alexametrics

Mencermati Musik, Membahasakan Bunyi

Oleh: ARIS SETIAWAN
27 Maret 2022, 08:27:54 WIB

Banyak pentas musik digelar, tapi tidak banyak musik dituliskan. Hampir semua pergelaran musik senantiasa menonjolkan kemegahan bunyi, ditonton dan dinikmati, kemudian hilang tertelan waktu. Kita melupakan bahwa musik adalah episentrum yang bukan sekadar suara, melainkan juga gumpalan ide, wacana, konsep, dan gagasan.

NAMUN sayang, semua itu tidak dapat terbaca oleh publik secara terbuka. Wacana tentang musik yang dipentaskan sering kali hanya dimengerti komponisnya sendiri. Publik dipersilakan menerka sesuka hati. Di satu sisi hal itu benar, bukankah musik tidak harus dijelas-jelaskan karena menjelaskan musik itu seperti memandang matahari, semakin detail semakin menyilaukan. Biarkan musik itu sebagaimana kodratnya, bunyi atau suara, tidak lebih dari itu. Kalaupun ada tafsir terhadapnya, penonton atau publik punya kuasa penuh, bebas untuk tidak terikat oleh apa pun atau siapa pun, termasuk komponisnya sekalipun.

Namun, di sisi lain, musik itu adalah ”labirin intelektualitas”. Ada pertanggungjawaban yang harus diberikan kepada publik, alih-alih ilmiah dan formal. Pertanggungjawaban itu sebentuk jembatan agar musik mampu dimengerti dan dipahami secara lebih mudah, sederhana, atau bahkan sebaliknya; apa yang terlihat sederhana di atas panggung justru memiliki kompleksitas dalam takaran ide dan gagasannya. Semua itu hanya bisa dilakukan dengan jalan ”membahasakan” peristiwa musik dan yang dapat melakukannya adalah orang-orang terpilih dengan bekal kemampuan serta pengalaman tinggi. Para penulis musik, jurnalis musik, kritikus, dan pengamat adalah beberapa di antaranya. Forum Gelar Komposer: Lokalitas dan Perspektif yang diadakan di Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya, pada 10–12 Maret 2022 adalah sebentuk upaya mempertemukan komposer dengan penulis musik. Barangkali ini adalah forum pertama di Jawa Timur yang memberi ”karpet merah” pada penulis musik untuk melakukan pencatatan kritis terhadap karya-karya yang ditampilkan. Forum itu menjadi ajang uji coba untuk tidak sekadar melahirkan komposer-komposer muda berbakat, tapi juga penulis (kritikus) musik yang ciamik.

Terdapat enam penulis yang mendampingi enam komposer. Penulis-penulis itu adalah Erie Setiawan yang mendampingi Purwanto dari Jogja, Yudhistira Sugma Nugraha yang mendampingi Yuddan Fijar dari Bondowoso, Andri Widi Asmara yang mendampingi Willyday Onamlay Muslim dari Malang, Murlan yang mendampingi Eko Kasmo dari Tuban, Panakajaya Hidayatullah yang mendampingi Pungki dari Banyuwangi, dan Diecky K. Indrapraja yang mendampingi Marda Putra dari Surabaya. Para penulis itu memotret dengan detail profil komponis, aspek sosial, ekstramusikal, dan musikal kekaryaannya. Ada keyakinan yang membubung bahwa selama ini musik itu terlalu indah didengar, tapi tidak menarik untuk dipikirkan. Lewat pergelaran itu, ada misi penting, para penulis itu mencoba menjadikan musik melewati batas-batasnya sebagai sebuah bunyi, tapi juga sebentuk gejolak sosial yang menarik untuk direnungkan.

Upaya menuliskan musik tentu saja tidak semudah mendeskripsikan keindahan alam atau lezatnya sebuah makanan. Itu karena musik adalah serangkaian simbol, abstrak, dan rumit. Para penulis harus mampu mengerti (setidaknya untuk ukuran yang paling subjektif) terhadap fenomena bunyi yang diamatinya. Mereka harus mampu menemukan sisi lain yang membuat karya itu menarik atau sebaliknya. Ketika yang lain menikmati pertunjukan musik, mereka melebihi hal itu, mencoba memahami dan memikirkan. Akibatnya, penonton pulang tanpa beban, maka penulis masih merenung untuk merajut satu fakta musikal dengan yang lain, kemudian mempertanyakan (sekaligus menjawab) apa yang dilihat dan didengarkan, dan terakhir adalah menuliskannya. Kerja yang demikian berada dalam ruang sunyi. Gemuruh dan bising musik di atas panggung semata dibaca sebagai tanda yang bisu, menunggu untuk terus dimaknai, dibedah, dan dipahami tiap bagiannya.

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:

Close Ads