alexametrics

Senja Kala Wayang Kulit?

Oleh: Aris Setiawan *)
10 November 2019, 18:48:45 WIB

ORGANISASI Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menetapkan wayang sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity pada 7 November 2003. Sejak saat itu setiap tanggal 7 November diperingati sebagai Hari Wayang Dunia. Gayung bersambut. Tahun 2018 Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga menetapkan Hari Wayang Nasional pada tanggal yang sama.

Hari Wayang selalu dirayakan secara bergemuruh. Sudah lima tahun terakhir Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta memperingati Hari Wayang dengan serangkaian kegiatan seperti seminar, pameran, serta parade dalang 24 jam tanpa henti. Yang menarik kemudian adalah membaca nasib hidup wayang kulit ke depan dalam konteks situasi zaman yang telah begitu cepat berganti.

Masihkah wayang mampu bertahan ketika lahan-lahan kosong semakin sulit dijumpai, tak lagi menemukan ruang, sesak oleh berbagai rumah dan gedung-gedung? Bagaimana kondisi wayang kulit saat generasi milenial lebih mendamba kecepatan dan keinstanan akan segala sesuatu, sementara wayang masih digelar semalam suntuk? Di kala sebuah generasi yang telah jauh meninggalkan akar budayanya menemukan formulasi gaya bahasa yang disebutnya sebagai “bahasa gaul”, masihkah mereka memahami bahasa wayang dengan menggunakan tingkatan bahasa Jawa yang kompleks itu?

Senja Kala

Barangkali wayang kulit telah menjadi ekosistem pertunjukan yang paling kompleks. Bayangkan saja, dalam konteks itu, semua elemen seni digabungkan menjadi satu kesatuan. Lewat wayang kulit kita dihadapkan dengan wacana kesenirupaan melalui bentuk (sungging), warna dan wujud wayang, alunan musik lewat sajian gending-gending, serta permainan teater lewat peran yang disematkan pada tiap-tiap tokoh wayang. Semua itu menjadikan dalang pada awalnya dipandang sebagai seseorang yang memiliki kelebihan, tidak saja dalam konteks berolah seni, tapi juga menyangkut hal-hal yang sifatnya transendental.

Dengan demikian, menjadi dalang tidak serta-merta dapat dilakukan tanpa melalui banyak ritual. Dalang adalah pribadi manusia terpilih. Ia menjadi orang-orang liminal, antara kewarasan dan kegilaan sering kali susah dibedakan. Bagaimana tidak, seorang dalang dapat menceritakan kepedihan yang berlarat-larat lewat lakon yang dikisahkannya, padahal ia sendiri tak pernah mengalami kejadian itu. Ia dapat menarasikan indahnya surga, panasnya neraka, kahyangan, tentang cantik dan moleknya dewi-dewi, sementara ia sendiri tak pernah memiliki pengalaman perjumpaan dengan semua itu.

Dalang adalah jembatan yang membawa kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana menjadi sebuah peristiwa yang begitu nyata menghampiri manusia Indonesia. Masyarakat desa berbondong-bondong menyaksikan pertunjukan wayang kulit untuk melihat dan menikmati sebuah pengisahan tentang lakon hidup yang selama ini tak pernah dialami. Oleh karena itu, mereka bisa sangat marah pada sosok Sengkuni karena keculasan dan kelicikannya; begitu bangga pada kegagahan Bima, ketampanan Arjuna, dan kearifan Yudistira. Nama anak-anak pun diambil dari tokoh-tokoh wayang pujaan. Mereka menangis melihat begitu tragisnya perang Batarayudha, sebuah tragedi paling dahsyat di muka bumi.

Melihat wayang adalah melihat sesuatu yang selama ini hanya ada di alam imajinasi. Karena itulah wayang menjadi sangat menarik, hiburan yang ditunggu dan dinikmati hingga larut pagi. Dalang pun tak pernah bosan mengisahkan kebaikan-kebaikan (tontonan-tuntunan).

Hamparan dunia wayang hanya kelir putih. Tapi, warna itu dapat menjadi apa pun dalam imajinasi penontonnya. Tentang kerajaan Amarta yang begitu megah, gunung-gunung yang tinggi, serta langit yang luas. Karena itu, melihat wayang tidak cukup dengan hanya bekal mata dan telinga, tapi juga pemikiran yang mencakup mimpi dan imajinasi. Sebuah peristiwa yang saat ini begitu langka dijumpai. Di hari ini, kelir putih itu tetaplah kelir putih, tak pernah menjadi apa pun dalam imajinasi generasi kiwari.

Dalang menyadari bangkrutnya imajinasi sebuah generasi. Karena itu, wayang kulit berubah menjadi realis. Tiba-tiba kelir putih itu memunculkan awan yang dipendarkan dari alat proyektor saat Gatutkaca terbang di langit. Tiba-tiba muncul gambar gunung dan hutan saat Pandawa berlari dan bersembunyi karena kalah bermain judi dengan Kurawa (lakon Pandawa Dadu). Atau, saat berperang, muncul percikan api dan asap saat persentuhan senjata antara kedua tokoh terjadi.

Semua itu dilakukan untuk menggantikan imajinasi yang hilang hari ini. Terlebih mendatangi pertunjukan wayang kulit mutakhir tak hendak menikmati lakon atau suguhan cerita, tapi melihat biduan-biduan penyanyi dangdut yang menyertai. Begitu frontalnya keinginan untuk bertahan hidup, sinden (vokalis perempuan) –yang selama ini duduk bersama pengrawit (musisi gamelan) di belakang dalang– dipajang layaknya etalase kecantikan dan kemolekan tubuh di samping kanan dalang menghadap penonton.

Sinden adalah pikat terkini dalam menarik simpati penonton. Karena itu, sering kali tak butuh suara bagus, yang penting memiliki tubuh dan wajah menggoda. Mereka tak hanya duduk, tapi diharuskan pula bisa menari dan berinteraksi manja dengan dalang serta penonton. Akibatnya, pertunjukan wayang terkini lebih banyak diisi berbagai banyolan daripada sajian lakon yang kontemplatif.

Di balik itu semua, pertanyaan mendasar yang tak lekas mudah untuk dijawab adalah: masih pentingkah kita menonton pertunjukan wayang dewasa ini saat lakon-lakon kehidupan di dunia nyata lebih dramatis daripada lakon-lakon di atas panggung wayang? Bukankah kini muncul banyak Sengkuni yang lebih culas daripada Sengkuni ala panggung wayang? Bukankah kehidupan kita saat ini sudah sangat wayang dibanding wayang itu sendiri? Akankah kini dan nanti adalah sebuah senja kala bagi kehidupan wayang kulit? Semoga saja tidak. (*)


*) Aris Setiawan, etnomusikolog, pengajar di ISI Surakarta

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads