alexametrics

Nevermind, Ia yang Bersama Kita Tahun 1991

Oleh EKA KURNIAWAN*
25 September 2021, 15:00:16 WIB

Di tahun ketika Iraq dihajar pasukan koalisi agar keluar dari Kuwait, di tahun ketika akhirnya Uni Soviet bubar dan bekas pecahan Yugoslavia mulai rusuh, saya rasa soundtrack terbaik untuk masa semacam itu memang datang bersamaan: Nevermind dari Nirvana.

DI SEPERTIGA akhir tahun 1991, saya masih bocah 16 tahun. Di tas sekolah atau di saku celana, sering kali membawa satu atau beberapa album musik dalam bentuk kaset untuk didengarkan bersama kawan.

Melihat dunia dengan agak bosan. Coba-coba memakai kata-kata kotor semacam ”bajingan”, ”fuck you”, ”anjing”, dan terdengar asyik. Merasa bodoh, tapi juga merasa berhak untuk senang. Tidak punya duit, tapi merasa masa depan cerah. Dengan mudah jatuh cinta kepada Smells Like Teen Spirit dan menjadikannya sejenis lagu kebangsaan.

Hal paling berengsek dari album Nevermind, ia terasa bisa didengarkan di pemutar musik abal-abal. Setidaknya begitu menurut saya dan kawan-kawan sepermainan masa itu. Semakin rombeng suaranya, kok riff gitar dan suara Kurt Cobain semakin asyik didengar.

Bahkan dengan mudah saya memaafkan jika suara bas yang dimainkan Krist Novoselic tidak terdengar bergema. Drum yang dipukul Dave Grohl tak berdentum-dentum.

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads