alexametrics

Ilusi Kemasyhuran

Oleh: Yogi Ishabib
1 September 2019, 15:36:24 WIB

ABBAS Kiarostami pernah membuat film tentang kasus penipuan pada 1990. Di salah satu adegan film berjudul Close Up itu, hakim bertanya kepada terdakwa atas pengakuannya terhadap aksi penipuan yang telah dilakukannya. ’’Karena dari luar memang tampak seperti penipuan, Yang Mulia,’’ jawab si terdakwa lirih. ’’Lantas, apa jika bukan penipuan?’’ tanya hakim penasaran. Si terdakwa menyatakan bahwa apa yang dilakukannya adalah seni untuk bertahan hidup.

Hossein Sabzian, si terdakwa itu, menemukan peluang langka di tengah nasib sial yang bertubi-tubi menderanya. Saat berada di dalam bus, ia sedang membaca naskah film sutradara terkenal Iran bernama Mohsen Makhmalbaf. Orang yang duduk di sebelahnya mengira bahwa Hossein Sabzian adalah Mohsen Makhmalbaf karena kebetulan wajah dan perawakan keduanya mirip.

Saat orang di sebelahnya telanjur percaya dan menanggapinya secara ugal-ugalan sepanjang perjalanan, rasa percaya diri Hossein menggelembung, membuatnya berani memutuskan terjun ke dalam lubang identitas salah alamat tersebut guna mencari keuntungan. Kesempatan itu mengantarkannya menjadi seorang penyaru yang hendak menipu satu keluarga kaya. Meskipun akhirnya gagal.

Saya tak sedang mengulas film Close Up. Saya ingat cerita film itu saat desas-desus tentang Livi Zheng ramai dibicarakan. Seorang aktor, sutradara, penulis naskah, sekaligus produser film yang tiba-tiba mendapat sorotan karena dianggap mengharumkan nama negara atas kiprahnya di kancah perfilman internasional. Media dan pejabat menerimanya dengan karpet merah, mengabarkan deretan prestasinya, dan bersedia memberikan endorsement atas karyanya.

Cerita Livi Zheng menembus Hollywood, masuk seleksi nominasi Oscar, dan memenangkan beberapa nominasi di festival film internasional adalah simpul-simpul utama yang menguntai jalinan berita tentang dirinya di media. Bekal cerita itu dimanfaatkan secara sadar oleh Livi Zheng untuk membangun reputasinya, menjalin jejaring, serta meraup kepercayaan para pesohor dan pemerintah untuk menggarap proyek selanjutnya.

Ketika cerita-cerita yang menjadi fondasi Livi Zheng mendulang kebesarannya itu diungkai, bangunan kemasyhuran tersebut tampak keropos. Media-media yang sempat kecolongan memberitakan ’’keberhasilan’’ Livi Zheng mulai menelusuri semua klaim sepihak yang dilontarkannya. Selanjutnya, kita tahu dari penelusuran itu bahwa klaim keberhasilan Livi Zheng hanya ilusi belaka.

Tetapi, mengandaikan Livi Zheng sebagai satu-satunya pihak yang bersalah dalam kasus ini tak sepenuhnya tepat. Kemungkinan benar jika ia beserta kekuatan publisitas yang disokong oleh keluarganya adalah pihak pertama yang menyodorkan kisah fiktif tentang heroisme dirinya sendiri sebagai anak bangsa yang cemerlang di mata dunia. Tetapi, kisah tersebut tak akan berlanjut jika media bersedia meluangkan waktu untuk mengecek semua keterangan yang telah dilontarkan pihak Livi Zheng. Apa yang kita dapatkan kemudian adalah media justru menjadi juru bicara yang hanya meneruskan kisah itu kepada publik.

Kehebatan sosok Livi Zheng sudah telanjur beredar gara-gara pemberitaan media sejak 2015. Dalam kurun waktu itu pula, publik terpapar oleh segala ’’kebenaran’’ tentang Livi Zheng. Saya teringat sentilan Geger Riyanto di dalam buku Asal-Usul Kebudayaan (2018) bahwa sesuatu bisa dianggap benar hanya karena kita memercayainya sebagai kebenaran terlebih dahulu. Usaha yang membutuhkan kaidah-kaidah pembuktian kebenaran bisa dibahas belakangan.

Tepat pada titik itulah terjadi pelipatgandaan muatan-muatan hoaks. Ilusi kemasyhuran yang diberitakan media berhasil menyulut pihak-pihak yang menghasrati diri sebagai bagian dari bangsa terpandang dengan prestasi berlimpah. ’’Kebenaran’’ fiksional itu lantas dianggap sebagai kebenaran, bukan karena sudah dibuktikan melainkan karena kekuatan provokasinya berhasil membuat banyak orang untuk percaya.

Sepanjang pengalaman menghadapi hoaks selama ini, sebagian media dan pejabat belum mampu memindai hoaks secara baik. Selama sebuah kabar memiliki sensasi yang mampu menggugah rasa nasionalisme seolah-olah dan sebangun dengan citra kebesaran bangsa di mata dunia, kabar tersebut sudah cukup memiliki nilai kelayakan untuk disebar kepada publik.

Kasus Livi Zheng hanyalah salah satu contoh betapa mudah silapnya media dan pejabat terhadap kemilau prestasi yang mengada-ada. Dari kasus Livi Zheng pula, kita tahu bahwa media, meskipun pernah kecolongan, memiliki kesempatan untuk melakukan investigasi jurnalistik guna membuktikan kebenaran sekaligus menangkal hoaks yang sudah telanjur beredar.

Sayangnya, kesempatan itu belum tentu dimiliki pejabat yang kadung mendukung dan memberikan testimoni dengan rona kebanggaan tak terkira atas prestasi garib yang tak lebih dari kebohongan semata. (*)


Yogi Ishabib, staf pengajar mata kuliah menjadi Indonesia, kajian budaya di Universitas Ciputra

Editor : Dhimas Ginanjar

Close Ads