampai-sampai berfatwa untuk orang tua di seluruh dunia: ’’Jika kau ingin anakmu cerdas, bacakan dongeng untuknya. Jika kau ingin anakmu lebih cerdas, bacakan lebih banyak dongeng untuknya.’’

Bila dongeng ibarat samudra, orang tualah perahunya, sedangkan anak adalah pelaut yang berlayar di atasnya. Kita, orang tua mereka, berharap anak-anak kita itu tak hanya berlayar, tapi juga tenggelam, lalu menyelami kedalaman dan ketakberhinggaannya. (*)


Ahmadul Faqih Mahfudz, kolumnis dan pengelola Taman Baca Anak-Anak Langit, Buleleng, Bali

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads