Remuk Dihajar Panda atau Lari Dikejar Tikus

Oleh EKA KURNIAWAN
25 September 2022, 09:19:20 WIB

Akhir-akhir ini saya beberapa kali menonton film horor. Harus saya akui, meskipun suka, pada saat yang sama juga sebetulnya sering ketakutan sendiri. Kalau ada adegan yang sungguh menakutkan dan tak mau dibuat kaget, saya suka memejamkan mata. Kalau adegannya bisa ditebak, sok-sokan berani melotot.

KALAU film yang sama sudah ditonton dua kali, atau bahkan lebih, rasa takutnya sering kali berkurang. Kita tak lagi mau tutup mata. Bahkan bisa menertawai ketakutan kita di pengalaman sebelumnya.

Sesungguhnya ini menarik. Secara alamiah, kadang kita tahu kapan harus menutup mata dan kapan harus siap menghadapi ketakutan tersebut. Jika kita tidak tahu, akan terjadi sejenis ketidaksiapan: kita kaget, kemudian menjerit, atau bahkan terkencing-kencing. Yang paling ekstrem, tentu berhenti menonton. Atau ketakutan itu terbawa hingga mimpi.

Sama halnya ketika kita berjalan di hutan. Kita bertemu binatang, berhadap-hadapan. Binatang itu marah dan siap menyerang berduel karena terancam. Kita berhitung, apakah perlu melawan atau balik badan dan lari. Jika itu sekadar anak domba yang kesal, kita berani saja melawan. Kalau banteng dewasa, lebih baik menghindar. Jika mungkin, kabur.

Bagaimana jika salah perhitungan? Bayangkan saja harus bertarung melawan banteng dan kita mati konyol. Atau bayangkan lari tunggang-langgang dikejar anak domba. Jika tak jadi bahan tertawaan, setidaknya kita membuang-buang energi karena lari.

Baca juga:
Mengarang Dunia

Hal yang sama berlaku pula dalam asmara. Saya jadi ingat salah satu film kegemaran zaman dahulu, Pretty Woman. Itu kisah tentang penjaja seks Hollywood yang disewa seorang pebisnis untuk menemaninya. Diam-diam si perempuan jatuh cinta kepada sang pebisnis. Maju atau mundur?

Ia harus berhitung, tentu saja. Siapa dirinya? Siapa lelaki itu? Apakah mereka ”layak” satu sama lain? Dalam perhitungan Vivian Ward, si perempuan, kondisi mereka tak seimbang. Secara alamiah, ia memilih mundur meskipun akhir cerita berkata lain.

Memutuskan kapan maju dan kapan mundur dalam urusan asmara, atau kapan melawan dan kapan kabur dalam urusan menghadapi ancaman, sangat berdasar pada pengetahuan. Vivian Ward memutuskan mundur karena saat itu ia tak tahu bahwa Edward Lewis juga menyukainya. Kita memilih tak melawan harimau, tentu karena kita tahu kecil kemungkinan menang bertarung dengannya.

Tanpa pengetahuan yang mumpuni, kita bisa salah mengambil tindakan. Hasilnya adalah tragedi, jika apes, seperti mencoba berkelahi dengan panda yang ternyata kalau menggigit, binatang tersebut memiliki rahang sekuat beruang. Hasilnya bisa komedi, kalau salah perhitungan dan hanya menghasilkan kekonyolan, seperti lari dikejar tikus malah kecebur got.

Pernah seseorang bertanya, film vampir kesukaan saya apa? Saya jawab, salah satunya 30 Days of Night. Film tersebut persis mempermainkan kombinasi antara melawan atau lari serta tahu dan tidak tahu.

Saya tahu, tanpa harus pernah ke sana, puncak musim dingin di satu kota Alaska yang dekat dengan kutub berarti malam yang panjang, 30 hari. Pada saat yang sama, saya juga tahu (meskipun ini merupakan pengetahuan formula fiksi) bahwa vampir sangat senang hidup dan kuat tanpa cahaya matahari.

Karena pengetahuan semacam itulah, jika berada di kota dekat kutub ada vampir, saya akan memilih kabur mendekati puncak musim dingin. Masalahnya, beberapa penduduk kota itu tak tahu mereka akan hidup bersama vampir. Itulah yang membuat film tersebut menarik bagi saya, bagaimana mereka terpaksa melawan alih-alih seharusnya kabur.

Dalam kehidupan nyata, sadar atau tidak, kita juga menghadapinya. Selepas sekolah menengah, apakah kita akan pergi menghadapi tes masuk universitas atau tidak? Kita memutuskannya berdasar pengetahuan tentang kemampuan diri, baik akademik maupun finansial, atau lainnya.

Ditodong pisau di pinggir jalan yang sepi? Saya pernah mengalaminya. Saya putuskan memberikan uang yang saya punya karena tahu tak akan menang melawan si penodong, yang bahkan tak sendirian.

Baik di dalam cerita maupun di dunia nyata, hidup memang perkara melawan atau kabur. Perkara mencoba sesuatu yang baru atau berhenti di sesuatu yang sudah pasti. Secara alamiah, binatang pun melakukannya. Bahkan tumbuhan.

Perkembangan pengetahuan memungkinkan kita menaklukkan ketakutan, juga tantangan, dan mara bahaya. Petugas kebun binatang atau taman nasional memiliki pengetahuan untuk menghadapi harimau sehingga mereka tak perlu lari. Kita berani terbang dengan pesawat beribu-ribu kaki karena pengetahuan manusia akan aerodinamika.

Di tengah krisis energi, mana yang akan kita pilih? Balik badan dan kembali pakai tenaga kuda dan otot lengan, mencoba memakai nuklir, atau membuka lahan jutaan hektare untuk menghamparkan panel surya?

Dalam cerita horor, dalam peperangan, dalam bisnis, dalam beragam krisis, dan dalam percintaan, kita membutuhkan pengetahuan untuk maju melawan atau mundur menghindar. Tanpa pengetahuan, kita seperti melempar dadu, lalu menunggu apakah hidup kita perayaan atau banyolan. (*)

EKA KURNIAWAN, Penulis dan novelis, nomine The Man Booker International Prize 2016

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads