alexametrics

Kontroversi Lema Bahasa Indonesia

Oleh JUNAIDI KHAB
1 Maret 2020, 19:35:07 WIB

SEBAGAI alat untuk berkomunikasi, bahasa tidak semata digunakan dalam bentuk transaksional, tapi juga digunakan untuk memengaruhi mitra tutur. Hal itu yang kadang kurang kita sadari. Padahal, bahasa memiliki banyak peran (multifunction) bagi ketercapaian kehendak penutur. Sebagaimana Alniezar (2017:137) pernah sampaikan, bahasa juga digunakan sebagai propaganda politik –alat kekuasaan– untuk mengekalkan suatu kekuasaan. Hal itu pernah terjadi di era Orde Baru (Orba) di bawah kekuasaan Soeharto.

Sebenarnya, dari Orba, masyarakat kita bisa belajar tentang penggunaan bahasa yang mampu meredam segala tindakan yang bisa menuai kritik, kecuali tahun 1998, kala pemerintahan otoriter Orba ditumbangkan. Dari Orba pula, masyarakat seharusnya belajar bahwa sebuah rezim bisa langgeng dengan memainkan kata-kata. Bahasa menjadi instrumen penting dalam melanggengkan kekuasaan. Pada masa Orba, tidak dikenal istilah dipenjara, yang ada hanya diamankan.

Bahasa teks atau lisan memiliki cara penggunaan dan pengaruhnya sendiri. Dari dua pola produksi itu, yakni teks dan lisan, bahasa lahir sebagai bentuk fenomena atas segala isi perasaan dan pikiran dengan esensi makna yang bermacam-macam (konotatif). Namun, juga ada bahasa yang hanya memang bermakna tunggal (denotatif). Bahkan, masyarakat pengguna bahasa sebagai subjek tidak menyadari hal itu: makna konotatif dan denotatif.

Kiranya perlu dipahami, makna (sense) dan arti (meaning) sekilas memang sebagai sinonim: Ada kesamaan, tapi substansinya berbeda. Misalnya dalam bahasa Inggris: He bought a pair of horse shoes (dia telah membeli sepasang sepatu kuda). He bought a pair of alligator shoes (dia telah membeli sepasang sepatu dari kulit buaya). A pair of horse shoes berbeda cara pemaknaan dengan a pair of alligator shoes meski secara gramatikal sama. Kita tentu akan mengamini jika ada sepasang sepatu kuda. Sebab, kuda tentu bisa mengenakan (dipasangi) sepatu. Tapi, kita tidak akan sepakat jika ada sepasang sepatu buaya. Sebab, buaya tak mungkin mengenakan sepatu.

Contoh teks berbahasa Arab, al mar’atu al farihatu (seorang perempuan yang bahagia) dan al qissotu al farihatu (sebuah kisah yang memberikan efek bahagia, bukan sebuah kisah yang bahagia). Secara nahwiyah (gramatikal), susunan teks tersebut sama, yaitu terdiri atas na’at dan man’ut atau shifat dan maushuf. Tapi, kenyataannya, pemaknaan dua teks berbahasa Arab tersebut berbeda.

Beberapa contoh tersebut dalam linguistik tidak semata menggunakan sudut pandang semantik. Tetapi, ada peran pragmatik yang memberikan perspektif bagi bahasa, yaitu melihat konteksnya. Seperti yang dijelaskan oleh Jucker (dalam Dardjowidjojo, 2018:26), bila diamati secara cermat, semantik bisa dipahami sebagai bidang ilmu pengetahuan yang mempelajari makna dalam bahasa alami tanpa memperhatikan konteksnya. Sementara itu, pragmatik merujuk ke kajian makna dalam interaksi antara seorang penutur dengan penutur yang lain.

Julukan Habib-Habaib

Memahami teks –dari suatu bahasa– tidak serta-merta hanya pada tataran arti secara harfiah belaka. Sebut saja dalam memahami teks-teks Arab, misalnya Alquran yang universal ajarannya, juga sebagaimana contoh sebelumnya, kita membutuhkan banyak peranti (pemahaman asbab al nuzul, sejarah, budaya, dan lainnya) untuk mendapatkan makna yang (mendekati) benar dari teks-teks berbahasa Arab, khususnya dalam Alquran.

Tidak terlalu lama ini –menjelang Pemilihan Presiden 2019– kita dihadapkan pada kehadiran tokoh-tokoh agama yang begitu menjamur dan mendukung calon presiden masing-masing dari dua kandidat. Bahkan, habib atau habaib pun muncul ke panggung politik. Namun, ada di antara mereka muncul dengan watak yang tidak mencerminkan keberagamaannya (Islam). Kehadiran tokoh-tokoh agama dalam dunia politik itu perlu kita pahami lebih cermat, khususnya persoalan habib atau habaib.

Istilah habib dan habaib yang pengertiannya banyak dirujuk ”sebagai orang-orang yang memiliki jalur nasab atau keturunan yang bersambung dengan Nabi Muhammad SAW”. Jika kita mau melihat dan mempelajari lebih intens lagi, teks tersebut –dalam tradisi Arab– tidak hanya disematkan pada seseorang yang memiliki garis keturunan dari Nabi Muhammad SAW, tapi juga digunakan sebagai gelar bangsawan, ningrat, atau orang-orang yang dihormati menurut tradisi bangsa Arab.

Kebenaran tentang pernyataan tersebut diperkuat penelitian Wahab (2013) bahwa keluarga habaib –istilah itu diperuntukkan masyarakat keturunan Arab ningrat– ternyata lebih mampu menangkal pengaruh negatif budaya dari luar.

Bahasa memiliki peran besar dalam membangun suatu wacana dan konsep tentang materi hingga persoalan kekuasaan-pemerintahan. Sumaryanto (2012:25) menyebut bahasa sebagai produk manusia yang paling besar. Tanpa bahasa, secara praktis isi produk-produk kegiatan manusia tidak mungkin terwujud. Melalui bahasa, manusia telah mampu mengembangkan penemuan-penemuan ilmiah dan teknologi. Bahkan melalui bahasa pula, nenek moyang manusia telah mewariskan kebudayaan dan peradaban bagi generasi penerusnya.

Karena itu, masyarakat harus cerdas dalam memahami setiap wacana yang muncul, khususnya lema dalam bahasa –baik teks maupun lisan– yang digunakan kelompok tertentu sehingga tidak mudah terpengaruh konsep bahasa yang memang dibangun untuk memengaruhi dan melakukan propaganda secara politis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Begitu. (*)


JUNAIDI KHAB, akademisi asal Sumenep, sekarang menempuh Program Magister Ilmu Linguistik di Pascasarjana UNS Surakarta.

Editor : Ilham Safutra



Close Ads