alexametrics

Gejolak (Film) Cinta Remaja

Oleh: Abdul Aziz Rasjid
8 September 2019, 20:01:14 WIB

PERPISAHAN Minke (Iqbaal Ramadhan) dengan Annelies Mellema (Mawar Eva de Jongh) dalam film Bumi Manusia (Hanung Bramantyo, 2019) menusuk jantung kemanusiaan. Annelies menenteng koper seng milik ibunya, Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti), saat meninggalkan Wonokromo, Broederij Buitenzorg menuju Belanda. Koper itu menyimpan riwayat pedih praktik feodalisme dan kolonialisme, ketika Ontosoroh di usia belia dijual ayahnya menjadi gundik.

Cinta antara Minke dan Annelies dihadapkan pada persoalan pelik. Alur linear dibangun Hanung Bramantyo bermula dari penggambaran keangkuhan moral orang-orang Eropa yang terjangkiti diskriminasi rasial. Ujung cerita, perkawinan Minke dengan Annelies dinyatakan tak sah oleh pengadilan Amsterdam. Di mata hukum kolonial, nilai-nilai kemanusiaan tidak menjadi ukuran pertimbangan. Di tanah jajahan Hindia Belanda, semboyan Revolusi Prancis ”Persamaan, Kebebasan, dan Persaudaraan” yang diagungkan sebagai moral bangsa Eropa hanya utopia.

Asmara antara Minke dan Annelies berada di titik pertemuan budaya yang berkonfrontasi. Nyai Ontosoroh tampil mewakili sosok yang mendobrak batas-batas kultural mewacanakan kesetaraan manusia tanpa diskriminasi. Sebaliknya, bupati ayah Minke (Donny Damara), sosok otoritas priayi Jawa pemimpin aristokrasi yang memiliki kuasa untuk mengatur. Struktur konfrontatif tersebut mengandung dua tipologi umum film Indonesia bertema cinta remaja yang sebelumnya berdiri masing-masing di antara dua zaman, yakni paternalisme di masa Orde Baru dan aspirasi demokratis di masa reformasi.

Anak Melawan Bapak

Meneroka jagat sinema Indonesia bertema cinta remaja, sebelum tahun 1998, narasi yang acap kali dibangun memosisikan paternalisme menjadi konflik utama. Paradigma paternalistik sebagaimana pernah disinggung Intan Paramaditha dalam esai Praktik Kultural Anak Muda: Narasi 1998 dan Eksperimen (majalah Prisma volume 30, 2011) memang menjadi basis hubungan kuasa di era Orde Baru dan mengakar kuat di berbagai ranah, dari politik sampai budaya. Paternalisme menentukan pola relasi. Remaja dimaknai sebagai entitas belum dewasa hingga perlu pengaturan oleh pemimpin yang diasosiasikan dengan figur bapak. Bayang-bayang paternalisme semacam itu, misalnya, menjejak dalam film Ali Topan Anak Jalanan (Teguh Esha, 1977) atau Gita Cinta dari SMA (Arizal, 1979).

Ali Topan Anak Jalanan menarasikan kontras kehidupan kelas menengah perkotaan di Jakarta. Ali Topan (Junaedi Salat) jadi bagian crossboy, anak keliaran yang kehilangan perhatian orang tua karena sibuk dengan rutinitas pekerjaan. Sedangkan kekasihnya, Anna Karenina (Yati Octavia), terbelenggu dalam lingkungan keluarga feodal mengunggulkan status sosial darah biru priayi.

Lingkungan Topan dan Anna tumbuh lantas menjadi konflik cinta. Asmara yang mekar di antara keduanya dianggap problem bagi keluarga priayi yang dapat berekor panjang berujung aib. Tetapi, Topan maupun Anna menolak tunduk. Cinta menguatkan keduanya untuk berontak. Ujung cerita, keduanya minggat ke wilayah di luar geografis kota menuju desa. Sang bapak lantas menjadi pihak yang terpaksa merestui hubungan keduanya karena Anna meronta, hendak bunuh diri.

Konflik cinta remaja dalam Gita Cinta dari SMA juga berlapis terkait kepercayaan lama dan kenangan buruk orang tua. Hubungan asmara antara Galih (Rano Karno) dan Ratna (Yessi Gusman) dihalangi pandangan kolot kesukuan. Larangan menjalin hubungan asmara antara suku Jawa dan suku Sunda. Ayah Ratna yang pernah gagal menjalin hubungan cinta dengan perempuan Sunda semakin memperkuat kepercayaan lama itu.

Galih dan Ratna memilih berontak menjalin hubungan diam-diam. Akhir kisah berurai air mata tentang kasih tak sampai. Peran bapak dalam film ini begitu dominan sebagai sang pengatur. Sang bapak memanfaatkan jabatannya di pemerintahan daerah untuk mengintervensi pihak sekolah agar Galih dan Ratna dipisah ruang kelas supaya tak lagi lapang berkomunikasi.

Cinta tanpa Intervensi

Pasca 1998, seusai tumbangnya Orde Baru, prinsip-prinsip keterbukaan dan keberanian untuk menyuarakan pendapat yang sebelumnya mengalami represi diangkat ke permukaan. Perubahan sosial itu juga berdampak pada pergeseran paradigma. Paternalistik digantikan energi untuk melakukan pelbagai percobaan berupa aspirasi demokratis.

Di film Ada Apa dengan Cinta? (Rudi Soedjarwo, 2002), disinggung ringkas oleh Ariel Heryanto dalam Identitas dan Kenikmatan Politik Budaya Layar Indonesia (KPG, 2015), muncul sikap remaja yang secara terang-terangan menyinggung perilaku orang tua pelaku kekerasan domestik. Menurut Ariel, gaya bicara dalam bahasa gaul serta muatan seperti itu pasti disensor jika dibuat pada masa pemerintahan Orde Baru. Bisa jadi, penyensoran dilakukan atas dugaan memprovokasi publik menentang norma-norma yang mapan, yakni paternalistik ketika figur ”orang tua” atau ”bapak” terlarang dilawan.

Lingkungan remaja tumbuh –keluarga, status sosial, etnis– dalam narasi film tersebut tak lagi menjadi penghalang asmara. Konflik asmara menyempit dalam pusaran psikologis ketika benih-benih cinta merenggangkan persahabatan.

Cinta (Dian Sastrowardoyo) merasa bersalah telah mengelabui sahabatnya, Alya, korban perilaku orang tua pelaku kekerasan domestik, lantaran diam-diam pergi bersama Rangga (Nicholas Saputra). Sedangkan sosok bapak di film ini, ayah Rangga, digambarkan bersifat terbuka. Bahkan, sekilas diceritakan, ia adalah akademisi yang menulis tesis membongkar kebusukan orang-orang di pemerintahan Orde Baru.

Di film Dilan 1990 (Fajar Bustomi, 2018), narasi asmara jauh lebih menyempit semata pada kronologi individualistis perasaan-perasaan cinta yang kian rekah antara Dilan (Iqbaal Ramadhan) dan Milea (Vanesha Prescilla). Baik keluarga Dilan ataupun Milea yang berlatar belakang militer semata pendukung sikap keterbukaan. Tak ada lagi sosok bapak yang melakukan intervensi mencampuri hubungan asmara remaja.

Cermin Masyarakat

Imajinasi sinematis film cinta remaja dalam rentang empat dekade setidaknya merekam pergeseran narasi lingkungan sosial tempat remaja tumbuh. Keluarga tak lagi diasosiasikan dengan figur bapak yang mendikte persoalan cinta berdalih demi masa depan remaja. Peran keluarga dalam film kini diimajinasikan kian demokratis. Nilai-nilai keluarga dibentuk berdasar prinsip keterbukaan, bukan pengekangan dan diskriminasi status sosial, suku, maupun ras.

Film cinta remaja memang kerap semata berkutat pada relasi sempit gejolak emosi kepentingan mempertahankan kisah asmara. Tapi, sebagaimana sosok Minke dalam Bumi Manusia yang kelak berpandangan jauh dipengaruhi lingkaran pergaulan progresif serta akibat benturan dengan peristiwa tertentu, karakter dan latar film Indonesia bertema cinta remaja juga berkembang kian dinamis. Dari Ali Topan Anak Jalanan sampai Dilan 1990, di balik kisah gejolak cinta remaja terpantul perubahan budaya dan karakteristik kekuasaan sebagai cermin kehidupan masyarakat pendukungnya. (*)


Abdul Aziz Rasjid, esais dan jurnalis

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads