alexametrics

Keraton

Oleh CANDRA MALIK
19 Januari 2020, 17:02:54 WIB

MASIH belasan tahun umurku ketika diajak teman-teman kakak, yang selisih tiga tahun lebih tua, untuk menemui seseorang yang mengajarkan kejawen, pengetahuan tentang kebatinan Jawa. Bagiku, yang tidak menjadi murid, yang kudapati memang tak lebih dari pengetahuan. Namun, sepertinya kakak dan teman-temannya mendapatkan yang lebih dari itu: ilmu. Mengapa? Sebab, dipetuahkan, ”Ngelmu iku kelakone kanthi laku.” Perlu tirakat untuk memperoleh ilmu.

Meski demikian, aku suka. Pada mulanya, aku pergi karena diajak. Pada akhirnya, tak perlu lagi ditawari, aku berangkat sendiri. Makam Bergolo, nama kampung di mana guru kejawen itu tinggal. Suasana di Solo pada kurun awal 1990-an tentu berbeda dengan sekarang. Meski sebagian orang sudah menganggap membaca primbon dan serat itu pekerjaan khurafat, sekelompok dengan takhayul dan bidah, perdebatannya tidak seperti hari-hari ini di media sosial.

Singkat cerita, jadilah aku sering bertemu empat mata dengan sang guru. Sekalipun percakapan kami masih jauh dari tataran ilmu, pengetahuannya pun sudah cukup mencengangkan bagi seorang hijau muda sepertiku. Mas Sriyono namanya. Padaku, dia berkata, ”Segala sesuatu yang ada di jagat besar juga ada di jagat kecil.” Oleh pandangan umum, jagat besar dimaknai sebagai semesta yang tergelar nyata di hadapan kita ini, yang tampak dan tidak.

Lalu, apa itu jagat kecil? Ia adalah diri kita sendiri. Disebabkan posisi kita memang berada di tengah semesta raya besar ini, kitalah jagat kecil. Bahkan, teramat kecil jika dibandingkan dengan besar bumi. Cukup bumi saja, tak perlu sampai semesta raya. Namun, oleh Mas Sriyono, definisi itu tak berlaku. Dia justru membaliknya. ”Jagat besar adalah diri kita ini, sedangkan jagat kecil adalah semesta raya. Sebesar-besar jagat gede, manusialah pemimpinnya.”

Mendengar paparannya, aku yang masih kencur lebih sering mengangguk-angguk, sesekali terpana, daripada menyangkal. Lebih-lebih karena Mas Sriyono gemar menyitir peribahasa untuk diothak-athik gathuk, dikait-kaitkan sampai bisa terkait. ”Dalamnya laut bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tahu?” kutipnya. ”Mulutmu harimaumu,” lanjutnya. Sebagaimana di luar sana ada laut, begitu pula di dalam sini. Di dalam diri ini. Juga harimau. Menurutnya.

Aku yang belum lepas betul dari imajinasi kanak-kanak waktu itu spontan membayangkan benar-benar ada laut dan harimau dalam wujudnya yang kukenal. Begitu pun ketika Mas Sriyono berkata, ”Sudah pernah masuk ke Keraton Solo? Di sana, ada Gedong Pusaka dan Gedong Pustaka. Di sini, di dalam dirimu ini, juga.” Ketika telunjuknya menyentuh ulu hatiku, masih saja harfiah aku memahaminya. Di dalam diriku ada aneka keris dan serat.

Lambat laun, seiring perjalanan waktu, barulah aku mulai memahaminya secara maknawi. Laut di dalam diri kita bukan seperti laut di bumi. Ia sikap menerima kenyataan dalam hidup, menerima segala keadaan. Sebagaimana laut menerima air dari aliran sungai mana pun, begitu juga air dari langit. Laut simbol siklus kehidupan: Hujan dari langit diturunkan ke bumi untuk mengalami lika-liku perjalanan hingga air kembali ke laut, lantas kembali menguap.

”Lalu, bila di luar diri ada keraton, apakah juga ada keraton di dalam diri kita?” ujarku, mulai berani bertanya. ”Ya, bahkan dalam diri kita ini juga ada ratu, raja dari keraton tersebut,” jawabnya. Lagi-lagi, saat itu, aku membayangkan sosok bermahkota, duduk tegak di singgasana, memegang tampuk kekuasaan, bertakhta sebagai raja. Sudah barang tentu bayangan tentang keraton di dalam diri pun menyerupai lanskap keraton. Lengkap dengan alun-alun dan sitihinggil.

Aku termasuk yang meyakini bahwa bahasa menunjukkan bangsa, yang oleh karena itu peribahasa itu menunjukkan perikehidupan suatu bangsa. Aku juga termasuk bocah yang tidak minder dengan beraneka cerita rakyat di negeri ini. Kalau diejek sebagai anak bangsa kerdil, aku suka meresponsnya dengan balik bertanya, ”Superman terbang sejak tahun berapa?” Belum lagi dijawab, kusahut, ”Nah, jauh sebelum itu, sudah ada Gatotkaca yang lebih dulu terbang.”

Jikapun terbangnya Gatotkaca imajinatif, sebagaimana Superman terbang, bukankah imajinasi lebih penting dari pengetahuan? Bahkan, selain Gatotkaca, masih ada Antareja yang lihai menerobos tanah dan Antasena yang gesit menembus laut. Oleh karena kebudayaan menyediakan banyak kisah inspiratif, termasuk beragam lakon pewayangan, imajinasi ratu di dalam diri manusia menjadi mudah muncul di benak. Ratu, raja, prabu, atau apa pun sebutannya.

Namun, aku mulai bingung membayangkan rakyat dalam diriku. Siapa yang menjadi itu? Jika harimau dalam diri ialah pengibaratan untuk lisan, betapa keselamatan manusia bergantung pada perilaku lisannya, lantas adakah binatang-binatang lain dalam diri? Benar kata orang bahwa belajar tak kenal waktu dan ilmu tak ada habisnya. Benar pula sabda Nabi Muhammad SAW bahwa ada perang yang lebih besar daripada Perang Badar, yaitu perang melawan diri sendiri. (*)

Candra Malik, budayawan

Editor : Ilham Safutra


Close Ads