alexametrics

Para Pensiunan: 2049, Gandrik yang Tetap Kritis dan Menghibur

Oleh NUR SAHID*
8 Desember 2019, 21:13:30 WIB

PENTAS Para Pensiunan: 2049 sajian Teater Gandrik (Surabaya, 6–7 Desember; Jogjakarta, 7–8 April; dan Jakarta 26–27 April) yang terakhir cukup mengharukan. Mengingat sang sutradara, Djaduk Ferianto, sudah berpulang pada 11 November.

Lakon karya Agus Noor dan Susilo Nugroho itu tentang peristiwa futuristis. Yakni, nasib tragis menimpa Doorstoot (Butet Kartaredjasa), seorang pensiunan yang di hari kematiannya tidak mendapatkan ruang pemakaman lantaran tidak mengantongi surat keterangan kematian baik-baik (SKKB) dari Komisi Pengurus Kematian (KPK).

Arwah Doorstoot gentayangan ke mana-mana, termasuk menghubungi sejumlah kolega agar diberi SKKB, namun gagal. Bahkan, keluarga telah berusaha menyuap dan menjebak Kerkop (Susilo Nugroho) selaku penjaga kubur pun gagal. Akhirnya, justru Kerkop yang dikubur karena sekalipun belum meninggal tapi telah mengantongi SKKB dan surat izin meninggal (SIM) dari KPK. Sementara itu, Doorstoot yang jelas-jelas sudah meninggal tak bisa dikubur.

Secara tekstual, lakon Para Pensiunan: 2049 yang banyak mempermainkan ”dunia arwah” itu menunjukkan hubungan interteks dengan Orde Tabung (1988) dan Pensiunan (1986) karya Heru Kesawa Murti. Interteks Para Pensiunan: 2049 dengan Orde Tabung terutama terlihat dari orientasi permasalahan yang sama-sama bertutur tentang peristiwa yang mungkin terjadi di masa depan.

Interteks Para Pensiunan: 2049 dengan Pensiunan tampak dari kemiripan ide penulisan lakon, yakni tentang pensiunan. Ada kesan bahwa penambahan tahun 2049 pada judul Pensiunan adalah untuk menyamarkan substansi tema cerita yang sebenarnya cukup kontekstual dengan kondisi sosial historis saat ini. Sebab, peristiwa-peristiwa dan konflik-konflik dalam lakon ini termasuk faktual sekaligus futuristis.

Secara tematik, permasalahan yang dipaparkan cukup faktual. Permasalahan yang bersumber dari penyalahgunaan hukum, kekuasaan, korupsi, intrik politik dalam pilkada dan pemilu, ketidakadilan sosial dan sejenisnya senantiasa aktual di negeri ini, bahkan hingga masa-masa yang akan datang.

Secara sosiologis ”Para Pensiunan 2049” merupakan tafsir yang cerdas tentang remuknya sistem sosial, politik, dan hukum di negeri ini lantaran adanya kelompok sosial dan politik kekuasaan yang sering kali mengintervensi proses kehidupan masyarakat.

Peristiwa pensiunan bernama Doorstoot yang tidak boleh dimakamkan lantaran tidak memiliki SKKB sebenarnya merupakan kritik yang cerdas terhadap peristiwa faktual tentang keengganan kelompok tertentu mengurus jenazah seseorang yang berbeda orientasi politik di Jakarta beberapa waktu lalu.

Sekalipun pertunjukan Gandrik cukup cair dan komunikatif, bukan berarti tanda-tanda semiotis tidak hadir. Tanda-tanda yang menghampar di panggung pertunjukan secara makro adalah simbolisasi realitas karut-marut kehidupan sosial, politik, dan hukum di negeri ini.

Perseteruan antara Doorstoot dan Kerkop sebagai penjaga kuburan, Jacko (Sepnu Haryanto) dan anak Doorstoot bernama Katelin (Nunung D.P.), secara konotatif mengacu pada konflik-konflik antarkelompok dan institusi yang tak kunjung berakhir dalam berebut pengaruh dan kekuasaan di negeri ini, sekalipun akhirnya mereka berdua berdamai.

Bila dicermati, pertunjukan Para Pensiunan: 2049 penuh dengan satire, ironi, sekaligus komedi yang merupakan manifestasi estetis khas Gandrik. Doorstoot gagal dimakamkan lantaran tidak memiliki SKKB sehingga arwahnya gentayangan ke mana-mana. Sangat paradoks dengan Kerkop yang masih hidup tetapi punya SKKB sehingga dia harus dikubur hidup-hidup.

Peristiwa paradoks tersebut adalah sebuah ironi sekaligus kritik sosial yang tajam tentang runtuhnya nilai-nilai kebenaran dan kemanusiaan. Lebih dari itu, secara konotatif, peristiwa paradoks tersebut juga merupakan penanda yang mengacu pada tindakan permainan hukum yang sudah menjadi keseharian di negeri ini.

Seperti halnya pada pentas-pentas yang lain, Gandrik tetap menggali estetika teater kerakyatan. Nuansa ludruk agak terasa dalam pertunjukan ini. Struktur pemanggungan menggunakan alur pewayangan. Mulai pemaparan, konflik, goro-goro, dan epilog. Hadirnya pemusik di tengah-tengah arena pementasan mengingatkan kita pada goro-goro dalam pertunjukan wayang purwa.

Penggalian estetika teater tradisi Jawa tampak kontras dengan penggunaan kostum yang lintas etnis dan budaya, mulai Eropa, Timur Tengah, India, bahkan Kalimantan yang berorientasi masa depan. Eksplorasi penataan kostum yang dilakukan Gandrik cukup menjanjikan. Kontras yang terjadi antara pola pemanggungan dengan penataan kostum hanya semakin mempertegas kekuatan aspek artistik pertunjukan ini.

Harus diakui bahwa Teater Gandrik, seperti halnya Teater Koma, mampu meregenerasi penonton setianya. Pertunjukan Gandrik yang saya ikuti sejak ’80-an lalu memperlihatkan segmen penonton dari generasi berbeda-beda, yakni ada generasi tua, dewasa, dan muda. Itu adalah potensi penonton yang luar biasa.

Para anak muda yang menyesaki Taman Budaya Yogyakarta tiap pentas Gandrik bisa jadi tak pernah memahami dialektika perkembangan Gandrik tahun 80-an. Yang mereka kenal adalah Gandrik hari ini. Hal itu merupakan fakta menarik bahwa sekalipun generasi masa kini telah dijejali berbagai anasir budaya digital sejak bangun tidur hingga berangkat tidur, masih ada sebagian di antara mereka yang menyisakan ruang kontemplatif dengan bersusah-susah antre tiket untuk nonton Gandrik.

Fenomena itu harus dicermati Gandrik. Artinya, penonton Gandrik bukanlah para priyayi sepuh yang ingin bernostalgia saat nonton Gandrik. Tetapi, banyak di antara mereka adalah para penonton teater yang memiliki ideologi tontonan tertentu. Hal itu harus dipelihara Gandrik. Dengan cara demikianlah Gandrik akan selalu mampu menembus ruang dan waktu. (*)

*) Nur Sahid, pengajar Jurusan Teater ISI Yogyakarta dan dosen tamu di Program Pascasarjana UGM, Institut Kesenian Jakarta, dan ISI Solo

Editor : Ilham Safutra


Close Ads