alexametrics

Harta, Takhta, dan Pahala

Oleh EKA KURNIAWAN
27 Desember 2020, 14:45:27 WIB

Gara-gara suka mabuk, orang ini harus menghadapi kematian, nyaris kehilangan istrinya, ditelan makhluk aneh hingga hidup di dalam perut makhluk itu, diburu arwah anak-anak kecil yang kesal, tapi akhirnya memperoleh pelajaran hidup.

MEMANG tak semua orang mabuk mengalami hal-hal demikian. Ini terjadi di sebuah novel karya penulis Nigeria, Amos Tutuola, di novelnya yang paling bikin mikir sekaligus tertawa, The Palm-Wine Drinkard atau Peminum Tuak Nira, terbitan 1952.

Novel ini dibuka dengan satu pokok kecil: kalau kamu menyukai sesuatu dan ketagihan olehnya, kamu akan berusaha untuk memperolehnya kembali, terus, dan terus. Saya jadi teringat sebuah buku lain tentang ketagihan ini. Sebuah memoar klasik yang ditulis Thomas de Quincey, Confessions of an English Opium Eater atau Pengakuan Seorang Pemadat Inggris.

’’Aku tak percaya bahwa orang yang pernah merasakan kenikmatan surgawi candu kemudian akan merendahkan diri ke kenikmatan alkohol yang kasar dan fana,’’ tulis Quincey. Kenikmatan tak hanya minta dipenuhi terus-menerus, tapi juga minta ditambah secara kualitas.

Saya punya pengalaman kecil, terlalu kecil sebetulnya dibandingkan urusan tuak nira dan opium. Beberapa waktu lalu saya pergi ke dokter karena radang tenggorokan. Itu kali ketiga dalam setahun ini dan dokter mulai jengkel, bilang, ’’Berhenti, Pak, jangan makan gorengan dan minum es terus.’’

Bah. Sebetulnya saya tak terlalu doyan jajanan gorengan. Juga bukan penggemar es krim atau minuman dengan es. Tapi, tentu saja saya menyembunyikan satu hal dari dokter: saya memang gemar sekali meminum teh dalam kemasan, yang suka dipajang di lemari pendingin toko swalayan.

Urusan ini, iman saya sungguh lemah. Setelah lama menahan diri, setelah capek bersepeda, langsung terpikir mampir toko swalayan dan membuka lemari pendinginnya. Sekali saja, kok, pikir saya.

’’Sekali’’ itu akan dicoba lagi besoknya. Apalagi di tengah cuaca panas Indonesia, otak saya terus saja diganggu oleh nikmatnya minuman segar manis tersebut. Lalu minum kali ketiga. Keempat. Untuk berhenti sudah terlambat, sampai tenggorokan terasa kering dan tiga malam akhirnya batuk-batuk lagi.

Novel The Palm-Wine Drinkard berkisah tentang seorang lelaki yang gemar minum tuak nira, hingga ayahnya memberi tanah berhektare-hektare yang ditanami pohon kelapa, juga memberinya tukang sadap dan pembuat tuak. Problem mulai muncul ketika tukang sadapnya jatuh dari pohon kelapa dan mati.

Bisakah ia bertahan tanpa minum tuak? Tidak. Ia harus minum tuak. Bisakah ia bertahan meminum tuak yang dibikin orang lain? Tidak. Tuak bikinan tukang sadapnya merupakan yang paling enak dan ia tak bisa meminum tuak dengan kualitas lebih rendah.

Hanya ada satu cara untuk menyelesaikan masalahnya. Ia harus menemukan arwah si tukang sadap, meskipun ia harus bertualang bertahun-tahun, termasuk harus pergi ke dunia orang mati.

Pencariannya menjadi tulang punggung novel ini, membawa kita ke tempat-tempat aneh, hingga bertemu makhluk-makhluk ajaib. Ada makhluk tak berwujud yang suka meminjam bagian-bagian tubuh orang lain. Ada kota yang semua penghuninya berwarna merah.

Kita bisa menganggapnya sebagai novel fantasi, bagaikan Alice yang masuk ke lubang kelinci. Atau novel magis, di mana yang nyata dan yang khayalan berkelindan. Seajaib apa pun, kita tahu ia melakukannya karena terperangkap kenikmatan mabuk tuak.

Kita bisa melihat apa yang dilakukannya bisa terjadi di dunia nyata, dengan pengalaman yang mungkin sama ajaibnya, dengan alasan yang berbeda-beda. Tuak aren yang diidamkannya bisa diganti dengan harta dan kita bisa menemukan manusia yang tak pernah puas dengan harta yang dimilikinya.

Ganti tuak nira dengan kekuasaan, yang sering dilambangkan dengan ’’takhta’’. Setelah menjadi lurah, orang bisa tergoda untuk menjadi bupati. Setelah menjadi wali kota, orang bisa tergiur menjadi gubernur. Kekuasaan bisa memberi kenikmatan untuk sebagian orang dan kenikmatan sering meminta lebih.

Harta dan takhta jelas bersifat duniawi, sebagaimana teh dalam kemasan maupun tuak nira. Saya rasa, yang tak banyak didasari orang, kenikmatan tak selalu bersifat duniawi. Ada kenikmatan jenis lain. Kenikmatan intelektual, misalnya.

Rasa ingin tahu mendorong kita untuk belajar dan menjelajah. Ketika mengetahui sesuatu, kita ingin mengetahui lebih banyak. Ilmu pengetahuan didorong oleh kenikmatan intelektual yang terus berbiak. Bagus untuk ilmu pengetahuan, tapi seperti terjadi di novel Frankenstein karya Mary Shelley, rasa ingin tahu juga bisa menjadi candu yang tak terkendali.

Bagaimana dengan kesenangan spiritual? Rasa senang dan tenteram setelah beribadah, setelah bersedekah, setelah berkhotbah? Rasa senang karena yakin telah mengumpulkan butir-butir pahala?

Kita semua bisa diperbudak kenikmatan, termasuk nikmat memperoleh pahala, nikmatnya menyampaikan kebenaran. Seberapa sering kita melakukan segala hal demi memperoleh pahala atau demi kebenaran?

Jangan-jangan yang kita kejar bukanlah kebenaran, tapi tak lebih sekadar memuaskan perasaan benar kita sendiri? Memuaskan kesenangan memperoleh pahala? (*)


EKA KURNIAWAN

Penulis dan novelis,nomine The Man Booker International Prize 2016

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Ilham Safutra


Close Ads