alexametrics

Wajah yang Terperangkap di Rumah Cermin

Oleh EKA KURNIAWAN*
24 Juli 2021, 16:01:42 WIB

Apa jadinya jika seorang perempuan paro baya memperoleh telegram yang datang telat, sebulan setelah dikirim, dan telegram itu mengabarkan kematian anak lelaki satu-satunya?

SITUASI itulah yang kita hadapi ketika membaca cerpen Iwan Simatupang, ”Prasarana, Apa Itu, Anakku?” Cerpen tersebut terdapat dalam kumpulan cerpennya yang penting, Tegak Lurus dengan Langit (1982).

Kita bisa membayangkan kesedihannya, memaklumi jika ia harus mengutuki waktu sebulan yang lenyap. Bisa mendengarnya bertanya-tanya, kenapa ia tak memperoleh kesempatan, setidaknya melihat anaknya dikuburkan? Kita juga bisa mengerti, jika ia menuntut, seharusnya ini tak terjadi.

Betul. Ini bukan perkara peristiwa gaib yang tak jelas sebab akibatnya. Urusan telegram yang datang terlambat adalah urusan manusia. Di belakangnya ada orang-orang yang seharusnya membuat telegram datang secepat mungkin, tapi gagal melakukannya.

Khas sebagian cerpen-cerpen Iwan Simatupang di buku ini, yang demikian pendek sehingga hanya menampung satu kejadian. Peristiwa sederhana yang lebih semacam anekdot daripada ”cerita”. Tapi, anekdot-anekdotnya merupakan titik simpul dari keruwetan dan keberengsekan dunia luas yang terasa bengis.

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads