alexametrics

Bahasa yang Bergerak Memunggungi Laut

Oleh FARIZ ALNIZAR*
25 September 2021, 16:04:04 WIB

”Kita telah lama memunggungi samudra, laut, selat, dan teluk. Maka, mulai hari ini, kita kembalikan kejayaan nenek moyang sebagai pelaut pemberani. Menghadapi badai dan gelombang di atas kapal bernama Republik Indonesia.”

KALIMAT panjang ini saya comot dari pidato pertama Presiden Joko Widodo setelah dilantik sebagai presiden untuk periode 2014–2019.

Selain memiliki daya kejut karena ”orisinalitas gagasan” yang ditawarkan, kalimat ini sebetulnya menawarkan cara pandang dan paradigma baru dalam membangun negeri ini. Jujur saja, saya termasuk orang yang berhasil terhipnosis dengan kalimat bertenaga itu, sebelum akhirnya saya memeriksa keadaan dan menemukan bahwa hingga kiwari kita tidak pernah benar-benar berhasil untuk beranjak dari posisi memunggungi laut. Setidaknya ini yang saya temukan dalam persoalan renik-renik berbahasa.

Sudah banyak kajian yang menyatakan bahwa bahasa memiliki kelindan erat dengan kebudayaan. Bukan dari kalangan linguis semata, antropolog prolifik seperti Koentjaraningrat juga mengatakan demikian. Baginya, hubungan bahasa dan kebudayaan bersifat subordinatif. Ringkasnya, bahasa dilahirkan dari kebudayaan atau minimal dipengaruhi oleh kebudayaan. Atas dasar argumen ini, sah bagi kita memeriksa keadaan saat ini dengan meneroka bahasa yang kita gunakan. Dengan begitu, kita bisa mengukur apakah kita sudah benar-benar beranjak atau justru tetap istiqamah dalam gerakan memunggungi laut.

Kita tahu bahwa masyarakat Nusantara oleh banyak penelitian dilukiskan memiliki kesantunan, keramahan, kejujuran, kosmopolit, terbuka, multikultural, dan bukan saja toleran, namun satu tingkat di atas toleran, yakni menerima orang lain sebagai bagian dari dirinya. Istilah yang pas adalah akseptan (istilah ini belum tercatat di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia). Kapal-kapal dagang asing yang singgah di bandar-bandar besar di kawasan Jawa dan Sumatera berinteraksi dengan penuh kehangatan dengan penduduk setempat. Terdapat interaksi yang komunikatif dengan menggunakan bahasa pergaulan. Bahasa pergaulan yang digunakan bersifat terbuka dan kosmopolit –dalam arti dipengaruhi dan memengaruhi. Singkatnya, bahasa itulah yang disebut sebagai bahasa yang berwatak ”maritim”.

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:

Close Ads