alexametrics

ArtJog sebagai Babad Kesadaran

Oleh MIKKE SUSANTO
31 Juli 2022, 07:35:59 WIB

Seperti biasanya, ArtJog MMXXII dibuka dengan kualitas yang lebih kurang sama dengan sebelumnya. Namun, ada hak publik yang dimanifestasikan secara berbeda. Hal tersebut ditandai dengan munculnya karya seni anak, remaja, dan para penyandang disabilitas. Hak publik dirayakan. Seni menjadi milik siapa saja. Tak ada yang boleh melarang siapa pun hadir dan mengada.

PERAYAAN yang berbeda ini dimulai sejak opening. Tampilan juru bahasa isyarat di panggung terasa menyentuh. Adanya juru bahasa isyarat menandakan momentum seni telah lengkap bisa dinikmati oleh siapa saja tanpa batas. Bukan itu saja, gallery sitter atau pemandu pameran difabel juga telah disiapkan oleh panitia.

Pada sektor karya, Anda juga dapat menonton karya Jogja Disability Arts bertajuk Babad Disabilitas (2022). Karya ini menarasikan secara visual dan audiovisual mengenai sejarah dan budaya disabilitas di Jawa. Pada karya mereka, kita disuguhi kisah difabel sejak masa pemerintahan Kerajaan Singasari hingga masa Orde Baru.

Kisah diawali dari munculnya Bancak Doyok dalam cerita Panji di Singasari antara 1222–1292 Masehi. Disusul masa Kerajaan Demak yang menggunakan abdi cebol sebagai juru doa serta presentasi punakawan dan Suluk Wijil yang dikembangkan oleh Walisanga. Ada lagi masa Majapahit yang dikutip dari Kitab Korawasrama dan Kakawin Sudamala juga muncul. Tak lupa ulasan zaman kolonial yang merepresentasi sikap terhadap difabel di ranah politik hingga budaya sampai medis dapat Anda baca pada karya ini.

Pada karya Dwi Putro (feat Nawa Tunggal) juga menyentuh. Dwi Putro (59 tahun) yang akrab dipanggil Pak Wi ini menderita gangguan mental. Ia bekerja sama dengan sang adik, Nawa Tunggal (48). Mereka membangun ruang khusus. Karya lukis goresan Dwi Putro berukuran besar dan kecil menggambarkan citra stupa Buddha memenuhi ruangan disajikan bersamaan dengan tata cahaya secara bergantian. Di ruang itu, kita selaksa berada dalam taman Buddha bercahaya malam yang gemerlap sekaligus wingit.

Selain karya difabel, karya seni anak hingga remaja (sebelum 18 tahun) juga memenuhi lantai 1 ruang pameran Jogja National Museum. Pameran yang digelar 4 Juli–4 September 2022 ini sejak awal telah membuka peluang terbuka bagi mereka yang memiliki kegemaran berseni rupa. Setidaknya terdapat 14 partisipan anak hingga remaja mulai usia 6 tahun (Darka Astatanu Hasmanto) hingga 18 tahun (Dikco Ayudya).

Karya-karya mereka menyebarkan semangat universalitas dan pluralitas konsep, bahasa visual, maupun medium. Meskipun berlabel anak dan remaja, karya mereka tak terpaut jauh kualitasnya dengan para seniornya. Karya fotografi Nadindra Danis (14) yang mengetengahkan konsep sayang terhadap binatang, karya stempel partisipatoris milik Daunbumi Pubandono (7), karya sampah kertas Bintang Tanatimur (16), hingga lukisan Moris bergaya realistis ala Raden Saleh dengan konsep perihal survival of the fittest karya Abdul Rauf Guevara (13) seakan menantang hadirnya generasi baru seni Indonesia yang kaya warna.

Semua sajian ini terasa mengharukan. Tidak saja estetis, tetapi juga menggugah kesadaran untuk hidup bersama, saling hormat pada kemanusiaan dan alam semesta. Konsep ”expanding awareness” (memperluas kesadaran) telah dimanifestasikan secara reflektif oleh para kurator dan seniman-senimannya. Konsep yang dihadirkan melalui ragam medium semakin menjelaskan bahwa seni bukan semata benda hias.

Seni termanifestasikan sebagai media untuk mendelegasikan kesadaran ”milik bersama”. Bumi dan segala isinya bukan semata milik manusia. Amsal penting yang patut direnungkan terekspos jelas dalam karya instalasi milik kolektif Sejauh Mata Memandang. Karya ruang kaca dan taman tumbuhan sintetis bertajuk Kisah Punah Kita (2022) memberi gambaran tentang kisah bumi yang terancam justru oleh keberadaan manusia. Kita semua adalah maha perusak. Karya tekstil yang digarap secara detail dan sirkular ini jelas sekali menantang kita untuk merestorasi ekosistem hutan.

Dengan melihat ArtJog kali ini, saya yakin bahwa kesadaran manusia akan berkehidupan bersama patut terus diingat sekaligus dirayakan. Namun, sekali lagi bukan semata untuk kepentingan manusia itu sendiri. Karya video art Nadiah Bamadhaj bertajuk Terpesona dengan Kegelisahan (2022) terus menggema dalam ingatan saya.

Dalam karya ini, ia bekerja sama dengan Pasukan Garuda Merah Batalyon Infanteri 403 Jogjakarta. Mereka membuat video koreografi dan yel-yel (berdasar lagu) bertajuk Terpesona. Yel-yel sejenis dapat dengan mudah ditemukan di YouTube. Dengan menyajikan slow motion video, Nadiah mengubah spirit kewibawaan dan semangat perjuangan menjadi kecemasan dan ketakutan. Suara yel-yel ibarat suara binatang superbesar menggelegar mengancam. Suara mereka memperkecil eksistensi penonton. Sikap hipermaskulin tampak benar dalam karya ini.

Secara umum, ArtJog telah menggugurkan kekhawatiran perihal kesadaran ekosistem. Para perupa (anak-anak hingga profesional) tampil saling memadu tanda dan pesan. Pesan kepada para penonton yang sebagian di antaranya berkelas sosial menengah-atas. Tujuannya agar kesadaran antar sesama demi pelestarian alam tak pernah lekang. Mari hidup indah selama mungkin, Kawan. (*)

MIKKE SUSANTO, Staf pengajar ISI Jogjakarta

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini: