alexametrics

Berpuisi sebagai Terapi

Oleh ADITYA ARDI N.
9 Februari 2020, 19:42:48 WIB

PUISI merupakan kristalisasi emosi dan pengalaman manusia. Seperti halnya tubuh, puisi juga memiliki jiwa dan raga. Ada unsur fisik yang berkaitan dengan bentuk visual yang meliputi tipografi seperti judul, diksi, jumlah larik, jumlah bait, dan seterusnya. Di dalam sebuah puisi ada juga unsur batin yang merupakan roh atau jiwa sebuah puisi. Untuk memahami unsur batin dalam sebuah puisi, seorang pembaca harus melakukan interpretasi terhadap puisi yang dibaca. Sebab, pembacalah yang akan memberi makna puisi itu.

Mengingat bentuknya yang lebih padat dan ekspresif, konon puisi paling mewakili kegelisahan emosional manusia. Sering kali seseorang merasa lebih mudah mengungkapkan kegundahan perasaan dan pikirannya lewat puisi ketimbang ragam sastra yang lain seperti cerpen, novelet, novel, atau repertoar drama. Menulis puisi bukan semata berurusan dengan keindahan. Aktivitas menulis puisi tidak sekadar mematut-matut kata atau menyiasati bahasa demi kaidah-kaidah estetik tertentu, supaya memenuhi syarat menjadi sebuah puisi (seperti tipografi, bunyi, simbol). Lebih dari itu, menulis puisi dapatlah dipahami sebagai sebuah upaya untuk memaknai pengalaman manusia atas hidup dan yang terpenting mengungkapkan kompleksitas emosi dalam diri manusia menjadi wujud karya yang bermakna.

Watson menyebutkan, ada tiga emosi dasar yang dimiliki manusia, yaitu (1) ketakutan (fear), (2) marah (rage), dan (3) cinta (love). Ketiga jenis emosi nantinya bisa berkembang, masing-masing menjadi kecemasan, amarah (anger), dan simpati (sympathy). Sekian jenis emosi itu akan menjadi model kejiwaan pengarang. Emosi akan menggerakkan konasi dan kognisi, lalu muncul dalam kata. Melalui daya ucapnya yang khas, bisa jadi sebuah puisi hendak memperkatakan hal-hal di dalam realitas yang barangkali tak terkatakan, seperti wilayah bawah sadar penulisnya. Maka tak heran apabila bahasa yang konvensional, yang patuh terhadap struktur gramatikal, menjadi tidak cukup untuk mewadahi gagasan puitik yang ada dalam sebuah puisi.

Proses Penciptaan Puisi sebagai Kanal Emosi

Dalam sebuah proses penciptaan, seorang penulis puisi pasti melibatkan emosinya. Terlepas dari mutu kekaryaan dan aspek estetis sebuah puisi, misalnya, seseorang yang sedang patah hati akan lebih mudah untuk mengungkapkan secara jujur kesedihannya dan kekecewaannya. Hal itu disebabkan oleh adanya dorongan psikologis yang sangat kuat dari dalam diri orang tersebut. Saya rasa hal yang sama terjadi pada orang yang tengah jatuh cinta, orang yang sedang mabuk asmara juga memiliki kecenderungan kuat untuk mengungkapkan isi hati dan perasaannya itu dalam bentuk kata-kata yang kemudian dimanifestasikan dalam bentuk puisi.

Keduanya, orang yang patah hati dan jatuh cinta, memiliki energi yang besar atau lebih tepatnya emosi yang besar di dalam batin yang perlu diungkapkan ke permukaan. Keduanya memerlukan wadah untuk menampung luapan emosi tersebut, dan puisi menyediakan ruang untuk itu. Dengan menulis puisi, seseorang akan memiliki kanal untuk menyalurkan emosi yang terpendam di dalam diri. Tidak masalah bila puisi yang ditulis kemudian dicap sebagai puisi curhat, lebay, tidak puitis, dan tidak memenuhi unsur-unsur estetis sebuah puisi. Yang terpenting adalah keberanian seseorang untuk berekspresi mengungkapkan secara jujur kegelisahan di dalam dirinya sehingga dapat meringankan beban di dalam diri orang tersebut.

Dalam buku berjudul Metodologi Penelitian Psikologi Sastra, Endraswara (2008:39) menyatakan bahwa dalam hubungannya dengan puisi, keberadaan emosi berada dalam dua posisi. Pertama, emosi berada dalam diri penyair dan pada akhirnya terealisasi dalam penataan unsur formal puisi, seperti persajakan, asonansi, aliterasi, dan sebagainya. Kedua, emosi yang berada dalam diri pembaca, yang muncul karena adanya aspek emosionalitas yang dimunculkan oleh puisi yang dibacanya.

Pembaca yang terlibat secara intensif dengan teks puisi akan memperoleh pengalaman autentik yang melibatkan seluruh indranya untuk mencerap aspek emosi dalam sebuah karya. Tema-tema seperti kesedihan, kesenangan, takjub, marah, dan kekecewaan merupakan aspek yang membangkitkan emosionalitas di benak pembaca. Apabila pembaca melakukan refleksi setelah membaca, sangat dimungkinkan seorang pembaca akan mengalami titik balik kesadaran, sehingga mendapatkan perspektif baru yang lebih segar.

Selain faktor genetik, peristiwa traumatik, dan meningkatnya beban hidup, gangguan kesehatan mental seperti skizofrenia, anxiety disorder, delusi, dan depresi sangat rentan terjadi pada seseorang yang tidak mampu menyalurkan emosinya dengan baik. Apa yang ditahan-tahan suatu saat akan meledak. Demikian halnya dengan emosi dalam diri manusia. Emosi sebaiknya memang disalurkan melalui berbagai aktivitas positif yang memungkinkan untuk itu.

Aktivitas berpuisi merupakan salah satu aktivitas yang memungkinkan seseorang untuk mengekspresikan emosinya. Paling tidak dengan menulis puisi –bagaimanapun bentuknya– gejolak batin, kesedihan, kemurungan, dan kecemasan dapat diungkap ke permukaan. Puisi bisa menjadi kanal yang menyalurkan ragam emosi itu. Dengan demikian, orang yang menuliskannya akan memperoleh kelegaan hati dan pikiran. Proses pelepasan emosi itu bisa menjadi semacam terapi yang tentu saja bagus untuk kesehatan mental kita. (*)

*) Aditya Ardi N., penyair yang lahir di Ngoro, Jombang, Jawa Timur. Buku puisinya yang telah terbit, antara lain, Mobilisasi Warung Kopi (2011), Mazmur dari Timur (2016), dan Manifesto Koplo (2019).

Editor : Ilham Safutra


Close Ads