alexametrics

Kata dan Mala

ROYYAN JULIAN, Penulis dan pegiat budaya
31 Juli 2021, 13:53:22 WIB

Umat Islam barangkali tidak memiliki kultus spesifik kepada figur malaikat tabib seperti Santo Rafael dalam tradisi Katolik atau dewa-dewi penyembuh serupa Asclepius, Hygeia, dan Panakeia dalam kuil-kuil Yunani.

AKAN tetapi, sebagian muslim percaya bahwa kesehatan mereka bisa dipulihkan melalui keajaiban puisi. Burdah, sebuah himne nabi abad ke-13 yang terdiri atas 160 stanza, dianggap mujarab mengusir mala. Gita puja tersebut ditulis ketika penganggitnya, pujangga-sufi Mesir kelahiran Maroko, Busiri, mendaku mengalami remisi spontan dari kelumpuhan setelah bermimpi sang junjungan memakaikan jubah kepadanya.

Sebagian umat Islam Indonesia memadahkan burdah kepada orang sakit dengan harapan agar sang nasib segera memberi keputusan: menyembuhkannya atau menyerahkan jiwanya ke pangkuan maut. Pada ritual kematian, melantunkan burdah menjadi paradoks: Ia syair elegiak yang dimaksudkan untuk meratapi mendiang sekaligus menghibur mereka yang ditinggalkan.

Burdah dialunkan secara kontinu dan berjamaah saat wabah melanda. Sulit menemukan ritual semacam ini dipraktikkan secara individual. Sebagai jantung agama, demonstrasi ritual membutuhkan komunitas. Agama adalah lembaga. Ia berwatak komunal ketimbang spiritualitas yang lebih subjektif, privat, dan autentik. Menurut sosiolog Prancis David Emile Durkheim, cikal bakal gagasan agama lahir dari gelembung kerumunan yang hanyut dalam atmosfer religius yang sama saat menjalankan ritus totemik.

Di sini kita melihat magi kata-kata. Sebagai bunyi, kata-kata memiliki kualitas sakral ketika digunakan oleh masyarakat yang tidak mengenal tulisan. Burdah memang puisi tertulis, tetapi ia kerap dihidupkan oleh komunitas yang masih merawat tradisi kelisanan. Maka, burdah dirapalkan sebagaimana ketika kita mendengungkan kitab suci.

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads