alexametrics

Upaya Ndalem Dewobroto Lestarikan Tradisi Janur Penjor

Undang Seniman untuk Rumuskan Kriteria Lomba
1 Maret 2020, 19:23:07 WIB

Mulai pudarnya tradisi dan budaya Jawa membuat pegiat sejarah di Kota Kediri prihatin. Salah satunya adalah penggunaan janur penjor di acara pernikahan. Ndalem Dewobroto berusaha melestarikannya.

SINAR matahari yang mulai meredup sore itu membuat Jalan Cut Nyak Dien, Kota Kediri, tampak lebih teduh. Terlebih, suasana di jalan tersebut berbeda seperti biasanya, bak ada acara resepsi pernikahan. Sejumlah janur penjor menjulang, tampak rapi, indah, menghiasi jalan yang terletak di tengah kota itu.

Beberapa orang tampak berswafoto di antara lengkungan janur yang menjulang. ’’Janur-janur ini kami lombakan,’’ ujar KRAT Bimo Dewobroto Hadiningrat, panitia penyelenggara kontes tersebut.

Memang, di bagian bawah janur ada nomor yang terpasang. Menandakan janur-janur itu selesai dibuat untuk perlombaan. Munculnya ide lomba janur penjor itu berawal dari keprihatinannya pada tradisi yang semakin hilang.

Awalnya, Bimo trenyuh karena setiap melihat resepsi pernikahan, khususnya di daerah Kediri, mulai pudar budaya penggunaan janur penjor. Menurut dia, masih ada beberapa, namun rata-rata mereka yang berasal dari kalangan menengah ke atas. Padahal, Bimo menyebut banyak filosofi yang terkandung di dalamnya. ’’Memang itu sekadar janur melengkung, tapi inilah budaya sebenarnya orang Jawa,’’ tuturnya.

Bimo memang merasakan semakin sedikit masyarakat yang masih menggunakan penjor dalam acara pernikahan. Dan itulah yang membuatnya ingin mempertahankan tradisi tersebut. Salah satunya dengan lomba yang digelarnya. Bahkan, lomba itu didukung Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta.

Setidaknya, hal itu bisa membuat masyarakat kembali menyadari akan pentingnya pelestarian budaya. Kembali memiliki semangat mempertahankan tradisi yang kini mulai ditinggalkan. ’’Saya buat kontes dan ini juga mendapat support dari Bapak Wali Kota,’’ imbuhnya.

PUNYA FILOSOFI: Warga memasang janur panjor di Jalan Cut Nyak Dien, Kota Kediri, Sabtu (29/2). Hiasan itu dilombakan dan dukung Keraton Surakarta. (MOCH DIDIN SAPUTRO/JAWA POS RADAR KEDIRI)

Bentuk dukungan keraton adalah pemenang dari juara pertama hingga harapan kedua mendapat sertifikat langsung dari keraton. Ada dua abjad, yakni Latin dan aksara Jawa. ’’Selain budaya penjor ini, juga mengenalkan bahwa kita masih punya budaya aksara Jawa,’’ katanya.

Lomba yang diadakan Ndalem Dewobroto didukung Komunitas Pelestari Sejarah dan Budaya Kadhiri (PASAK) itu baru kali pertama digelar. Bahkan merupakan pembuatan janur penjor kali pertama yang dilombakan di Pulau Jawa. ’’Dulu di Borobudur pernah, itu merupakan festival. Dan di sini kami beranikan diri untuk dikonteskan,’’ paparnya.

Sementara itu, di Pulau Bali sudah menjadi agenda rutin untuk acara lomba. Inilah yang membuat Bimo berinisiatif mengadakannya di Jawa. Yang selama ini sama-sama memiliki tradisi hampir serupa. ’’Di sini banyak potensi teman-teman yang bisa membuat janur penjor,’’ ungkapnya.

Sejumlah kriteria menjadi pertimbangan penilaian. Yakni, kreasi, kerapian, dan kebersihan. Dalam penentuan kriteria lomba itu, Bimo awalnya mengalami kesulitan. Dia mengundang sejumlah seniman, budayawan, dan akademisi untuk merumuskan indikator. ’’Ya, karena baru pertama, jadi awalnya kesulitan menentukan kriteria apa saja,’’ ujarnya.

Tahun ini masih empat papah janur yang digunakan. Ke depan, dia ingin masuk kelas yang lebih tinggi. Yakni, kelas B, empat hingga tujuh papah. Tentu agar hasil janur penjor semakin bagus dan meriah. Bimo berharap, dengan ini penjor bisa tetap lestari. ’’Apa yang sudah diturunkan leluhur itu tidak ada yang tidak baik. Pasti semuanya baik, termasuk tradisi ini. Bahkan, setiap tradisi pasti mengandung filosofi cara bermasyarakat yang baik,’’ tuturnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : Moch. Didin Saputro/c19/dos



Close Ads