alexametrics

Agama

Oleh CANDRA MALIK
8 Desember 2019, 22:56:30 WIB

SETIAP hari, pagi sekali, Romo Frans Aryo selalu mengirimi saya ceramah singkat. Ya, tentu saja tentang ajaran-ajaran Katolik. Dia tak perlu merasa sungkan, memang. Sejak berkenalan awal tahun 2019 di suatu acara bersama para tokoh umat di Malang, saling berkabar dan berbagi pengetahuan adalah ikhtiar kami menjaga persahabatan. Pernah, pada 28 Februari, Romo Aryo menghapus pesan. Saya tanya,”Kenapa?” ”Salah ketik!”

Sebagaimana kawan-kawan Nasrani lainnya, dia suka menutup pesan dengan doa, ”Berkah Dalem.” Begitu pula Ida Pandita Dukuh Celagi Dhaksa Dharma Kirti, sahabat saya yang lain yang tinggal di Denpasar, Bali. Dia suka mendoakan. Kepadanya, saya belajar kearifan Nusantara. Ida Celagi menulis buku tentang Bhaerawa yang jadi jalan kehidupan dan pengabdiannya. Saya diminta menulis kesan. Tentu saya senang dan merasa terhormat.

Ida membuka tabir-tabir yang pada mulanya tertutup, sandi-sandi yang awalnya asing, pesan-pesan yang dulunya elitis, dan ajaran-ajaran yang tadinya hanya untuk kalangan khusus menjadi bisa dibaca dan dipelajari siapa pun. Bagi saya, manusia adalah kekayaan sejati setiap bangsa. Manusia juga merupakan roh dan tubuh bagi kebudayaan. Dan, tentu saja, manusia Nusantara adalah khazanah paling berharga bagi ibu pertiwi.

Kitalah cermin paling nyata kondisi bangsa kita, baik dan buruknya. Kita terus tumbuh dan berkembang dengan berpedoman pada dua ajaran terbesar dalam kehidupan, yaitu ajaran Tuhan yang bersumber pada kitab-kitab suci yang dibawa para utusan-Nya dan ajaran leluhur yang dituntunkan oleh para pendahulu, terutama para peletak dasar tradisi dan adat istiadat. Agama dan budaya saling menguatkan dan bukan melemahkan.

”Semoga kebahagiaan dan kedamaian hati selalu menyertai kehidupanmu selamanya. Rahayu,” tulis Ida Celagi suatu ketika. Saya tentu saja senang didoakan oleh tokoh umat Hindu di Bali itu. Doa dari siapa pun, bahkan, yang di dalamnya tentu terkandung harapan-harapan baik. Sebab, agama itu doa. Dan, doa itu inti sari ibadah, seperti disabdakan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Siapa yang beragama, dia berdoa untuk kebaikan.

Bhante Dhammasubho, sahabat saya tokoh umat Buddha, mengundang saya untuk menghadiri peresmian purnapugar Wisma Sangha Theravada di Pondok Labu, Jakarta Selatan, pada pekan terakhir November lalu. ”Nganyari omah anyar,” tulisnya, mengajak saya mencicipi wisma lama rasa baru itu. ”Agar persahabatan semakin erat, kebajikan bertambah, dan kebahagiaan bersambung,” tutur Bhante seraya mendoakan kebaikan.

Saya tak membatasi diri dengan perbedaan agama dalam pergaulan dengan siapa pun. Suatu pagi tetangga depan rumah kami di selatan Jakarta kekurangan ruang sewaktu mengundang kawan-kawan gerejanya untuk merayakan ulang tahun perkawinannya. Saya bukakan gerbang rumah dan kami sediakan meja-kursi untuk para tamu yang meluber. ”Aman, Pakde. Lihat, ada Garuda Pancasila di dinding rumah kami,” seru saya kepadanya.

Kami lalu terbahak bersama. Beragama, bagi orang-orang seperti kami, yang bertetangga pula, tak ubahnya perwujudan dari doa-doa untuk kehidupan yang tenteram dan saling menghormati. Terlebih, ketika bapak-bapak yang lain dari rumah-rumah di sebelah mulai berdatangan, memberi ucapan selamat, dan duduk berbincang, bukan isu agama yang kami bahas. Kami lebih suka berbagi energi positif tentang kerukunan antarwarga.

Ini bukan kejadian yang baru kemarin. Bukan pula peristiwa sebelum, ketika, dan sesudah masa-masa pemilu. Melainkan keseharian di sini. Juga saat menikmati perjalanan ke mana pun di luar kota, saya bukan tipikal manusia yang menanyakan, ”Apa agamamu?” Silakan beriman kepada Tuhan, beragama sesuai keyakinan masing-masing, dan mari saling menghormati. Tentu kita berharap konflik atas nama agama di mana pun lekas damai.

Agama itu doa, begitulah yang saya yakini. Bahkan, seseorang yang memilih jalan hidup untuk tidak percaya pada konsep ketuhanan dan keberagamaan pun niscaya tidak akan berhenti berharap pada kehidupan yang lebih baik dalam skala yang seluas-luasnya. Saya tak bisa mengerti pada siapa pun yang mengharapkan keburukan bagi orang lain dan menginginkan kebaikan hanya untuk diri dan kelompoknya. Bagaimana dia berdoa?

Doa itu memuji, bukan mencaci. Doa itu menyatukan, bukan memisahkan. Doa itu menyambungkan, bukan memutuskan. Doa itu mengukuhkan, bukan merobohkan. Doa itu memercayai, bukan mengingkari. Doa itu menengadah, bukan menyanggah. Doa itu merayakan, bukan meriyakan. Doa itu mensyukuri, bukan mengufuri. Doa itu merahmati, bukan melaknati. Jadi, agama bukan senjata untuk memerangi liyan.

Dengan sahabat-sahabat sesama muslim, saya pun intens berkabar dan bersilaturahmi. Besar harapan saya, perbedaan pandangan dalam agama tidak dibawa sampai pada kebencian dan permusuhan. Agama itu doa. Mari berdoa untuk kebaikan bersama. Tahan diri, tidak usahlah sampai berkelahi. Lebih baik ngobrol sambil ngopi. Selesai menulis ini, saya siapkan martabak bangka dan sate padang untuk sahabat dari Melbourne. (*)

Candra Malik, budayawan

Editor : Ilham Safutra


Close Ads