alexametrics

Rumah

Oleh Candra Malik
9 Februari 2020, 19:48:06 WIB

PESAN ringkas masuk ke ruang percakapan di telepon genggam saya. Wartawan sebuah surat kabar meminta waktu wawancara. Dia menginginkan perjumpaan langsung, bukan tanya jawab melalui surat elektronik. Selain ingin bertatap muka, dia berharap bisa melihat langsung keadaan rumah kami. Dan, bertemu cantrik-cantrik yang menetap satu atap dengan kami di Omah Mangkat, rumah yang saya namai dengan harapan untuk jadi titik keberangkatan menuju keridaan Allah.

Rumah ini di selatan Jakarta. Walaupun tak besar, rumah tersebut ditinggali tidak hanya oleh kami sekeluarga, namun juga oleh para cantrik yang datang silih berganti. Ada yang hanya beberapa bulan, ada pula yang satu–dua tahun. Ada yang lalu memutuskan untuk berpamitan karena tidak betah, ada yang tak ingin pisah sehingga tetap datang meski tak lagi serumah, ada yang masih ikut tinggal di sini karena merasa bisa berkembang, serta ada pula yang mendapat jodoh dan menikah.

Rumah kami menerima hanya laki-laki untuk nyantrik. Jumlahnya sungguh sedikit. Hanya tiga. Namun, selalu ada yang datang setiap hari sekadar untuk berlama-lama di sini, berbincang, dan belajar bersama. Sesekali, ada pekerjaan rumah yang dikeroyok untuk dibereskan. Satu hal yang bisa saya berikan pada mereka adalah kita selalu memerlukan orang lain untuk bertumbuh mendewasa, tak bisa kita berkembang seorang diri, dan hasil niscaya takkan pernah mengkhianati proses.

Ah, itu bukan satu, tapi tiga. Lebih tepatnya tritunggal, tiga yang menyatu. Seperti halnya guru, siswa, dan ilmu; ayah, ibu, dan anak; bangsa, negara, dan rakyat; dan seterusnya. Rumah, alamat, dan penghuninya juga satu kesatuan. Saling menguatkan, bukan justru saling melemahkan. Saling melengkapi, tidak saling menggerogoti. Tidak disebut guru jika tanpa siswa, apalagi tanpa ilmu. Tak disebut ayah jika tidak ada ibu, apalagi tanpa anak. Bangsa mendirikan negara untuk rakyatnya.

Dengan merantau, para cantrik semoga bisa lebih mensyukuri rumahnya sendiri, beserta keluarga yang sementara mereka tinggalkan. Sejauh-jauh dan selama-lama mereka pergi, toh ke asalnya mereka kelak kembali. Pergi ke mana pun, berjarak dari rumah, kita selalu membawa alamat ke mana-mana. Sewaktu-waktu rindu, niscaya kita akan tahu ke mana alamat pulang. Beda soal jika rumah itu yang lenyap, sirna pula alamat bagi penghuninya. Seperti pohon yang tercerabut dari akarnya.

Saya menjadi ingat mendiang Mas Arswendo Atmowiloto dan sinetron yang legendaris itu: Keluarga Cemara. Dalam liriknya dilagukan, ’’Harta yang paling berharga adalah keluarga.’’ Ya, keluarga. Ayah selama-lamanya ayah, ibu selama-lamanya ibu, anak selama-lamanya anak. Bahkan kematian tidak menggugurkan status biologis ayah, ibu, dan anak. Apa pun yang terjadi, baik-buruk, dia tetap ayah, ibu, atau anak. Karena perceraian bisa ada bekas suami atau istri, tapi tak ada bekas ayah-ibu.

Sebaik apa pun saya memperlakukan cantrik takkan menjadikan saya ayahnya. Sebagus apa pun Omah Mangkat, tetap bukan rumah asal bagi mereka, apalagi jika perlakuan dan rumah kami ini tidak lebih baik, pun tak lebih bagus dari keluarga dan rumah mereka. Jika pun kemudian mereka menyebut seseorang yang memengaruhi jalan hidupnya sebagai ayah ideologis, tetap saja selalu ada sebab yang bisa mengakibatkan putus. Sedangkan dengan ayah dan ibunya, anak takkan putus.

Bahkan, nauzubillahi min zalik, sepecah-pecahnya keluarga pecah, tetaplah keluarga. Tidak ada yang dapat melawan sunatullah, apalagi memusuhinya. Tidak ada yang bisa menyangkal kehendak-Nya, mengkhianati lebih mustahil lagi. Ya, yang jauh memang bisa jadi musuh, demikan pula yang dekat bisa khianat. Ya, siapa yang memusuhi dan khianat pada keluarganya sendiri bisa diadili dan dihukum, tapi benar-benar itu tidak menghapus hubungan darah mereka.

Saya, tentu juga Sampean, bergaul dengan manusia dari beragam latar belakang. Tiap-tiap manusia mengalami dan menjalani kisah hidup yang berbeda pula. Jadilah kita teman seperjalanan dalam perantauan. Ada yang mengingkari asal muasalnya sendiri dan tak pernah ingin pulang lagi ke sana. Ada yang pergi untuk kembali. Ada yang tidak pernah ke mana-mana. Kita tidak bisa menghakimi proses pendewasaan masing-masing. Tiap pilihan selalu disertai konsekuensinya.

Banyak peristiwa yang dikisahkan betapa musuh masih bisa diampuni, tapi sungguh susah pengampunan itu diberikan pada pengkhianat. Namun, sekali lagi, keluarga tetaplah keluarga. Dibutuhkan kebesaran hati luar biasa untuk membukakan lagi pintu rumah pada anggota keluarga yang pernah memusuhi dan mengkhianati keluarganya sendiri. Ini baru soal rumah, alamat, dan penghuninya. Belum soal bangsa, negara, dan rakyat. Sampean lebih tahu dari saya. (*)

Candra Malik, budayawan

Editor : Ilham Safutra


Close Ads