alexametrics
Kemenangan Tubuh yang Trauma

Catatan tentang Kemenangan Kucumbu Tubuh Indahku

Oleh HETI PALESTINA YUNANI*
15 Desember 2019, 21:01:12 WIB

TELAH lama tubuh ”teraniaya’’ oleh manusia yang menitipkan jiwanya. Bukan karena manusia yang lalai memperlakukan buruk terhadap tubuhnya sendiri. Namun, upaya membuat tubuh menjadi sempurna adalah sebuah ”penganiayaan”. Operasi plastik yang dilakukan para penguasa tubuh itu memang hak. Namun, filosofi atas tubuh yang mempunyai kuasanya sendiri tak bisa begitu saja dilanggar oleh manusia, meski ia sang pemilik tubuh itu sendiri.

Atas obsesi tubuh sempurna itu, Paus Fransiskus pernah dengan keras mengkritik usaha sebagian orang yang memermak tubuhnya sesuai yang ia maui. Apa alasan Paus? Menurut pemimpin Katolik sedunia itu, mencapai obsesi tubuh sempurna bisa menyebabkan masyarakat ingin menyembunyikan kaum penyandang cacat agar tidak menyinggung perasaan ”segelintir kaum yang mujur” atau ”membahayakan sesuatu yang dianggap ideal”.

Paus mengatakan itu ketika memimpin Misa Minggu, 12 Juni 2016, di Lapangan Santo Petrus. Di hadapannya ada kaum cacat dan orang-orang yang membantu dan merawat mereka. Paus mengatakan hal itu demi membela perjuangan kaum yang tersingkirkan dan diremehkan dalam banyak masyarakat. Menurut dia, dunia tidak menjadi lebih baik hanya karena adanya orang-orang yang ”sempurna” atau ”dipermak”.

Ia menyayangkan bahwa kepedulian seseorang tentang tubuhnya telah menjadi obsesi dan bisnis besar. Yang membahayakan lagi, pemikiran bahwa apa pun yang tidak sempurna harus disembunyikan karena mengancam kebahagiaan dan kenyamanan segelintir orang lain bisa menipiskan rasa solidaritas, saling menerima, dan menghormati antar sesama.

Ketika film Kucumbu Tubuh Indahku (KTI) meraih gelar Film Cerita Panjang Terbaik Festival Film Indonesia 2019, saya teringat akan kritik Paus tentang obsesi tubuh sempurna itu. Bukan saja secara fisik, tetapi tubuh selama ini ternyata mengalami trauma nonfisik yang lebih dahsyat. Trauma nonfisik itu begitu sangat filosofis disampaikan Garin Nugroho, sutradara, lewat tokoh Rianto, penari pria asal Banyumas yang tumbuh dalam lingkungan yang membentuknya menjadi bersifat maskulin dan feminin sekaligus.

Tanpa bicara polemik atas pemutaran film itu di bioskop, KTI mengingatkan lagi bahwa tubuh memiliki hak-hak tumbuh dan berkembang seperti jiwa yang selalu dituntut sehat. Sesehat apa? Konstruksi masyarakat kadang ikut ”cawe-cawe” menilai sesuai persepsinya sendiri. Selain tubuh yang dituntun berkembang menyesuaikan jenis kelaminnya –maskulin atau feminin– ia adalah wilayah yang tak bisa dikuasai oleh tubuh (manusia) yang lain.

Perjalanan ketubuhan Rianto dalam sifat maskulin dan feminin itulah yang mendorong Garin membuat film tersebut. Rianto yang ditemui Garin pada 2014 di ajang Indonesia Dance Festival di Jakarta menyetujui film yang didasarkan atas kehidupan pribadinya itu karena merasa bahwa ia mewakili tubuh-tubuh banyak orang di Indonesia. Itulah mengapa lewat tubuh Rianto, KTI memaparkan akan persepsi yang terbentuk atas tubuh kesenian, tubuh kebudayaan, tubuh sosial, hingga tubuh politik yang berkembang di Indonesia.

Cerita KTI yang berfokus pada tubuh Rianto itu menegaskan bahwa tubuh seharusnya menemui kebebasannya dalam meleburkan diri dengan konteks yang berkembang. Menurut Rianto, selama menari, tubuh baginya merupakan kebebasan peleburan maskulin dan feminin. Ia telah membiarkan tubuhnya mengikuti yang dimaui tanpa terikat oleh batasan-batasan yang dibentuk masyarakat, apalagi persepsi orang lain secara pribadi. Selama menari, ia belajar tentang menanamkan memori dalam tubuhnya pada peristiwa-peristiwa yang mungkin terjadi dalam tubuh, antara trauma dan spiritual tanpa batas.

Tubuh, baginya, bukan mengodekan gender tertentu. Seyogianya manusia bisa membebaskan tubuhnya sendiri untuk berkreativitas agar mencerdaskan tubuh-tubuh itu dengan pikiran positif dan memberikan ruang-ruang untuk terus melakukan perjalanannya. ”Sebenarnya perjalanan ketubuhan saya yang maskulin dan feminin itulah ide pertama saya dan Mas Garin sepakat membuat KTI. Bukan tentang LGBT atau stereotip apa yang sudah kita jejalkan pada tubuh kita sendiri,” katanya.

Itulah ketika membicarakan tubuh seseorang dalam filmnya, Garin perlu memasukkan bagaimana kebudayaan itu lahir dari bentukan sosial, pengaruh kebudayaan atau paparan paham politik yang tak sesuai. Dalam tataran umum, dampaknya seolah hanya membuat masalah antarmanusia. Namun kenyataannya, tubuh menderita trauma-trauma yang perlu dibebaskan oleh masyarakat, tak bisa dilakukan oleh satu per satu orang.

Konteks kesenian Lengger Banyumasan, Warok Jawa Timuran, Adu Sarung Makassar, dan kesenian yang lain menjadi peneguh bahwa tubuh sebenarnya telah dibebaskan dalam ranah kebudayaan yang mendukungnya tumbuh dan berkembang sesuai kebutuhan tubuh itu sendiri. ”Ketika tubuh didera oleh penamaan maskulin dan feminin itulah trauma itu timbul. Namun, ketika melebur antara dua sifat itu, maka tubuh menemui kemenangannya,” tegasnya.

Seusai kemenangan KTI, Rianto mengungkapkan kebungahannya akan kemenangan tubuh yang selama ini trauma oleh berbagai konstruksi yang membentuk persepsi salah di mata masyarakat. Keinginan lewat KTI adalah masyarakat bisa terbuka dengan film itu melalui karya seni yang berani menyuarakan kesederhanaan tubuh dengan proses diskusi yang baik. ”Tubuh menyimpan banyak trauma. Tugas kita adalah mempelajari lebih dalam lagi latar belakang atas apa yang dimiliki tubuh kita sendiri,” kata Rianto.

Dari penari idolanya, Didik Nini Thowok, Rianto belajar banyak tentang bagaimana memandang tubuh agar bisa lepas dari trauma-trauma itu. Mengutip perkataan sang maestro tari tersebut, Rianto mengungkapkan bahwa masyarakat perlu belajar untuk setidaknya tak mengatakan hal yang buruk atau persepsi negatif tentang laki-laki yang menari dalam pakaian perempuan. Seperti Didik, Rianto juga kerap berpenampilan perempuan ketika menari. Sebab, pakaian penari saat tampil adalah bukan sesuatu yang baru di Indonesia, melainkan telah memiliki sejarah yang sangat panjang terkait kebudayaan Indonesia.

Itulah makanya ketika KTI dipandang keliru sebagai film yang membela kaum tertentu, Rianto menemui kenyataan bahwa trauma atas tubuh itu sedang terus terjadi di masyarakat dan itu sudah berlangsung lama. Menghilangkan trauma-trauma atas tubuh tersebut tidak hanya harus ditempuh dengan memperlakukan tubuh sendiri atau tubuh orang lain dengan baik. Namun, pemikiran yang bebas dan merdeka atas tubuh orang lain adalah cara mempercepat agar trauma itu hilang.

Seperti kritik Paus Fransiskus atas polemik di atas terbukti bukan saja ketika membuat tubuh itu luka atau rusak trauma tubuh itu dianggap ada. Namun kenyataannya ketika orang memperlakukan tubuhnya menjadi sempurna atas nama obsesi, maka trauma itu juga dialami oleh tubuh meski hasilnya adalah membuat tubuh itu menjadi lebih baik. ”Jika upaya menyempurnakan tubuh itu membuat kita aniaya kepada orang lain dan memandang orang lain rendah, maka itulah trauma pada tubuh sedang dilakukan oleh kita kepada orang lain,” tegasnya.

Memang persepsi di pikiran setiap orang itu tidaklah ditentukan oleh tubuh, melainkan bersamaan dengan tubuh yang menyentuh dunia lewat bakti, lewat karya, lewat persembahan tindakan yang bermanfaat bagi sesama. (*)

*) Heti Palestina Yunani, jurnalis dan esais

Editor : Ilham Safutra


Close Ads