alexametrics

Santri, Seni, dan Pesantren

Oleh ARIS SETIAWAN*
24 Oktober 2021, 09:17:43 WIB

Beberapa waktu lalu sempat viral soal kejadian sejumlah santri terlihat menutup telinga saat mendengar musik di lokasi vaksinasi Covid-19. Perdebatan muncul di tengah-tengah masyarakat, bahkan tidak sedikit yang mengecapnya radikal.

HUBUNGAN pesantren dan kesenian sering kali bersifat paradoks dan ambivalen. Di satu pihak, kesenian didukung dan dijalankan sebagai ekspresi keseharian yang absah. Terutama setelah seni dipahami bukan semata dari makna sisi estetiknya, tetapi sebagai bagian dari ekspresi keagamaan. Di pihak lain, seni dilawan dan dihukum. Terutama jika seni dianggap sebagai suatu kegiatan dan ekspresi yang menandingi dan bahkan melawan nilai agama yang diyakini.

Lebih jauh, bagaimana suatu seni distandardisasi berdasar nilai keagamaan? Bagaimana suatu seni ditolak dan diterima di kalangan komunitas keagamaan, terutama kiai, para santri, dan kehidupan di dalam pesantren? Hairus Salim dalam penelitiannya mencoba mencari hubungan tersebut melalui pembacaan terhadap suatu bagian dari otobiografi Kiai Saifuddin Zuhri (menteri agama di era demokrasi terpimpin di bawah Presiden Soekarno [1962–1966] dan menteri agama pada Kabinet Ampera di bawah Presiden Soeharto [1967]) lewat tulisan berjudul ”Pertemuan Wayang dan Pesantren: Pandangan Seorang Santri terhadap Kesenian” dalam buku Guruku Orang-Orang dari Pesantren (1974). Buku itu diterbitkan lagi oleh penerbit LKiS di tahun 2012.

Jejak

Di bagian belakang sampul buku, terdapat komentar sejarawan dan budayawan Kuntowijoyo yang menyebut bahwa buku itu sangat berharga untuk mengetahui informasi tentang bagaimana santri akrab dengan wayang (dan gamelan). Komentar itu cukup menarik karena ada penegasian yang jelas tentang keakraban santri dengan kesenian. Pernyataan itu juga dapat dibaca dalam sudut yang berbeda. Pertama, adanya keakraban antara santri dan seni tradisional Jawa dalam dunia pesantren dianggap sebagai sesuatu yang tidak biasa atau berjarak dengan kehidupan masyarakat umum. Dengan kata lain, wayang dan gamelan adalah wilayah yang dianggap ”milik publik”, bukan milik santri di pesantren. Kedua, adanya pernyataan kedekatan antara santri dan seni tradisi Jawa menunjukkan bahwa kuasa pesantren tradisional tidak hanya terbentuk dalam dominasi religiusitas berupa dogma-dogma keagamaan yang saklek, tetapi terlihat lentur dan akulturatif.

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:

Close Ads