Cebong Ternyata Kadrun, Kadrun Ternyata Cebong

Oleh EKA KURNIAWAN
27 November 2022, 07:38:52 WIB

Seseorang di tengah pasar sedang kebingungan dan celingak-celinguk, lalu diteriaki seseorang lain dengan sebutan ”Copet!”. Kata tersebut menciptakan kenyataan baru tentang si orang celingukan. Tanpa sikap kritis mempertanyakan kenyataan tersebut, teriakan ”copet” bisa berakhir tragedi.

ITU hanya dengan satu kata. Dengan semakin menguatnya peran aneka media (kata-kata, gambar, suara, film, internet, dan sebagainya), semakin kita akan terperangkap dalam kenyataan baru yang diciptakan media-media tersebut. Semakin kita terperangkap, bisa jadi kita semakin sulit untuk mengenali mana kenyataan rekaan dan bukan.

Dalam beberapa tahun terakhir, dua kata sudah menjerat kita dan sulit melepaskannya: ”Cebong” dan ”Kadrun”. Setiap kita mendengar salah satu atau kedua kata tersebut, kita langsung membayangkan karakteristik orang-orang atau kelompok tertentu. Padahal, orang yang kita bayangkan dalam satu kata, bisa jadi mereka berbeda juga satu sama lain dan jauh dari bayangan kita.

Ada teman lama saya yang kadang suka menggunjingkan teman lama kami yang lain. ”Ternyata dia cantik, ya. Kok, dulu aku enggak sadar?” Begitu salah satu ucapannya sambil kasih lihat foto teman lama itu di laman media sosial. Tapi, beberapa waktu kemudian, rupanya ia bertemu teman lama tersebut secara luring, dan langsung mengomel ke saya, ”Sialan. Kena tipu filter foto.”

Padahal, mungkin saja penampilan atau apa pun yang ia bangun di jagat maya sama menipunya. Teman saya ini, misalnya, sering menampilkan dirinya sebagai suami sayang keluarga. Bersama istrinya, ia pasangan serasi nan harmonis. Padahal di tongkrongan, doyan lirik sana lirik sini.

Kesan kita terhadap seseorang jelas sangat bergantung pada apa yang bisa kita lihat (atau dengar, rasakan, ketahui) tentangnya. Istilah ”menipu” ini hanya bisa muncul jika kita melihatnya dalam dua gambaran berbeda yang kita anggap kontradiktif. Jika kita mengetahui ada dua kenyataan yang berbeda.

Di alam, ada beberapa jenis ulat yang penampilannya mirip ular. Bagi binatang yang sering jadi mangsa ular, ulat jenis ini tentu akan dihindari. Mereka akan menjauh, tak sadar bahwa ulat itu sama sekali tak berbahaya. Buat mereka, kenyataan adalah: mereka sedang berhadapan dengan ular. Mereka tak tahu kenyataan lain: itu hanyalah seekor ulat.

Motif ular di tubuh ulat itu seperti foto dengan filter di media sosial. Atau hubungan mesra teman saya dengan istrinya jika kumpul-kumpul di acara resmi. Semacam kenyataan yang diciptakan, yang tujuannya tak selalu untuk menipu (bisa jadi teman saya memang mesra sama istrinya sekaligus suka lirik sana lirik sini).

Dalam hidup sehari-hari, toh kita juga sering berhadapan dengan kenyataan baru yang diciptakan ini. Sebagai pembaca novel, dari waktu ke waktu saya sering berhadapan dengan deretan huruf. Ya, kombinasi 26 huruf beserta aneka tanda baca. Pada saat yang sama, ternyata itu bukan semata-mata deretan huruf. Sebuah novel ternyata juga menciptakan kenyataan baru, dunia lelaki-perempuan saling jatuh cinta, atau dunia jagoan menegakkan keadilan, dan sebagainya.

Kesadaran bahwa kata-kata bisa menciptakan kenyataan baru melahirkan berbagai macam kemungkinan. Orang bisa menulis, atau dituliskan, biografi dirinya seolah-olah seluruh perjalanan hidupnya manis dan membanggakan. Sejarah bisa direka ulang sehingga yang jahat terhapus dosanya. Yang tak berbuat apa-apa jadi terlihat berlumuran darah.

Demikian pula produk yang pada dasarnya tak berguna, dengan kekuatan kata-kata, gambar, bahkan karena kita melihat seorang pesohor mempergunakan produk tersebut, bisa menciptakan kesan produk tersebut sangat berguna. Kesan tersebut perlahan menjadi kenyataan baru, dan kita merasa membutuhkannya.

Alam, sebagaimana kasus ulat yang proses evolusinya membuat mereka terlihat seperti ular, mengajarkan kita bahwa kenyataan baru memang bisa diciptakan. Tak hanya untuk manusia atau benda-benda komersial, tapi juga bisa menyangkut hal-hal lain.

Banyak negara mendirikan pusat-pusat kebudayaan di negara-negara lain. Mengirim atlet-atlet terbaiknya ke pertandingan internasional. Memamerkan kekayaan alamnya dalam kartu pos-kartu pos indah. Semua itu, langsung tak langsung, akan menciptakan sejenis kenyataan di benak masyarakat internasional tentang negara tersebut.

Soal apakah rakyat Indonesia benar murah senyum, atau penduduk Korea ganteng-cantik mulus seperti idol-idol mereka, itu persoalan apakah kita memiliki kesempatan untuk melihat kenyataan tentang Indonesia (atau Korea) yang lain atau tidak. Apakah kita memiliki sikap kritis untuk mengenali kenyataan rekaan, seperti mempertanyakan apakah orang yang diteriaki ”copet” memang copet?

Cebong sudah bukan lagi binatang lucu yang berenang di air. Kadrun juga bukan lagi sejenis kadal gurun. Kita tahu dua kata itu sudah menjadi kenyataan rekaan, tapi sial, kita tak ada kehendak mengembalikan dua kata itu ke makna awalnya.

Bahkan seandainya sekelompok cebong ternyata kadrun, atau sekelompok kadrun ternyata cebong, kita bisa tetap tak merasa kena tipu. Terjerat dalam dunia rekaan sendiri. (*)

EKA KURNIAWAN, Penulis dan novelis, nomine The Man Booker International Prize 2016

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads