alexametrics

Mengekalkan Sukari

Oleh: Wahyudin
18 Agustus 2019, 18:55:29 WIB

Nyoman Sukari meninggal dalam umur 38 tahun di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, Denpasar, Bali, pada 12 Mei 2010. Penyakit liver dan paru-paru yang bersarang di tubuh sejak 2005 memaksa dia pulang ke alam baka. ”Kabar kepulangan salah satu pentolan kelompok seniman Sanggar Dewata Indonesia itu memang membuat masyarakat seni rupa Bali dan Yogyakarta berduka,” tulis akademisi seni rupa I Wayan Kun Adnyana.

Sukari wafat meninggalkan seorang istri, dua anak laki-laki, dan sejumlah lukisan, dua di antaranya saya pirsai untuk kali terakhir dalam pameran Kembali ke Masa Depan di Sangkring Art Space, Jogjakarta, 18 Oktober–27 November 2011. Yang pertama, lukisan cat minyak di kanvas berjudul Berburu (145 x 200 sentimeter) dari tahun 2003. Yang kedua, lukisan cat minyak di kanvas berjudul Truyan (145 x 200 sentimeter) dari tahun 1995.

Dua lukisan yang dipajang di dinding lantai 1 ruang seni milik perupa Putu Sutawijaya itu hadir seperti hendak menampik kenyataan bahwa sang empunya tinggal nama yang bertakhta di lidah dan hati para penghayat seni rupa di Indonesia, utamanya di Jogjakarta dan Bali. Dua lukisan itu menjadi penanda eksistensialnya, kalau bukan penyambung nyawanya, di dunia seni rupa Indonesia. Dua lukisan itu menjadi jembatan kesempatan bagi penghayat seni rupa di Indonesia, khususnya di Jogjakarta, untuk mempertautkan diri dengan daya ciptanya yang tak tepermanai.

Alih-alih, kita diperlihatkan betapa Sukari telah begitu akrab dengan tema kematian belasan tahun sebelum ajal menjemputnya. Itu juga menunjukkan bahwa Sukari termasuk pelukis yang telah mengolah pokok perupaan tengkorak jauh sebelum pokok perupaan tersebut menjadi tren di dunia seni rupa kontemporer Indonesia pada periode 2000.

Setelah sembilan tahun Sukari tinggal debu, sesudah sewindu pameran Kembali ke Masa Depan menjelma cerita, saya kembali memirsai dua lukisan tersebut dalam pameran yang diampu Suwarno Wisetrotomo dan I Gede Arya Sucitra, Trajectory: Posthumous Solo Exhibition of I Nyoman Sukari di Taman Budaya Yogyakarta pada Sabtu siang (27/7) dan Kamis malam (1/8).

Tak jauh dari dua lukisan tersebut terpajang lukisan potret Affandi serupa trofi Piala Dunia sepak bola yang terpancang di tengah lapangan hijau dengan latar langit biru tua. Takarir di sampingnya menyebut lukisan cat minyak di kanvas bertarikh 2007 itu berjudul Ilustrasi Wajah Affandi. Ukurannya 200 x 145 sentimeter.

Saya tidak tahu siapa yang membubuhkan judul itu. Seingat saya, lukisan tersebut berjudul Ilusi Hidup. Kali pertamanya diusung Sukari dalam pameran bersama 60 perupa penting Indonesia lintas generasi dan seorang pelukis Tiongkok yang bertajuk Imagined Affandi di Gedung Arsip Jakarta pada 7–14 Juni 2007. Kebetulan, saya kurator pameran yang ditaja Galeri Semarang untuk merayakan ulang tahun ke-100 pelukis legendaris Affandi.

Lukisan tersebut merupakan cara penciptaan (mode of creation) Sukari atas sosok maestro Affandi berdasar pengetahuan dan imajinasinya. Yang menarik, lukisan tersebut memperlihatkan semacam eksperimen visual Sukari dengan seni rupa kontemporer.

Dalam hal itu, setidaknya dua tahun di akhir hayatnya, Sukari melahirkan banyak lukisan yang berkecenderungan kepada gagasan filosofis, permenungan eksistensial, dan komentar sosial. Sebutlah, misalnya, Wajah Demokrasi (2008, cat minyak di kanvas, 200 x 300 [3 panel] sentimeter), Membangun Strategi (2009, cat minyak di kanvas, 202 x 320 sentimeter), Mantan Pemburu (2009, akrilik di kanvas, 145 x 200 sentimeter), dan Menunggu Cuaca (2009, cat minyak di kanvas, 145 x 200 sentimeter).

Namun, perlu saya tekankan, kecenderungan itu sudah terlihat, sekalipun tak teperhatikan, pada awal-awal proses kreatif Sukari, sebagaimana terdapat dalam lukisan Hantu Krismon (1999, cat minyak di kanvas, 150 x 200 sentimeter) dan Orang Gila (2000, cat minyak di kanvas, 150 x 200 sentimeter). Dua lukisan itu merupakan cara perhubungan (mode of communication) Sukari dalam menyampaikan pikiran, perasaan, dan tanggapan atas centang perenang reformasi dan peristiwa-peristiwa kekerasan yang menyertainya pada 1998.

Bisa dimengerti jika Orang Gila terpandang sebagai salah satu mahakarya Sukari seperti halnya dengan Wajah Demokrasi yang mengesankan bukan hanya sebagai lukisan terbesar yang pernah diciptakan alumnus ISI Jogjakarta itu sepanjang dua dasawarsa (1990–2010) berseni lukisnya, pun di antara 50 lukisan (dari koleksi Oei Hong Djien, Lin Che Wei, dan keluarga Sukari) dalam pameran Trajectory (26 Juli–12 Agustus 2019), melainkan juga kedudukannya sebagai cara pemahaman (mode of comprehension) atau ikhtiar kreatif Sukari dalam menafsirkan demokrasi di republik ini pada selembar kanvas raksasa.

Atas kecenderungannya pada yang kontemporer itu, hemat saya, Sukari menyempurnakan daya ciptanya sebagai seorang pelukis Jogjakarta asal Bali dengan lukisan-lukisan yang memungkinkan pemirsa melakukan semacam pertobatan atas realitas sosial-politik yang karut-marut.

Sementara itu, pada sejumlah lukisan Sukari lainnya, misalnya, Tumbal Parusa-Pradana (1994, cat minyak di kanvas, 150 x 200 sentimeter), Tiga Pemburu (2001, cat minyak di kanvas, 150 x 300 sentimter), dan Ragda (2003, cat minyak di kanvas, 197 x 147 sentimeter), pemirsa dapat menyaksikan keprigelan dan kesaksamaan artistik lewat sapuan, goresan, dan lelehan yang magis dan menggetarkan.

Karena itu, saya bisa mengerti mengapa lukisan-lukisan Sukari semacam itu begitu diminati pembutuh dan pencinta karya seni lukis di Indonesia, terutama saat Sukari masih hidup. Kalau kemudian, khususnya setelah Sukari meninggal dunia, lukisan-lukisannya mengalami penurunan nilai komersial, saya kira itu soal ekonomi-politik penjajaan karya seni rupa(wan) Indonesia yang tuna acuan.

Itu sebabnya, pameran Trajectory itu, yang juga memajang 13 drawing di kanvas, 29 karya cat air dan akrilik di kertas, 35 sketsa, dan 11 karya media campuran di karton, menjadi penting. Tapi bukan untuk sekadar mendongkrak harga lukisan-lukisan Sukari, melainkan mengekalkan daya cipta Sukari yang tak tepermanai.

Tak kurang dari itu adalah bagaimana mengekalkan ”konteks” lukisan-lukisan Sukari dalam khazanah seni rupa Indonesia dengan pengkajian, penelitian, dan pewacanaan yang saksama dalam tempo secukup-cukupnya. (*)

Wahyudin, kurator seni rupa, tinggal di Jogjakarta

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads