alexametrics

Baju Adat dan Keindonesiaan Kita

Oleh: Aris Setiawan
18 Agustus 2019, 18:31:22 WIB

HAMPIR saban tahun masyarakat menyaksikan ”parade” baju adat yang digunakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia.

Sehari sebelum upacara tujuh belasan, saat berpidato di sidang bersama DPD dan DPR RI, Jokowi memakai pakaian adat Sasak. Sementara itu, tepat saat upacara Hari Ulang Tahun Ke-74 Republik Indonesia (17-8-2019), Jokowi tampil dengan mengenakan baju adat Bali. Hampir semua tamu undangan yang datang juga berlomba-lomba memakai baju adat dari berbagai daerah di Indonesia.

Pakaian adat menjadi simbol tentang keragaman Indonesia, terdiri atas berbagai suku dan etnis. Dominasi jas dan songkok hitam yang selama ini sering dijumpai pada upacara-upacara kenegaraan, hari itu tak tampak. Kita melekatkan gagasan dan wacana lewat sandang. Apa yang kita pakai akan merepresentasikan dari mana kita berasal, bagaimana karakter dan kultur yang dibangun. Karena berbusana adat berarti mencoba menunjukkan eksistensi diri dan sekaligus penguatan tentang identitas kebangsaan negeri ini.

Tak Sekadar Kain

Baju bukan semata rajutan benang yang menutupi tubuh. Baju menjadi benda eksistensial. Baju menunjukkan harga diri. Karena itu, penilaian akan seseorang sering dilakukan lewat seperangkat baju yang dikenakannya. Baju kemudian menjadi pengisahan tentang kaya dan miskin, kota dan desa, serta kuno dan kini.

Masyarakat Indonesia menempatkan sandang pada urutan pertama, diikuti pangan dan papan. Hal itu berarti bahwa baju adalah pemuliaan tentang kebijaksanaan hidup, menempatkan manusia sebagai ”manusia”, membedakan diri dengan makhluk lain. Tradisi kemudian memberikan penekanan tentang makna sandang atas nama baju adat.

Baju adat melekatkan dirinya dengan simbol-simbol dan nilai-nilai yang hakiki. Persoalan warna, bahan, dan jahitan bukanlah peristiwa yang sepele, tapi cenderung kompleks dan rigid. Kekompleksan dan kerigidan itu adalah hasil akumulatif dari perenungan dan pengembaraan makna yang panjang.

Karena itu, berbaju adat menumbuhkan kebanggan dan kecintaan. Kita dipersatukan lewat baju adat yang kita pakai. Sekat-sekat dan batas antara kaya-miskin serta tinggi-rendah, oposisi-koalisi, menjadi hilang. Dengan berbaju adat, semua setara dan seimbang. Tidak ada kalah-menang, superior-inferior, besar-kecil.

Hal itu sekaligus mendekonstruksi pandangan kaum kapitalis yang menempatkan baju sebagai pemujaan akan modernitas. Baju-pakaian atas nama zaman selalu berubah, dari bentuk dan gaya. Masyarakat mengikuti agar tidak dikata ketinggalan zaman, katrok, udik, dan ndeso.

Namun, sejatinya semua kembali pada persoalan hitung-hitungan untung rugi yang kapitalistik. Model, gaya, dan bentuk sengaja dilahirkan demi pamrih kapital. Wacana dan stereotipe dibangun lewat baju. Kita kemudian memberikan dikotomi antara yang pantas dan tak pantas untuk dipakai.

Di balik ingar bingar baju-baju baru, kita seringkali melupakan baju adat sebagai sebuah pewarisan tradisi. Bahkan, tak jarang baju adat berhadapan dengan berbagai penilaian yang cenderung merendahkan, berkonotasi negatif, kuno, terbelakang. Memakainya memunculkan rasa minder dan malu. Sama dengan musik tradisi, memainkannya melahirkan cibiran dan sindiran.

Karena itu, memakai baju adat dalam berbagai seremonial dan upacara kenegaraan (terutama hari kemerdekaan beberapa tahun belakangan) adalah sebuah harapan baru bagi nasib hidup baju-baju adat di negeri ini agar tak melulu dianggap berpamit mati. Setidaknya, berbaju adat memberikan teladan berharga bagi generasi (milenial) negeri ini. Berbaju adat dapat memberikan penyegaran dalam kemonotonan berbusana saban hari.

Selama ini nasib hidup baju adat semata hanya menjadi gugusan wacana dan ide bagi para desainer, agar rancangannya dianggap eksentrik karena berbasis tradisi. Baju adat berpendar dalam wacana, tapi tak dapat tampil secara imanen alias mandiri.

Tak ada salahnya pula jika dapat dibentuk hari baju adat nasional, di mana setiap orang dengan berbagai latar suku dan etnis memakai baju adat versi mereka. Hal yang lebih penting adalah menggelorakan wacana dan pemikiran baru, bahwa berbaju adat adalah sebuah kebanggan diri.

Dalam deklarasi itu, kita melihat parade baju adat dipertontonkan. Tradisi memberikan penguatan untuk semakin menumbuhkan kecintaan bagi Indonesia. Hal tersebut juga menjadi semacam oase di kala akhir-akhir ini gejolak menentang pluralisme gencar terjadi. Paham-paham radikal yang berusaha menyeragamkan manusia Indonesia bermunculan, bahkan sering menggunakan agama sebagai kedok.

Oleh karena itu, menunjukkan kekayaan tradisi yang kita miliki menjadi detoksifikasi atas semua itu. Perayaan hari kemerdekaan adalah sarana aktualisasi untuk kembali mengingatkan tentang arti penting perbedaan.

Bukankah kebudayaan nasional dibangun dari puncak-puncak kebudayaan daerah yang berbeda itu? Berbaju adat, bermusik tradisi, berbahasa daerah, adalah sebentuk penghargaan bagi Indonesia dalam menjaga marwah keindonesiaan kita di hari ini.

Aris Setiawan, esasis, pengajar di ISI Surakarta

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads