alexametrics

Jeihan

Oleh Candra Malik
1 Desember 2019, 21:00:58 WIB

SETAHUN sudah berlalu, lebih satu bulan, sejak kami terakhir bertemu. Jumat malam silam, 29 November 2019, saya jumpai dia dalam khidmat yang menusuk dada: antara senang dan sedih. Senang karena kematian yang dia dambakan telah dianugerahkan oleh Allah, pada akhirnya. Sedih karena takkan lagi kami berdebat tentang lebih dulu mana antara rindu dan cinta. Selamat jalan, Mas Jeihan Sukmantoro. Sugeng kondur.

Kami jauh secara jarak dan umur. Ia berusia dua kali lipat dari saya. Mas Jeihan sudah 81 tahun hingga wafatnya, sedangkan saya 41 tahun. Lebih tepat saya memanggil maestro pelukis sufi ini eyang, namun sejak pertama bersua di rumahnya pada akhir 2013, saya dan Mas Jeihan lebih seperti adik dan kakak. Ia memanggil saya, ’’Can’’, sedangkan saya panggil dia, ’’Mas’’. Mas Jeihan tinggal di Bandung, saya di Depok, selatan Jakarta.

Kamis masih pagi pada 25 Oktober setahun lalu ketika tiba-tiba pesan pendek dari Mas Jeihan masuk. ’’Bisa ke Bandung sekarang?’’ tulisnya. Entah dia sendiri yang menulis atau penjaga studio di Padasuka yang disuruhnya, yang jelas dia tak mau berkompromi bahwa saya tergagap dan sebenarnya tidak bisa berangkat. ’’Saya sedang sibuk beberapa urusan di Jakarta,’’ dalih saya via telepon. ’’Ya. Saya tunggu,’’ jawab Mas Jeihan, datar.

Akhirnya, saya mengalah untuk memenuhi permintaannya. Astaga, belum lagi duduk dengan tenang di Studio Jeihan, dia sudah mencecar saya dengan kebahagiaan yang luar biasa mendalam. ’’Aku sido arep mati, Can. Sido!’’ serunya tanpa ekspresi sedih sedikit pun. Malah sambil menyeringaikan tawa dan memicingkan dua matanya yang misterius. ’’Nanti dulu. Ini ada apa?’’ tanya saya. ’’Aku jadi akan mati!’’ ujar Mas Jeihan.

Setelah ia meletakkan buku-bukunya, dan lagi-lagi mengisahkan perjalanan kreatif dan spiritualitasnya, dari seorang pemikir, lalu penyair, dan perupa, serta yang terakhir tentang kesufiannya, Mas Jeihan memberi kabar mengejutkan. ’’Alhamdulillah, Allah menghadiahiku ini, benjolan di leherku ini, untuk mempercepat mati,’’ serunya. Setelah belasan tahun cuci darah karena sakit ginjal, dia terkena kanker kelenjar getah bening.

Sudah terlalu sering saya mendengar Mas Jeihan bercerita tentang bagaimana dia mengalahkan S. Sudjojono, gurunya sendiri, dalam sebuah pameran bertajuk ’’Temunya 2 Ekspresionis Besar’’ di Jakarta pada 1985. Gara-garanya, Jeihan membanderol lukisan-lukisannya dengan harga selangit, namun ternyata laku keras. Dia memang sangat suka memaparkan ulang renungan-renungan dan pandangannya yang jauh.

Saya juga terlalu sering mendengarnya mengulang-ulang perkataan yang dia hafal di luar kepala. ’’Puncak seni itu puisi, puncak puisi itu filsafat, dan puncak filsafat itu sufisme,’’ tutur Mas Jeihan. Namun, kali itu saya tertegun ketika dia membaca lagi selarik puisinya dengan tatapan berbinar-binar dan wajah yang terbahak. Puisi itu ungkapan perasaannya yang amat dalam pada kematian, yang lama dirindukannya.

Hati tenang,

bunga kembang,

burung terbang,

jalan terang,

aku pulang.

Jika kelahiran dan pernikahan disambut bahagia, menurut Mas Jeihan, demikian pula seharusnya kematian. ’’Kelak jika aku mati, anakku sulung sudah di pintu surga menanti, empat anakku laki-laki mengangkat peti jenazah, dua anakku perempuan membawa bunga,’’ ujarnya. Sejak lama, Mas Jeihan bahkan telah menyiapkan makamnya sendiri di belakang studio, dengan batu nisan dari Muntilan, Jawa Tengah, dan menziarahinya.

Mas Jeihan pernah mati suri pada umur 4 tahun setelah jatuh dari tangga. Sejak saat itu, pelukis kelahiran Ampel, Boyolali, Jawa Tengah, 26 September 1938, ini merasa berbeda dari anak-anak lain. Dia mengaku menikmati kehidupan yang menyepi, tidak benar-benar punya teman yang karib, dan menikmati kesendiriannya di depan kanvas dengan daya hidup, daya tahan, daya lawan, dan daya mati. Dengan suwung. Kosong.

Di bulan Ramadan, pada 20 Juni 2017, Mas Jeihan memanggil saya untuk dilukisnya di studio. Tidak sampai setengah jam, dia telah abadikan saya dengan sepasang mata hitam, seperti gua gaib yang entah menuju ke mana. Dia pulaskan warna merah, biru, dan kuning, memberi aura di badan saya dalam kanvas. Lukisan itu hadiah terbaiknya dan menjadi satu di antara 14 lukisannya yang menghiasi buku puisi saya, Surat Cinta dari Rindu.

Satu petuah Mas Jeihan terngiang di benak saya hingga kini. Dia berkata, ’’Hidup adalah tentang mitologi dan metodologi. Mitologi diciptakan dengan spiritualitas, sedangkan metodologi diciptakan dengan kebudayaan.’’ Saya bersila menghadap jenazah si pelukis mata kucing, yang diselimuti selembar kain batik. Potretnya seperti menatap, teduh tapi tajam. Terima kasih pernah menerima saya belajar. Terima kasih untuk hidupmu. (*)

Candra Malik, budayawan

Editor : Ilham Safutra



Close Ads