alexametrics

Djaduk

Oleh: Candra Malik *)
17 November 2019, 16:48:58 WIB

DJADUK Ferianto itu tipikal seniman tulen. Setidaknya dalam pandangan saya. Dari kumis dan jenggotnya yang tebal dan berantakan saja, saya sudah terinspirasi. Entah bagaimana dia ngesun sayang pada istri dan anak-anaknya tercinta, saya menahan geli membayangkannya.

Djaduk membiarkan rambut panjangnya semrawut, meski dia sering pula menggelungnya mirip seorang resi bijak bestari. Belum selesai saya melamun, tiba-tiba dia membuyarkannya.

’’Halo, Bung! Mau ke mana?’’ tegur Djaduk, yang rupanya berjalan mendekat saat saya menemukan rautnya di antara kerumunan penumpang pesawat di Bandara Halim Perdanakusuma.

’’Halo, Mas. Wah, malah bertemu di sini. Aku mau ke Jogja,’’ sahut saya. Kami duduk bersebelahan di ruang tunggu, lantas mengobrol. Empat tahun telah berlalu, saya tersadar betapa sejak petang itu saya suka menggelung rambut.

Terlalu tinggi angan jika saya sampai punya nyali untuk meniru Djaduk lebih dari urusan rambut. Isi kepalanya tentu sangat jauh lebih penuh dan warna-warni daripada kepala saya yang entah setengah isi atau setengah kosong ini. Walau sama-sama pernah meraih Piala Vidia sebagai Penata Musik Terbaik, Djaduk pada Festival Film Indonesia 1995, sedangkan saya pada 2014, tetap saja jarak saya darinya bagai bumi dan langit.

Saat Djaduk menulis pesan pendek, menilai lagu saya yang berjudul ’’Samudera Debu’’ adalah karya yang ’’gila’’, saya sudah girang luar biasa. Apalagi ketika dia dan kawan-kawan seniman Jogjakarta lainnya bersedia ikut dalam pembuatan klip video lagu itu, rasa syukurnya tak habis sampai sekarang. Lagu dari album Kidung Sufi 2012 itu saya bikin berkolaborasi dengan Jogja Hip-Hop Foundation, Shaggydog, dan Sujiwo Tejo.

Butet Kartaredjasa, kakak Djaduk, juga ikut dalam klip video itu. Nah, ini. Djaduk bukan kakak Butet, tapi adiknya. Masih ada orang yang sering keliru soal ini. Maklum, Djaduk lebih cuek soal penampilan. Uban dibiarkan merdeka di rambutnya yang berantakan itu. Tapi, soal kakak beradik ini, saya lebih sial. Djaduk menuduh saya berkakak seseorang yang saya takkan pernah mau jadi adiknya. ’’Sampean adiknya Prie GS ya?’’ serunya.

Duh, saya sangat ingin membantahnya, tapi untunglah saya masih mampu menahan diri. ’’Saya malah baru tahu dari Butet,’’ sambung Djaduk. Saya tidak mengangguk, tidak pula menggeleng, hanya menyeringai. Prie GS juga gondrong. Kumis dan jenggotnya pun dibiarkannya semrawut. Tapi… ah, sudahlah. Tapi, bagaimanapun harus saya akui jiwa kekakakannya –entah apa istilah yang lebih tepat dari itu– dalam banyak kesempatan.

Terutama ketika sowan ke kediaman Prie GS yang asri di Semarang, dan ketika saya pamit lalu dia bertanya, ’’Kowe duwe sangu pora?’’ Saya rasa dia memang kakak saya. Tentu, demi menjaga gengsi, saya menjawab punya cukup uang. Tapi, Mas Prie –ya, untuk urusan ini saya rela menyebutnya Mas– tidak ragu mengatakan, ’’Nanti biar ditransfer Suha.’’ Benar saja, Suha, putri sulung Mas Prie, tak lama kemudian mentransferi saya. Hari ini, saya sowan lagi. Semoga Mas Prie membaca ini.

Kakak beradik dalam berkesenian memang bukan soal hubungan darah. Tidak melulu tentang garis biologis, tapi lebih sering soal garis ideologis. Beruntung, Djaduk memiliki keduanya. Secara biologis, dia bersaudara adalah anak-anak dari mendiang Bagong Kussudiardja, seorang seniman besar yang komplet. Tentu, semasa hidupnya, Djaduk juga punya adik-adik dan anak-anak ideologis. Melahirkan Kua Etnika dan Sinten Remen, contohnya.

Bahkan, akhir hayat Djaduk pada 13 November sungguh istimewa: tiga hari sebelum perhelatan Ngayogjazz tahun ini digelar. Seperti memberi peluang pada teman-teman, anak-anak, dan adik-adik ideologisnya untuk improvisasi memaknai kematian di atas panggung pertunjukan. Sebuah jam session tentang hidup yang bermakna. Tentang hidup yang selayaknya dirayakan. Dengan kesenian, kemanusiaan, dan keharmonisan. Dengan toleransi.

’’Dia bahkan tak mau melanjutkan lagu saat berkumandang azan, meski saat itu diminta meneruskan. Bagi Djaduk, tak mungkin lagunya bersaing dengan lantunan azan meski dia nonmuslim,’’ kata Lukman Hakim Saifuddin, mantan menteri agama.

Pada Maret 2015, ketika kami bertemu di Bandara Halim itu, Djaduk memuji, ’’Cengkok, gaya, dan lantunan azan di tiap daerah di Indonesia sangat khas. Aku menyukainya.’’

Selamat berpulang, Bung! (*)


*) Candra Malik, budayawan

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads